Menu ✖

Mode Gelap
Senator Sopater Bawa Kasus Hilangnya Dua Warga Suku Mek Ke DPD RI, Desak Pengusutan Tuntas Dan Penegakan Hukum Yorrys Raweyai Dorong Aspirasi Daerah Menjadi Perhatian Nasional Wilhelmus Pigai Dorong Penguatan Hak Politik Orang Asli Papua melalui Kajian Regulasi Gubernur Meki Nawipa Tinjau Tambang Bawah Tanah Freeport, Pelajari Teknologi dan Operasional Pertambangan Empat Pejabat Tinggi Negara Turun ke Nabire, Tertibkan Tambang Emas Ilegal Natalius Pigai: Keberhasilan Pembangunan HAM Harus Dirasakan Langsung oleh Rakyat

Headline

Sinode KINGMI Papua Serukan Hentikan Konflik Kapiraya Usai Meninggalnya Pendeta Neles Peuki

Etty Welerbadge-check


					Sinode KINGMI Papua Serukan Hentikan Konflik Kapiraya Usai Meninggalnya Pendeta Neles Peuki Perbesar

TIMIKA – Departemen Keadilan dan Perdamaian (DKP) Sinode Gereja Kemah Injil (KINGMI) di Tanah Papua menyampaikan duka mendalam atas terbunuhnya seorang gembala sidang, Pdt. Neles Peuki, di Kampung Mogodagi, Distrik Kapiraya Atas, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah pada 24 November 2025. Korban dilaporkan dibunuh dan rumahnya turut dibakar di lokasi pelayanan.

Dalam pernyataan resmi bertajuk Surat Seruan Gembala, DKP Sinode KINGMI menyebut insiden tersebut sebagai peristiwa memilukan dalam sejarah pelayanan gereja dan masyarakat adat Suku Mee di wilayah Kapiraya. Sejak tahun 1938 ketika Injil masuk melalui Kampung Uta—hingga menyebar ke Mogodagi, Yamouwi Tina, Mauka dan Eyagaikigi—baru kali ini seorang pendeta dikabarkan dibunuh dan dibakar.

Selain Pdt. Neles Peuki, sejumlah warga juga menjadi korban dalam insiden tersebut.

DKP Sinode KINGMI mengecam tindakan pembunuhan dan pembakaran rumah warga yang dinilai tidak berperikemanusiaan. Dalam pernyataan tersebut disebutkan bahwa wilayah adat di Mogodagi dan sekitarnya telah sejak lama dihuni oleh masyarakat Suku Mee secara turun-temurun dan memiliki hubungan yang harmonis dengan Suku Kamoro.

Sinode juga menekankan bahwa kedua suku ini sejak dulu hidup berdampingan, saling membantu, dan bersama menjaga hak-hak adat yang diwariskan leluhur.

Isi Seruan Gembala

Dalam Surat Seruan Gembala tersebut, DKP Sinode KINGMI menyampaikan empat poin seruan penting:

1. Menghentikan upaya yang dinilai berpotensi menimbulkan konflik dan adu domba antara Suku Mee dan Kamoro terkait isu sumber daya alam dan pembangunan di wilayah Kapiraya.

2. Mengajak kedua suku membangun kembali solidaritas dan keharmonisan serta menyelesaikan masalah melalui mekanisme adat.

3. Para tokoh adat Mee dan Kamoro segera duduk bersama untuk menetapkan tapal batas adat secara resmi dan permanen tanpa intervensi pihak luar.

4. Meminta aparat keamanan menangkap dan memproses hukum para pelaku pembunuhan, penganiayaan dan pembakaran rumah warga.

Sinode KINGMI menyatakan bahwa pembunuhan terhadap pendeta adalah tindakan keji dan dikecam secara moral dan iman. Karena itu, gereja meminta semua pihak untuk tidak terseret provokasi dan tetap menjaga perdamaian di wilayah adat Kapiraya.

Surat seruan tersebut ditandatangani oleh Ketua DKP Sinode KINGMI di Tanah Papua, Pdt. Deserius Adii, M.Th, pada 26 November 2025 di Timika. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Diduga Meninggal Akibat Kondisi Kesehatan, Pria 45 Tahun Ditemukan Tak Bernyawa Dilantai

6 November 2026 - 07:17 WIB

IMG 20261106 WA0010

DPO Kasus Penembakan Brigpol Ronald Enok Ditangkap di Puncak Jaya, Seorang Warga Ikut Diamankan

6 November 2026 - 07:11 WIB

IMG 20261106 WA0007

Perkuat Tata Kelola Organisasi, KINGMI di Tanah Papua Gelar Sosialisasi AD/ART di Deiyai

6 November 2026 - 07:07 WIB

IMG 20261106 WA0005

Polres Mimika Perkuat Benteng Pencegahan Narkoba Lewat Dua Posko Bersinar

6 November 2026 - 05:41 WIB

IMG 20261106 WA0019

211 Warga Pasar Sentral Terima Bantuan Pangan, Leni Tonglo Pastikan Tepat Sasaran

6 November 2026 - 05:38 WIB

IMG 20261106 WA0016
Trending di News