Menu

Mode Gelap
Teladan Kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono IX Anggota DPD RI Wilhelmus Pigai Salurkan Bantuan Hewan Kurban pada Hari Raya Idul Adha 1447 H untuk Masjid Al-Fattah Bupati Deiyai Ajak Semua Pihak Mengikuti Jumat Bersih di Pasar Waghete Wabup Nabire Apresiasi Peran PKBN, Sebut Kontribusi Etnis Batak Sangat Besar PKBN Nabire Kukuhkan Kepengurusan Baru, Tegaskan Komitmen Jaga Kerukunan di Daerah Mayat Pria Ditemukan di Belakang Grapari Timika, Polisi Dalami Kasus dan Kejar Pelaku

News

Lebih Berbahaya dari KKB, Polisi Ungkap Kemunculan Kelompok Kriminal Politik di Papua

adminbadge-check


					Lebih Berbahaya dari KKB, Polisi Ungkap Kemunculan Kelompok Kriminal Politik di Papua Perbesar

JAYAPURA – Kepolisian mengungkap kemunculan kelompok baru yang dinilai lebih mengancam stabilitas di Papua. Kelompok tersebut bukan bersenjata, melainkan bergerak di ranah ideologi dan politik. Mereka disebut sebagai Kelompok Kriminal Politik (KKP).

Wakapolda Papua yang juga Kepala Operasi Satgas Damai Cartenz, Brigjen Faizal Ramadhani, menegaskan bahwa KKP menyebarkan paham separatisme Papua merdeka melalui propaganda intelektual dan wacana politik. Meski tidak menggunakan senjata api seperti Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), dampak yang ditimbulkan KKP disebut bisa jauh lebih berbahaya.

“Kalau ini tidak ditangani secara serius, mereka bisa menumbuhkan simpati baru dari berbagai kalangan, termasuk yang awalnya netral. Dan itu jauh lebih berbahaya,” kata Faizal, dikutip dari detikSulsel, Jumat (18/7/2025).

Menurutnya, KKP menyasar ruang-ruang kesadaran publik, terutama di kalangan intelektual muda, mahasiswa, dan masyarakat sipil yang kecewa dengan situasi sosial dan politik. Mereka menggunakan narasi-narasi ideologis dan sejarah Papua untuk membangun opini yang memicu disintegrasi.

“Kalau KKB menyerang dengan senjata, maka KKP menyerang lewat pemikiran dan wacana politik,” jelasnya.

Faizal menambahkan, pendekatan keamanan semata tak cukup untuk menangani dinamika konflik di Papua. Diperlukan paradigma baru yang mencakup aspek sosial, ekonomi, budaya, dan ideologi.

“Permasalahan Papua tidak hanya soal senjata. Ada ketimpangan pembangunan, luka sejarah, dan keterbatasan akses. Maka penyelesaiannya harus komprehensif, tidak bisa parsial,” ujarnya.

Pernyataan ini menandakan perlunya strategi yang lebih holistik dan berkelanjutan dalam menjaga stabilitas di Bumi Cenderawasih, terutama menghadapi ancaman non-fisik yang kini mulai menguat.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Satpol PP Mimika Tertibkan Jalan Hasanudin: Parkir Sembarangan, Trotoar, hingga Pengelolaan Sampah Bengkel Jadi Perhatian

10 Juni 2026 - 01:49 WIB

Screenshot 20260610 102414 Gallery

Satpol PP Mimika Sosialisasi Penertiban Lapak: Pedagang Diminta Mundur 2 Meter dari Jalan, Banyak yang Patuh Bongkar Sendiri

10 Juni 2026 - 01:09 WIB

Screenshot 20260610 095748 Gallery

Seleksi Calon Pimpinan BAZNAS Papua 2026-2031 Masuki Tahap Wawancara Faktual

9 Juni 2026 - 14:44 WIB

IMG 20260609 WA0042

Gerak Cepat Polisi Tangkap Pelaku Curas yang Pukul dan Banting Wanita di Timika

9 Juni 2026 - 14:34 WIB

IMG 20260609 WA0107

Ditinggal Beli Makan Motor Matic Digasak Maling, Pelaku Ditangkap Usai Aksi Kejar-Kejaran Dengan Korban

9 Juni 2026 - 14:28 WIB

IMG 20260609 WA0087
Trending di Headline