Menu

Mode Gelap
Senator Wilhelmus Pigai Dorong Percepatan Pembangunan RSUD Papua Tengah Warga Dekai Pertahankan Fasilitas Kesehatan Yang Hampir Dibakar OTK DPD RI Tegaskan Ketimpangan Kebijakan Pertanahan, Mendesak Reforma Agraria Lebih Cepat Mendikdasmen dan BNN Perkuat Pendidikan Karakter Lewat Integrasi Kurikulum Anti Narkoba DPD RI Tegaskan Keseriusan Politik dan Kelembagaan Kawal Isu HAM di Papua Menko Polkam dan DPD RI Tegaskan Sinergi Pusat–Daerah untuk Kebijakan yang Lebih Efektif

News

Lebih Berbahaya dari KKB, Polisi Ungkap Kemunculan Kelompok Kriminal Politik di Papua

adminbadge-check


					Lebih Berbahaya dari KKB, Polisi Ungkap Kemunculan Kelompok Kriminal Politik di Papua Perbesar

JAYAPURA – Kepolisian mengungkap kemunculan kelompok baru yang dinilai lebih mengancam stabilitas di Papua. Kelompok tersebut bukan bersenjata, melainkan bergerak di ranah ideologi dan politik. Mereka disebut sebagai Kelompok Kriminal Politik (KKP).

Wakapolda Papua yang juga Kepala Operasi Satgas Damai Cartenz, Brigjen Faizal Ramadhani, menegaskan bahwa KKP menyebarkan paham separatisme Papua merdeka melalui propaganda intelektual dan wacana politik. Meski tidak menggunakan senjata api seperti Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), dampak yang ditimbulkan KKP disebut bisa jauh lebih berbahaya.

“Kalau ini tidak ditangani secara serius, mereka bisa menumbuhkan simpati baru dari berbagai kalangan, termasuk yang awalnya netral. Dan itu jauh lebih berbahaya,” kata Faizal, dikutip dari detikSulsel, Jumat (18/7/2025).

Menurutnya, KKP menyasar ruang-ruang kesadaran publik, terutama di kalangan intelektual muda, mahasiswa, dan masyarakat sipil yang kecewa dengan situasi sosial dan politik. Mereka menggunakan narasi-narasi ideologis dan sejarah Papua untuk membangun opini yang memicu disintegrasi.

“Kalau KKB menyerang dengan senjata, maka KKP menyerang lewat pemikiran dan wacana politik,” jelasnya.

Faizal menambahkan, pendekatan keamanan semata tak cukup untuk menangani dinamika konflik di Papua. Diperlukan paradigma baru yang mencakup aspek sosial, ekonomi, budaya, dan ideologi.

“Permasalahan Papua tidak hanya soal senjata. Ada ketimpangan pembangunan, luka sejarah, dan keterbatasan akses. Maka penyelesaiannya harus komprehensif, tidak bisa parsial,” ujarnya.

Pernyataan ini menandakan perlunya strategi yang lebih holistik dan berkelanjutan dalam menjaga stabilitas di Bumi Cenderawasih, terutama menghadapi ancaman non-fisik yang kini mulai menguat.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ketua Umum PGGPT Dorong Rekonsiliasi Konflik Dua Kelompok Warga di Kapiraya, Soroti Dampak Pendulangan Emas

17 Februari 2026 - 14:52 WIB

Img 20260217 wa0033

Miras Lokal Masih Saja Ditemukan di Pelabuhan, Puluhan Liter Disita Polisi

17 Februari 2026 - 14:46 WIB

Img 20260217 wa0003

Pascapenyerangan di Mile Point 50, Polisi Lakukan Olah TKP

17 Februari 2026 - 14:42 WIB

Img 20260217 wa0001

Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026 

17 Februari 2026 - 14:36 WIB

Img 20260217 wa0026

HUT ke-3 PGGPT, Gereja Didorong Jadi Mitra Strategis Pembangunan Papua Tengah

17 Februari 2026 - 13:29 WIB

Img 20260217 wa0024
Trending di Headline