Jayapura – Enam tahun bukanlah perjalanan yang singkat bagi sebuah gerakan anak muda. Berawal dari ruang-ruang kecil diskusi, kegiatan membaca sederhana, hingga pendampingan literasi di berbagai komunitas, Komunitas Teras Literasi Mahasiswa Papua (KORASLIMA) akhirnya mencatatkan salah satu tonggak penting dalam sejarah perjalanannya melalui penyelenggaraan Papua Genius League (PGL), sebuah ajang Lomba Cerdas Cermat Antar SMP Se-Kota dan Kabupaten Jayapura.
Kegiatan yang terlaksana atas kolaborasi KORASLIMA bersama PT GPS dan Telkomsel ini mempertemukan 108 pelajar dari berbagai sekolah di Kota dan Kabupaten Jayapura. Bagi banyak orang, Papua Genius League mungkin hanya sebuah kompetisi akademik. Namun bagi KORASLIMA, kegiatan ini merupakan buah dari proses panjang membangun budaya literasi dan pendidikan di Tanah Papua.
Founder KORASLIMA Papua, Mecky Tebai, S.Pd, mengatakan bahwa Papua Genius League adalah mimpi yang perlahan diwujudkan melalui kerja-kerja kecil yang konsisten selama bertahun-tahun.
“Selama lima tahun kami mendidik anak-anak muda melalui gerakan literasi, membangun ruang belajar, berdiskusi, membaca, dan mendampingi mereka. Di tahun keenam ini, kami bersyukur akhirnya dapat melaksanakan kegiatan besar yang melibatkan pelajar SMP dari seluruh Kota dan Kabupaten Jayapura melalui Papua Genius League,” ujarnya.
Menurut Mecky, pembangunan pendidikan tidak dapat hanya mengandalkan program-program formal semata. Diperlukan gerakan sosial yang mampu menyalakan semangat belajar di kalangan generasi muda.
Ia menegaskan bahwa kekuatan utama gerakan literasi sesungguhnya terletak pada anak-anak muda yang mau bergerak dan menciptakan perubahan di lingkungannya.
“Roh pergerakan literasi itu ada di anak-anak muda. Sekali kita nyalakan api itu, maka wajib kita jaga agar jangan sampai mati. Sebab perubahan besar selalu lahir dari semangat kecil yang dirawat dengan konsisten,”kata Mecky.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya investasi terhadap kecerdasan dan budaya baca generasi muda Papua. Menurutnya, tantangan terbesar yang dihadapi saat ini bukan hanya soal akses pendidikan, tetapi juga bagaimana membangun kecintaan terhadap pengetahuan.
“Generasi yang kekurangan literasi wajib kita beri gizi literasi. Kita harus memberi mereka buku, ruang belajar, diskusi, pendampingan, dan kesempatan untuk bertumbuh. Karena masa depan Papua akan ditentukan oleh seberapa kuat generasi mudanya membaca, berpikir, dan bertindak,” lanjutnya.
Bagi KORASLIMA, Papua Genius League bukan sekadar lomba cerdas cermat. Kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan yang lebih besar untuk membangun ekosistem pendidikan yang sehat di Papua. Melalui kompetisi ini, para pelajar didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memperluas wawasan, serta membangun kepercayaan diri dalam menghadapi masa depan.
Di tengah berbagai tantangan pendidikan yang masih dihadapi Papua, kehadiran Papua Genius League menjadi simbol bahwa harapan masih terus menyala dari Tanah Tabi. Harapan yang dibangun oleh kolaborasi antara komunitas, dunia usaha, pemerintah, guru, dan para pelajar yang percaya bahwa pendidikan adalah jalan perubahan.
Bagi Mecky Tebai, perjalanan KORASLIMA masih jauh dari selesai. Papua Genius League hanyalah satu langkah kecil dari cita-cita yang lebih besar, yaitu melahirkan generasi Papua yang cerdas, kritis, berkarakter, dan mampu menjadi tuan di negerinya sendiri.
“Dari ruang baca yang sederhana hingga aula yang dipenuhi ratusan pelajar hari ini, kami belajar bahwa perubahan memang membutuhkan waktu. Tetapi selama api literasi terus dijaga, harapan itu akan selalu hidup. Dan dari Tanah Tabi, harapan itu sedang kami nyalakan bersama,” tutupnya.(MB)







