TIMIKA — Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) mulai mematangkan perencanaan pengembangan kawasan perkotaan Potowaiburu, Distrik Mimika Barat Jauh. Langkah ini sejalan dengan visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Mimika, yakni membangun dari kampung ke kota, sekaligus mendorong pemerataan pembangunan hingga wilayah pesisir.
Pengembangan kawasan Potowayburu diarahkan untuk membuka keterisolasian wilayah, meningkatkan konektivitas antardaerah, serta menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat setempat.
Kepala Dinas PUPR Kabupaten Mimika, Yoga Pribadi, menjelaskan bahwa proses perencanaan telah melalui beberapa tahapan, mulai dari seminar awal, seminar antara, hingga seminar akhir. Dalam setiap tahapan, pemerintah bersama tim konsultan menghimpun masukan dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk masyarakat adat dan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
Yoga berharap berbagai masukan tersebut dapat menyempurnakan dokumen perencanaan sehingga tidak sekadar menjadi dokumen administratif, tetapi benar-benar dapat diterapkan dalam pembangunan di lapangan.
“Masukan dari semua pihak diharapkan dapat melengkapi laporan akhir. Dengan begitu, ketika dokumen perencanaan selesai, dokumen tersebut bukan hanya tersimpan di meja, tetapi benar-benar bisa diaplikasikan,” ujarnya belum lama ini di Timika.
Menurut Yoga, perencanaan tata ruang sejak dini menjadi hal penting agar perkembangan Potowayburu tidak berlangsung tanpa arah. Penataan kawasan perlu disiapkan untuk mengatur pemanfaatan lahan, termasuk bagi kawasan industri, pelabuhan, fasilitas publik, ruang terbuka hijau, serta akses transportasi masyarakat.
“Kalau kita tidak merencanakan suatu wilayah sejak sekarang, ketika jalan penghubung antardistrik dibangun, pemanfaatan ruang bisa menjadi tidak teratur,” jelasnya.
Setelah tahapan perencanaan ini, pengembangan Potowayburu akan dilanjutkan melalui penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan master plan kawasan. Dokumen tersebut diharapkan menjadi acuan dalam penataan jalan, drainase, ruang terbuka hijau, dan berbagai fasilitas publik agar pembangunan berlangsung terarah dan berkelanjutan.
Potowaiburu dinilai memiliki posisi strategis karena berbatasan dengan Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat. Letak tersebut berpotensi mendukung konektivitas wilayah sekaligus membuka alternatif akses bagi masyarakat pesisir dalam menjalankan aktivitas ekonomi.
Selama ini, masyarakat menghadapi kendala jarak dan waktu tempuh untuk memasarkan hasil perikanan ke Timika. Perjalanan menuju Kaimana melalui kawasan Teluk Etna disebut dapat ditempuh sekitar dua jam, sedangkan perjalanan ke Timika bisa memakan waktu hingga enam jam.
Karena itu, Yoga menegaskan bahwa pembangunan kawasan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah untuk memastikan masyarakat di wilayah pesisir turut merasakan kehadiran negara melalui pembangunan dan peningkatan pelayanan.
“Ini juga menjadi tanggung jawab pemerintah untuk melindungi wilayah dan masyarakat kita, supaya mereka merasa bahwa pemerintah selalu hadir. Daerah mereka tidak dibiarkan begitu saja, tetapi terus berkembang dan bertumbuh sehingga perekonomian masyarakat juga berubah,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Distrik Mimika Barat Jauh atau Potowaiburu, Everadus Rico Kukuareyau menjelaskan bahwa proses perencanaan masih membutuhkan tahapan lanjutan, terutama sosialisasi kepada masyarakat. Menurutnya, sebagian warga masih perlu mendapatkan pemahaman lebih mendalam mengenai konsep pengembangan kawasan perkotaan baru tersebut.
Ia mengatakan, kegiatan yang telah dilaksanakan sejauh ini masih berfokus pada pembahasan lintas sektor bersama OPD teknis. Tim survei juga telah turun ke lapangan untuk melihat kondisi wilayah dan menyerap aspirasi masyarakat, tetapi belum memasuki tahap sosialisasi secara menyeluruh.
“Ini masih tahap awal dan akan ada tahapan berikutnya. Beberapa tanggapan masyarakat perlu disosialisasikan karena masyarakat belum terlalu memahami konsep pembangunan kota baru. Tim survei sudah turun untuk melihat kondisi lapangan dan menyerap aspirasi, tetapi belum sampai pada tahap sosialisasi,” jelas Ever.
Meski demikian, ia menyebut rencana pembangunan tersebut sejalan dengan visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Mimika untuk membangun dari kampung ke kota. Salah satu kebutuhan yang mendapat respons positif dari masyarakat adalah pembangunan jalan untuk meningkatkan aksesibilitas wilayah.
Ever berharap proses perencanaan selanjutnya dapat melibatkan masyarakat secara lebih luas sehingga warga memahami arah pengembangan kawasan dan aspirasi mereka dapat menjadi pertimbangan dalam penyusunan dokumen perencanaan.
Dengan perencanaan yang matang, pengembangan Potowaiburu diharapkan tidak hanya menghadirkan kawasan perkotaan baru, tetapi juga memperkuat konektivitas, memperluas akses pelayanan dasar, dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat pesisir Mimika. (Cr2)







