Menu ✖

Mode Gelap
Senator Sopater Bawa Kasus Hilangnya Dua Warga Suku Mek Ke DPD RI, Desak Pengusutan Tuntas Dan Penegakan Hukum Yorrys Raweyai Dorong Aspirasi Daerah Menjadi Perhatian Nasional Wilhelmus Pigai Dorong Penguatan Hak Politik Orang Asli Papua melalui Kajian Regulasi Gubernur Meki Nawipa Tinjau Tambang Bawah Tanah Freeport, Pelajari Teknologi dan Operasional Pertambangan Empat Pejabat Tinggi Negara Turun ke Nabire, Tertibkan Tambang Emas Ilegal Natalius Pigai: Keberhasilan Pembangunan HAM Harus Dirasakan Langsung oleh Rakyat

Headline

Pemerintah Tetapkan Idul Fitri 2026 Jatuh pada 21 Maret

adminbadge-check


					Pemerintah Tetapkan Idul Fitri 2026 Jatuh pada 21 Maret Perbesar

JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Keputusan tersebut diambil berdasarkan hasil sidang isbat yang digelar di Jakarta, Kamis (19/3/2026).

“Disepakati bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada hari Sabtu, 21 Maret 2026 Masehi,” ujar Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam konferensi pers usai sidang.

Penetapan ini didasarkan pada hasil pemantauan hilal yang dilakukan di 117 titik di seluruh Indonesia. Pengamatan melibatkan Kanwil Kemenag, Pengadilan Agama, organisasi kemasyarakatan Islam, serta berbagai instansi terkait.

Anggota Tim Rukyatul Hilal Kemenag, Cecep Nurwendaya, menjelaskan bahwa secara hisab posisi hilal belum memenuhi kriteria visibilitas yang ditetapkan.

Ia menyebutkan, meski ketinggian hilal di wilayah Aceh telah mencapai batas minimum 3 derajat sesuai kriteria MABIMS, namun elongasinya belum memenuhi syarat minimal 6,4 derajat. Sementara secara rukyat, ketinggian hilal di Indonesia berada di kisaran 0,91 hingga 3,13 derajat, dengan elongasi antara 4,54 hingga 6,10 derajat.

“Di seluruh wilayah Indonesia, hilal belum memenuhi kriteria visibilitas atau imkan rukyat, sehingga secara teoritis tidak dapat diamati,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menegaskan bahwa sidang isbat telah dilakukan sesuai prosedur, dengan mengacu pada data hisab dan hasil rukyat yang telah diverifikasi.

Sidang isbat juga melibatkan berbagai pihak, seperti ahli astronomi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Badan Riset dan Inovasi Nasional, serta perwakilan organisasi Islam.

“Karena melibatkan berbagai unsur, keputusan ini memiliki legitimasi keagamaan yang kuat,” ujarnya.

Sebelumnya, Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, berdasarkan metode hisab. Dengan demikian, terdapat perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri tahun ini.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kemenag Terbitkan Juknis Perlindungan Santri, Panduan Child Safeguarding bagi Pengasuh hingga Pengurus Pesantren

5 November 2026 - 12:53 WIB

IMG 20261105 215133

Pemkab Mimika Matangkan RDTR Kokonao untuk Pemerataan Pembangunan

5 November 2026 - 12:46 WIB

IMG 20261105 WA0042

Bangun Kepercayaan Masyarakat, Pemkab Mimika Perkuat Strategi Komunikasi Publik

5 November 2026 - 12:41 WIB

IMG 20261105 WA0041

Merasa Terancam Saat Angkut Batu, Ratusan Sopir Truk Minta Perlindungan Polisi

5 November 2026 - 12:35 WIB

IMG 20261105 213529

Cegah Anak Terkendala Saat Kuliah, Dukcapil Deiyai Benahi Data Kependudukan Siswa

5 November 2026 - 12:31 WIB

IMG 20261105 213018
Trending di News