TIMIKA — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-30 Kabupaten Mimika menjadi momentum penting untuk mengenang kembali sejarah perjuangan dan peran para tokoh yang turut memprakarsai terbentuknya Kabupaten Mimika sebagai daerah otonom definitif.
Di balik perjalanan pembangunan Mimika hingga memasuki usia tiga dekade, terdapat kontribusi para tokoh, keluarga, dan masyarakat yang mengambil bagian dalam proses perjuangan pembentukan daerah ini. Salah satu nama yang perlu mendapat perhatian dalam penelusuran sejarah tersebut adalah Condarus Costantinus Bauw dan Fransiskus Waraopea beserta keluarga yang disebut memiliki peran dalam prakarsa pembentukan Kabupaten Mimika definitif tahun 1996.
Peringatan HUT ke-30 tidak semata-mata menjadi perayaan bertambahnya usia daerah, tetapi juga kesempatan untuk menghargai jasa para perintis serta mewariskan sejarah perjuangan kepada generasi muda.
Sejarah terbentuknya Kabupaten Mimika merupakan bagian penting dari perjalanan masyarakat setempat dalam memperjuangkan pemerintahan yang lebih dekat, pelayanan publik yang lebih baik, serta kesempatan pembangunan yang dapat dirasakan masyarakat di wilayah pesisir, pegunungan, dan perkotaan.
Memasuki usia 30 tahun, Mimika telah mengalami berbagai perkembangan di bidang pemerintahan, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan ekonomi. Namun, kemajuan tersebut perlu terus diarahkan agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat, terutama masyarakat asli Papua dan warga yang tinggal di wilayah terpencil.
Karena itu, mengenang para perintis pembentukan Kabupaten Mimika juga harus menjadi dorongan bagi pemerintah dan seluruh elemen masyarakat untuk menjaga persatuan, merawat nilai-nilai sejarah, serta melanjutkan cita-cita pembangunan daerah.
Pengakuan terhadap peran Condarus Bauw, Fransiskus Waraopea dan keluarganya perlu disertai dokumentasi sejarah, kesaksian para pelaku, serta arsip yang dapat menjadi referensi bagi generasi mendatang. Dengan demikian, kontribusi para perintis tidak hanya dikenang dalam momentum perayaan, tetapi juga tercatat secara baik dalam sejarah resmi Kabupaten Mimika.
HUT ke-30 Kabupaten Mimika diharapkan menjadi momentum refleksi bersama bahwa pembangunan daerah bukan hanya tentang kemajuan fisik, melainkan juga tentang menghargai sejarah, menjaga identitas masyarakat, dan memastikan masa depan yang lebih baik bagi generasi berikutnya.
Di tengah kemeriahan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-30 Kabupaten Mimika, tersimpan sebuah harapan yang belum tuntas bagi keluarga para perintis pemekaran daerah ini. Bukan sekadar penghargaan atau pengakuan, mereka ingin sejarah perjuangan orang tua mereka tetap tercatat dan tidak hilang ditelan waktu.
Anna Bauw, putri almarhum Conradus Bauw dan Nerius Bauw, salah satu tokoh yang disebut keluarganya turut memperjuangkan terbentuknya Kabupaten Mimika sebagai daerah definitif, menyampaikan harapan sekaligus kegelisahan yang selama ini dipendam keluarganya.
Bagi Anna dan keluarga besarnya, perjalanan Kabupaten Mimika dari bagian Kabupaten Fak-Fak hingga menjadi daerah otonom seperti sekarang bukanlah sejarah yang lahir begitu saja. Ada perjuangan panjang, pengorbanan, dan orang-orang yang menurutnya telah meletakkan dasar bagi terbentuknya pemerintahan di Mimika.
Namun, memasuki usia 30 tahun Kabupaten Mimika pada 2026, Anna merasa jasa orang tuanya belum mendapat perhatian yang semestinya.
“Kami tidak meminta untuk dimanjakan. Kami hanya ingin diperhatikan. Jangan sampai sejarah orang tua kami dilupakan begitu saja,” ungkap Anna dengan nada haru di Timika, Sabtu (10/10/2026).
Conradus Bauw, Guru yang Mengabdikan Diri di Tanah Amungme dan Kamoro. Anna menuturkan, ayahnya, Conradus Bauw, telah mengabdikan diri di Timika sejak usia 14 tahun sebagai seorang guru. Menurut penuturan keluarga, surat keputusan pengangkatannya sebagai guru berasal langsung dari Pemerintah Belanda pada masa itu.
Pengabdian Conradus tidak hanya sebatas mengajar di ruang kelas. Ia disebut sebagai salah satu guru perintis yang berjuang memperkenalkan bahasa Indonesia kepada masyarakat di kawasan Nemangkabi, khususnya wilayah pegunungan.
Melalui pendidikan, Conradus berupaya membuka jalan agar masyarakat setempat dapat mengenal bahasa Indonesia, memperoleh pengetahuan, dan memiliki kesempatan untuk maju.
Bagi Anna, perjuangan ayahnya bukan sekadar kisah tentang seorang pendidik. Lebih dari itu, Conradus merupakan bagian dari generasi awal yang ikut membangun fondasi kehidupan masyarakat dan pemerintahan di Mimika.
“Saya bangga memiliki bapak yang telah berjuang untuk masyarakat di tanah ini. Beliau ingin masyarakat Nemangkabi maju dan bisa mengenal bahasa Indonesia. Pengabdiannya bukan hanya untuk keluarga, tetapi juga untuk generasi yang hidup di tanah ini,” tuturnya.
Disebut turut memprakarsai LEMASA dan LEMASKO.
