TIMIKA — Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah untuk pertama kalinya menggelar pemilihan Duta Baca Kabupaten Mimika. Ajang ini menjadi langkah awal pemerintah daerah untuk melahirkan generasi muda yang tidak hanya gemar membaca, tetapi juga mampu menjadi penggerak budaya literasi di tengah masyarakat.
Mewakili Pemerintah Kabupaten Mimika, Staf Ahli Bupati Mimika, Fransiskus Bokeyau, mengatakan pemilihan Duta Baca bukan sekadar ajang mencari generasi muda yang memiliki kemampuan dan wawasan luas.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk menumbuhkan kepedulian anak muda terhadap literasi, perpustakaan, pendidikan, serta kemajuan masyarakat Mimika.
“Duta Baca bukan sekadar sebuah predikat atau gelar, tetapi merupakan representasi generasi muda yang diharapkan mampu menjadi teladan, penggerak, dan inspirasi bagi masyarakat dalam membangun budaya gemar membaca,” kata Fransiskus.
Ia berharap para Duta Baca yang nantinya terpilih dapat menjalankan peran tersebut dengan penuh tanggung jawab dan memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan minat baca, khususnya di kalangan generasi muda Kabupaten Mimika.
Fransiskus juga mendorong agar keberadaan Duta Baca tidak berhenti pada seremoni pemilihan. Para duta diharapkan aktif mengajak generasi muda memanfaatkan perpustakaan sebagai ruang belajar, berdiskusi, dan mengembangkan pengetahuan.
“Budaya membaca tidak boleh hanya menjadi kebiasaan, tetapi harus terus tumbuh menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dalam konteks inilah, keberadaan Duta Baca memiliki peran yang sangat penting,” ujarnya.
Diikuti 30 Peserta
Ketua Panitia Pemilihan Duta Baca Kabupaten Mimika, Anton Tangkelayuk, menjelaskan proses seleksi telah dimulai sejak Agustus 2026. Sebanyak 30 peserta dari kalangan pelajar SMA/SMK dan mahasiswa mengikuti tahapan seleksi.
Dari seluruh perguruan tinggi yang ada di Mimika, kata Anton, baru STKIP Hermon yang turut mengirimkan peserta dalam ajang perdana tersebut.
Pada tahap awal, setiap sekolah diminta mengutus dua peserta. Selanjutnya, para peserta mengikuti serangkaian tahapan seleksi hingga ditetapkan 30 orang yang berhak melanjutkan ke tahapan berikutnya.
Menariknya, para peserta tidak hanya diuji dari sisi pengetahuan dan kemampuan berbicara. Mereka juga ditantang menuangkan gagasan mengenai masa depan literasi di Mimika.
Setiap peserta diwajibkan membuat video dengan tema peningkatan literasi di Kabupaten Mimika. Selain itu, mereka juga harus menyusun esai mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung kemajuan literasi.
Memasuki babak final, peserta akan mempresentasikan video dan esai yang telah melalui proses kurasi. Kemampuan peserta kemudian akan dinilai oleh tiga orang juri yang memiliki kompetensi di bidang masing-masing.
Ketiga juri tersebut berasal dari perwakilan Dinas Pendidikan, Protokoler Pemerintah Kabupaten Mimika, serta pustakawan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Pemilihan Duta Baca ini diharapkan menjadi awal dari gerakan literasi yang lebih luas di Mimika, sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk mengambil peran dalam membangun masyarakat yang lebih berpengetahuan melalui budaya membaca. (Cr2)






