TIMIKA – Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan Asesmen Nasional (AN) tahun 2026 secara resmi dibuka oleh Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Mimika, Ananias Faot, di SD Inpres Koperapoka 1, Senin (20/4/2026).
Dalam sambutannya, Ananias Faot menegaskan bahwa mutu pendidikan merupakan fondasi utama pembangunan daerah. Pelaksanaan TKA yang dimulai hari ini dinilai sebagai langkah strategis Pemerintah Kabupaten Mimika dalam meningkatkan kualitas pendidikan secara berkelanjutan.

Ia menyebut, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan investasi jangka panjang yang akan menentukan wajah Kabupaten Mimika dalam 10 hingga 20 tahun ke depan.
“Perlu kita pahami bersama bahwa TKA ini diselenggarakan bukan sebagai beban tambahan bagi siswa, melainkan sebagai sarana pemetaan kemampuan akademik secara objektif dan riil,” ujarnya.
Ananias menambahkan, pada tahun ajaran ini pemerintah optimistis dan menaruh harapan besar agar rata-rata skor kompetensi daerah dapat mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, khususnya pada aspek literasi dan numerasi.
“Target ini menjadi tantangan bagi kita semua untuk membuktikan bahwa kualitas pendidikan di Mimika terus bergerak naik. Pelaksanaan tes berbasis teknologi ini bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga bentuk komitmen dalam memperkenalkan ekosistem digital kepada anak-anak sejak dini,” jelasnya.
Ia juga berpesan kepada para siswa agar mengerjakan soal dengan tenang dan fokus tanpa tergesa-gesa.
“Tes ini bukan sesuatu yang menakutkan. Anggap sebagai tantangan menyenangkan untuk mengukur sejauh mana penguasaan pelajaran selama enam tahun,” katanya.
Sementara itu, Kepala Seksi Kurikulum pada Dinas Pendidikan Mimika, Simon Roba Patandianan, dalam laporannya menyampaikan bahwa TKA dilaksanakan di sekolah yang memiliki laboratorium komputer. Mata pelajaran yang diujikan meliputi literasi (Bahasa Indonesia) dan numerasi (Matematika).
Sebanyak 4.357 siswa SD dari 118 sekolah di Kabupaten Mimika mengikuti TKA dan AN tahun ini. Jumlah tersebut lebih sedikit dibandingkan total 136 satuan pendidikan dengan jumlah siswa kelas VI sebanyak 4.571 orang.
“Moda ujian yang digunakan adalah berbasis komputer atau Computer Based Test (CBT). Terdapat enam sekolah yang tidak memiliki kelas VI, sementara sebagian lainnya menghadapi kendala seperti faktor keamanan dan keterbatasan jaringan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, sebanyak 12 satuan pendidikan yang mengalami kendala akan dievaluasi, termasuk dari sisi kepemimpinan sekolah. (Cr2)










