NABIRE – Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Deiyai, Aleks Pigai, M.Pd., mendorong masyarakat di Kabupaten Deiyai untuk mengembangkan tanaman kopi di setiap kampung sebagai salah satu sumber pendapatan keluarga. Ia menilai kopi memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan karena cocok dengan kondisi wilayah Deiyai dan memiliki pasar yang luas.
Hal tersebut disampaikan Aleks Pigai kepada wartawan di sela-sela Festival Kopi Papua Tengah 2026 yang berlangsung di Aula KSK, Nabire, Kamis (29/10/2026).
Menurut Aleks, festival yang digagas Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Dinas Perkebunan tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk melihat peluang pengembangan kopi sebagai komoditas perkebunan yang dapat menopang perekonomian keluarga.
Ia menjelaskan, kopi saat ini tidak hanya dikonsumsi di satu atau dua negara, tetapi telah menjadi komoditas yang dinikmati masyarakat di berbagai belahan dunia. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang pemasaran bagi petani kopi di Deiyai.
Aleks menyebutkan, harga kopi yang dipasarkan dapat mencapai Rp100.000 hingga Rp150.000 per kilogram. Dengan harga tersebut, hasil penjualan kopi berpotensi memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga petani.
“Bayangkan kalau sepuluh kilo mau jual Rp100.000, berarti sudah Rp1 juta,” ujarnya, menggambarkan potensi pendapatan dari penjualan kopi.
Karena itu, ia berharap masyarakat Deiyai semakin terdorong untuk menanam dan merawat kopi secara berkelanjutan, sehingga potensi perkebunan yang dimiliki daerah tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Deiyai Perkenalkan Kopi dan Teh
Selain kopi, Aleks mengatakan Kabupaten Deiyai juga memperkenalkan teh dalam Festival Kopi Papua Tengah. Menurutnya, teh merupakan komoditas lain yang berpotensi dikembangkan di wilayah tersebut.
Ia menyampaikan bahwa tanaman teh tumbuh subur di lokasi yang mereka kelola dan diharapkan dapat menjadi komoditas tambahan bagi masyarakat selain kopi.
Dalam festival tersebut, kopi dan teh asal Deiyai mendapat respons pasar. Aleks mengatakan produk kopi yang dibawa untuk dipasarkan habis terjual, bahkan terdapat permintaan tambahan dari pembeli.
“Yang kami jual itu laku, tidak ada tersisa, malah ada yang tambah pesan kopi asal Deiyai,” katanya.
Ia menilai respons tersebut menunjukkan adanya peluang pemasaran bagi produk kopi Deiyai. Namun, menurutnya, keberlanjutan peluang itu juga bergantung pada kemauan masyarakat untuk merawat tanaman dan meningkatkan produksi.
Aleks berharap masyarakat dapat memanfaatkan kesempatan tersebut dengan mengembangkan kebun kopi di kampung masing-masing, sehingga produksi kopi lokal semakin meningkat dan mampu memenuhi permintaan pasar.
Dinas Pertanian Siap Bantu Akses Pemasaran
Aleks juga menyoroti pentingnya dukungan pemasaran bagi petani setelah memasuki masa panen. Menurutnya, petani tidak cukup hanya mampu menghasilkan kopi, tetapi juga perlu mendapatkan akses kepada pembeli agar hasil perkebunan dapat memberikan pendapatan.
Ia meminta petani Deiyai yang sudah memanen dan mengeringkan kopi, tetapi masih mengalami kesulitan menemukan tempat pemasaran, agar melaporkan kendala tersebut kepada Dinas Pertanian Kabupaten Deiyai.
“Kembali ke masyarakat. Apakah masyarakat menyambut hal positif ini atau tidak. Jadi dengan adanya kegiatan seperti ini, potensi daerah bisa berkembang,” ujarnya.
Aleks mengatakan, pihaknya akan berupaya memberikan solusi atau mengarahkan petani kepada calon pembeli apabila mereka mengalami kesulitan memasarkan hasil panen.
Ia menambahkan, saat ini sudah ada permintaan terhadap kopi Deiyai yang telah dikeringkan. Karena itu, koordinasi antara petani dan dinas diharapkan dapat membantu mempertemukan hasil produksi dengan kebutuhan pasar.
Menurut Pigai, penyelenggaraan Festival Kopi Papua Tengah dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan produk unggulan daerah, sekaligus membuka peluang usaha bagi petani dan pelaku perkebunan.
Ia berharap momentum tersebut tidak berhenti pada kegiatan festival, tetapi berlanjut dengan pengembangan kebun, peningkatan produksi, serta pemasaran kopi dan teh secara berkelanjutan.
Dengan dukungan masyarakat, pemerintah, dan jaringan pembeli, potensi kopi dan teh Deiyai diharapkan dapat berkembang menjadi sumber pendapatan yang membantu memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat setempat. (MB)








