NABIRE — Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Papua Tengah Komisi V bidang Pendidikan, Stella Misiro, S.Hut, resmi menutup kegiatan Temu Akbar Forum Pegiat Literasi Papua Tengah pada Jumat sore (28/11/2025) di Aula Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Nabire.
Kegiatan yang sedianya akan berlangsung selama tiga hari itu dimaksimalkan hanya dalam dua hari pelaksanaan. Stella menilai tujuan inti dari pertemuan literasi ini telah tercapai.
“Dari awal direncanakan tiga hari, tetapi kalau melihat poin inti yang dicari sudah ditemukan,” ujar Stella.
Ia menegaskan pentingnya konsistensi gerakan literasi di Papua Tengah agar tidak berhenti hanya pada kegiatan ini saja.
“Harapannya kita harus tetap konsisten, jangan sampai hari ini saja. Ketika kita berada dalam komunitas yang sevisi, kita akan saling menguatkan,” katanya.
Stella juga mengungkapkan adanya dukungan dari sejumlah pihak pemerintah daerah, termasuk dari Dinas Sosial Papua Tengah yang menyatakan siap membantu.
“Pak Kadis Sosial sangat antusias dan siap melihat apa yang bisa dibantu untuk mendukung langkah literasi di Papua Tengah,” jelasnya.
Menurutnya, gerakan literasi memiliki keterhubungan langsung dengan program penurunan kemiskinan ekstrem di Papua Tengah.
Penutupan acara dilakukan dengan puji syukur dan ajakan untuk terus menjaga semangat komunitas literasi.
“Saya dan teman-teman di Komisi V tetap akan mendukung, karena berbicara literasi itu sampai waktu yang tidak ditentukan. Sepanjang kita hidup, kita masih butuh hal tersebut,” ungkapnya.
Rekomendasi dan Agenda Lanjutan
Dalam kesempatan yang sama, pegiat literasi Papua Tengah, Alex Giyai, menjelaskan bahwa kegiatan ini dimaksimalkan menjadi dua hari dengan sejumlah rekomendasi untuk pemerintah.
“Berbagai macam rekomendasi sudah dihasilkan. Ini akan kami rangkum dan kami serahkan ke dinas terkait,” ujar Alex.
Ia menyebut gerakan literasi harus menjadi acuan pembangunan literasi di sekolah, masyarakat, dan keluarga.
Alex juga membeberkan tiga agenda besar yang akan dilaksanakan tahun depan:
1. Musyawarah Daerah (Musda) dan pemilihan pengurus baru Pegiat Literasi Papua Tengah serta TBM Provinsi.
2. Kongres Literasi, membahas penyusunan modul belajar bagi komunitas berbasis kolaborasi pengajar dan praktisi.
3. Festival Literasi, melibatkan berbagai pihak dan instansi untuk membuka ruang publikasi literasi lebih luas.
Alex mengapresiasi para peserta yang tetap mengikuti kegiatan dari pagi hingga malam dengan antusias.
“Semangat mereka luar biasa karena mereka lahir dari lapangan dan terus bergerak,” ujarnya.
Bagi Alex, literasi adalah fondasi kehidupan.
“Kata kunci: literasi itu adalah kehidupan. Orang tanpa literasi, kita akan bodoh dan dibodohkan,” tambahnya.
Kegiatan Temu Akbar Pegiat Literasi Papua Tengah dengan tema “Bicara Masalah, Bicara Solusi” resmi ditutup akhir pekan ini dengan harapan gerakan literasi terus berkembang, meluas, dan mampu menyentuh seluruh lapisan masyarakat hingga ke daerah-daerah. (MB)










