NABIRE – Forum Pegiat Literasi Papua Tengah bersama Noken Buku Club, kolektif Streo, dan Komoke menggelar kegiatan memperingati Hari Buku Nasional di Komoke Kopi, depan RRI Nabire, Minggu (17/5/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Buku dan Komunitas Literasi di Nabire Papua Tengah” dengan tajuk “Ber-Tubuh Buku” ini menghadirkan berbagai agenda literasi dan ruang kreatif bagi masyarakat, khususnya anak muda dan anak-anak di Kabupaten Nabire.

Beberapa kegiatan yang digelar di antaranya sharing bacaan, kelas merajut, kelas mewarnai, bazar buku, hingga baca nyaring dalam bentuk performance.
Anggota Noken Buku Club, Husnul Chotimah Rahanyamtel, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kolaborasi berbagai komunitas literasi di Papua Tengah untuk kembali menghidupkan budaya membaca di tengah masyarakat.
“Jadi di sini kita kolaborasi teman-teman dari Pegiat Literasi Papua Tengah, Noken Buku, kolektif Streo dan Kafe Komoke juga memperingati Hari Buku Nasional. Karena kita lihat jarang sekali ada kegiatan literasi, jadi di momen ini kita buat kegiatan yang bukan hanya untuk pemuda, tapi juga anak-anak,” ujarnya kepada awak media usai kegiatan.
Menurut Husnul, tujuan utama kegiatan tersebut ialah mengenalkan buku kepada masyarakat sekaligus merangkul para pecinta baca agar terus terlibat dalam gerakan literasi di Papua Tengah, khususnya Nabire.

Ia menilai budaya membaca di Papua masih perlu terus didorong karena tingkat minat baca masyarakat dinilai masih rendah.
“Mari kita temukan rasa membaca, supaya kesadaran akan membaca itu lebih luas. Bukan hanya untuk kita yang sudah dewasa, tetapi juga adik-adik kecil, karena membaca itu menambah pengetahuan dan wawasan,” katanya.
Husnul juga menyampaikan bahwa komunitas Noken Buku selama ini rutin melakukan donasi buku kepada anak-anak serta menyediakan buku gratis di dalam noken yang dapat dibaca masyarakat di ruang-ruang publik.
“Setiap satu noken buku di situ menyediakan buku-buku gratis, jadi teman-teman yang lewat bisa mampir membaca satu dua halaman. Jadi kita normalisasi membaca di jalan atau di tempat nongkrong teman-teman,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Forum Pegiat Literasi Papua Tengah, Meki Tebai atau yang akrab disapa Bung Mecky, menyampaikan tiga poin penting sebagai kesimpulan dari diskusi Hari Buku Nasional tersebut.
Pertama, literasi masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Kedua, buku fisik dan digital kini semakin berdampingan dalam kehidupan masyarakat. Ketiga, buku harus menjadi alat untuk membangun cara berpikir kritis.
Menurutnya, semangat Hari Buku Nasional juga tidak terlepas dari semangat tokoh-tokoh pemikir kritis seperti Soe Hok Gie yang menjadikan buku sebagai medium untuk memahami persoalan sosial dan menyuarakan gagasan.
“Baca buku bukan cuma buat hiburan, tapi buat mengasah cara berpikir, bertanya, dan ikut berbicara tentang isu sosial,” ungkap Bung Mecky.
Ia berharap kegiatan literasi seperti ini tidak berhenti hanya pada momentum peringatan Hari Buku Nasional, melainkan dapat terus berlanjut melalui program dan kolaborasi komunitas di masa mendatang.
“Kami berharap ada rekomendasi dan tindak lanjut supaya gerakan literasi di Papua Tengah terus hidup dan berkembang,” tutupnya. (MB)









