Sentani, Kemenag — Hilal 1 Zulhijjah di Papua tidak terlihat akibat kondisi cuaca berawan dan adanya penghalang di lokasi pengamatan.
Pemantauan hilal penetapan 1 Zulhijjah 1447 Hijriah ini dilaksanakan Tim Rukyatul Hilal Provinsi Papua bersama Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah V Jayapura di Bukit Hele’yo Yobeh, Sentani,Kabupaten Jayapura, Minggu (17/05/2026). Bukit Hele’yo Yobeh, Sentani, menjadi salah satu dari 88 titik pemantauan hilal di seluruh Indonesia.
Ketua Tim Rukyatul Hilal Provinsi Papua, Hendra Yulia Rahman, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil hisab, posisi hilal sebenarnya sudah berada di atas ufuk dan telah memenuhi kriteria imkanur rukyat.
“Hilal tidak terlihat meskipun sudah berada di atas ufuk. Tinggi hilal sekitar 4,3 derajat dan elongasinya sudah mencapai sekitar 6,4 derajat,” jelasnya.
Ia menambahkan, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan hilal tidak berhasil diamati pada sore hari tersebut.
“Ada beberapa sebab, yang pertama kondisi cuaca berawan. Yang kedua adanya obstacle atau penghalang berupa bukit maupun hutan di arah fokus pengamatan,” ujarnya.
Sebelum itu dalam keterangannya, Ketua Tim Rukyatul Hilal menyampaikan bahwa secara astronomis posisi hilal di Indonesia, mulai dari Merauke hingga Aceh, telah berada di atas kriteria imkan rukyat. Ia juga berharap hilal dapat terlihat di Papua sebagaimana pengamatan sebelumnya yang sempat mencatat keberhasilan pengamatan di titik pantau yanh sama.
“Kita berharap hilal dapat terlihat karena sebelumnya sudah beberapa kali terlihat di Papua, di sini. Kalau hari ini bisa terlihat, mungkin menjadi catatan tersendiri bagi pengamatan hilal di Indonesia,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang tetap mendukung pelaksanaan rukyatul hilal meskipun dilaksanakan pada hari libur.
“Kami berterima kasih kepada seluruh tim, termasuk BMKG yang terus memberikan dukungan sehingga kegiatan ini tetap dapat terlaksana,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, perwakilan BBMKG Wilayah V Jayapura, Danang Pamuji D.L.Y., menyampaikan bahwa pengamatan hilal awal Zulhijjah merupakan bagian penting dalam penentuan waktu ibadah umat Islam, khususnya terkait pelaksanaan ibadah haji dan Hari Raya Iduladha.
“Walaupun hari libur dan long weekend, kita tetap bekerja untuk umat. Bulan Zulhijjah merupakan bulan penting bagi umat Muslim karena berkaitan dengan pelaksanaan ibadah haji,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Papua Klemens Taran dalam sambutannya yang dibacakan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jayapura, Steven Alexander Wonmaly, menyampaikan bahwa rukyatul hilal merupakan perpaduan antara syariat Islam dan perkembangan ilmu pengetahuan modern.
Menurutnya, Provinsi Papua memiliki posisi strategis karena menjadi wilayah paling timur Indonesia yang pertama melakukan pengamatan hilal.
“Papua memiliki peran strategis dalam pengamatan hilal karena menjadi wilayah pertama yang melakukan pengamatan di Indonesia. Oleh karena itu, akurasi dan kesungguhan tim di lapangan sangat menentukan sebagai bahan laporan dalam Sidang Isbat tingkat nasional,” ucapnya.
Ia juga mengapresiasi sinergi antara Kemenag, BMKG, ormas Islam, akademisi, dan seluruh Tim Hisab Rukyat yang terus menjaga kolaborasi dalam pelaksanaan pengamatan hilal.
Selain itu, Kakanwil mengajak seluruh jajaran Kementerian Agama di Papua untuk mulai mempersiapkan pelaksanaan Iduladha, termasuk pelaksanaan salat Iduladha dan distribusi hewan kurban kepada masyarakat.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Tim Hisab Rukyat, media, Kepala Seksi Bimas Islam dan Pendidikan Islam Kementerian Agama Kabupaten Keerom, Edi Abdul Kholiq, Kepala Seksi Urusan Agama Islam Kabupaten Jayapura, Kamal Aswat, Ketua Tim Urais dan Bimsyar Kanwil Kemenag Papua, Aminah, beserta anggota tim. (Red)









