TIMIKA — Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBH) Papua Tengah menggelar aksi 1.000 lilin sebagai bentuk solidaritas terhadap aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, yang menjadi korban penyiraman cairan keras pada Kamis malam, 12 Maret 2026.

Aksi tersebut dipusatkan di Bundaran Timika Indah, Kabupaten Mimika, pada Selasa (17/03/2026), dan diikuti oleh berbagai elemen masyarakat.
Andrie Yunus dikenal sebagai penggiat Hak Asasi Manusia (HAM) sekaligus advokat yang aktif mengkritisi isu militerisme, termasuk RUU TNI serta pengajuan judicial review di Mahkamah Konstitusi. Ia juga menjabat sebagai Koordinator Bidang Eksternal KontraS. Hingga kini, pelaku penyiraman belum berhasil ditangkap.

Sebelum pembakaran lilin, Ketua YLBH Papua Tengah, Yosep Temorubun, membacakan sejumlah tuntutan. Ia menilai pemerintah lambat dalam mengungkap identitas pelaku dan menegaskan bahwa tindakan teror terhadap aktivis merupakan pelanggaran HAM serta bentuk pembungkaman kebebasan berekspresi.
“Presiden RI harus turut bertanggung jawab dan mengerahkan seluruh kewenangan untuk menangkap pelaku penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus,” ujar Yosep dalam orasinya.
Ia juga mendesak pemerintah untuk segera membentuk tim pencari fakta guna mengungkap aktor intelektual di balik peristiwa tersebut. Yosep menduga kasus ini tidak berdiri sendiri, melainkan terorganisir dan melibatkan pihak-pihak tertentu.
Selain itu, ia mengkritik kondisi demokrasi dan kebebasan berekspresi di Indonesia yang dinilainya mengalami kemunduran. YLBH Papua Tengah, lanjutnya, menolak segala bentuk praktik otoritarianisme yang berpotensi mengancam kehidupan demokrasi.

Meski demikian, Yosep menegaskan bahwa aksi teror tidak akan menyurutkan perjuangan masyarakat sipil. Ia menyebut, jika keadilan terus ditunda, maka kekecewaan publik dapat berkembang menjadi gelombang perlawanan yang lebih besar.

Aksi 1.000 lilin berlangsung tertib di bawah pengawasan aparat TNI dan Polri. Nyala lilin yang dibawa para peserta menjadi simbol doa, harapan, dan dukungan bagi Andrie Yunus, sekaligus penegasan agar demokrasi di Indonesia tetap hidup dan tidak padam. (CR2)