Selain dikenal dalam bidang pendidikan, Conradus Bauw juga disebut keluarga sebagai salah satu tokoh yang turut mencetuskan dua lembaga masyarakat adat di Mimika, yakni Lembaga Musyawarah Adat Suku Amungme (LEMASA) dan Lembaga Musyawarah Adat Suku Kamoro (LEMASKO).
Pada masa itu, Conradus telah menjabat sebagai anggota DPRK Fak-Fak dapil Mimika mewakili wilayah Agimuga selama kurang lebih 3 periode dan Fransiskus Waraopea mewakili Kokonao.
Dalam posisi tersebut, Anna menuturkan, ayahnya bersama Fransiskus Waropea memperjuangkan agar Mimika tidak selamanya berada di bawah pemerintahan Kabupaten Fak-Fak, melainkan berdiri sebagai kabupaten definitif dengan pemerintahan sendiri.
Perjuangan itu, menurut keluarga, menjadi bagian penting dari rangkaian upaya yang mengantarkan Mimika menuju pembentukan daerah otonom.
Anna berharap, kisah perjuangan tersebut tidak berhenti sebagai ingatan keluarga, tetapi ditelusuri melalui dokumen, arsip pemerintahan, dan kesaksian para pelaku sejarah agar masyarakat mengetahui secara utuh proses lahirnya Kabupaten Mimika.
Tiga Dekade berlalu, keluarga nerasa belum mendapat perhatian. Memasuki usia 30 tahun Kabupaten Mimika, Anna mengaku masih merasakan kesedihan setiap kali perayaan ulang tahun daerah digelar.
Ia menilai, sejumlah nama kerap disebut dalam berbagai momentum sebagai tokoh pendiri atau pemrakarsa pemekaran Kabupaten Mimika dan mendapat apresiasi dari pemerintah. Namun, menurutnya, masih ada bagian sejarah yang perlu ditelusuri lebih jauh, terutama mengenai peran Conradus Bauw dan Fransiskus Waropea dalam proses perjuangan pemekaran.
“Kami anak-anak dan cucu tidak pernah menyangkal berkat yang ada sekarang. Kami bersyukur dan menikmati hasil perjuangan orang tua kami. Tetapi kami juga berharap pemerintah tidak melupakan siapa saja yang turut berjuang hingga Mimika menjadi kabupaten definitif,” katanya.
Bagi Anna, persoalan ini bukan semata-mata tentang siapa yang lebih berjasa atau siapa yang berhak menerima penghargaan. Ia ingin sejarah pemekaran Kabupaten Mimika disusun secara utuh, adil, dan berdasarkan fakta.
Menurutnya, penelusuran sejarah dapat dilakukan melalui arsip, dokumen resmi, serta kesaksian para pelaku yang masih hidup. Dengan begitu, generasi muda Mimika dapat mengetahui perjalanan daerahnya secara lebih lengkap.
Ia juga menyoroti belum adanya nama jalan di Timika yang, menurut pengamatannya, secara khusus mengabadikan nama para tokoh yang disebut keluarganya sebagai perintis pemekaran tersebut.
“Jangan sampai nama orang yang berjuang justru hilang, sementara sejarahnya tidak lagi diketahui generasi berikutnya. Kami berharap jasa para perintis bisa ditelusuri dan diabadikan secara layak,” ujarnya.
Bukan meminta keistimewaan, tetapi Kesempatan yang adil
Di balik tuntutan agar sejarah orang tuanya diakui, Anna juga menyampaikan harapan mengenai masa depan anak dan cucu keluarga Bauw serta Waropea.
Ia meminta Pemerintah Kabupaten Mimika memberikan perhatian kepada generasi penerus keluarga para perintis, terutama dalam hal kesempatan berkontribusi bagi pembangunan daerah, termasuk melalui proses penerimaan CPNS maupun Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Anna menegaskan, harapan tersebut bukan berarti meminta perlakuan khusus atau mengesampingkan aturan yang berlaku. Ia ingin generasi penerus keluarga para perintis juga memperoleh kesempatan yang adil untuk mengabdi kepada daerahnya sendiri.
Anna turut menyebut Bupati Mimika saat ini, Johannes ReRettob adalah orang baik dan anak perintis yang diakui sebagai saudaranya. Namun, ia menegaskan bahwa aspirasi yang disampaikan bukan ditujukan kepada pribadi atau bupati tertentu, melainkan kepada pemerintah sebagai institusi yang terus berganti kepemimpinan.
“Bupati boleh berganti dari waktu ke waktu, tetapi pemerintah harus tetap mengingat sejarah daerah ini. Kami tidak meminta dimanjakan. Kami hanya ingin dilihat, diperhatikan, dan diberi kesempatan untuk ikut membangun Mimika,” tegasnya.
Pesan untuk Pemerintah dan DPRK Mimika
Anna secara khusus meminta Pemerintah Kabupaten Mimika dan DPRK Mimika agar membuka ruang penelusuran sejarah pemekaran daerah, termasuk mendokumentasikan peran Conradus Bauw, Fransiskus Waropea, serta tokoh-tokoh lain yang terlibat dalam proses tersebut.
Ia berharap DPRK sebagai lembaga perwakilan rakyat dapat ikut menyuarakan pentingnya penghargaan terhadap sejarah dan jasa para perintis, sehingga tidak ada kisah perjuangan yang terabaikan.
Baginya, usia 30 tahun Kabupaten Mimika seharusnya menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan daerah, bukan hanya merayakan kemajuan yang telah dicapai, tetapi juga mengenang orang-orang yang ikut memperjuangkannya.
“Kepada pemerintah dan DPRK Mimika, kami mohon jangan tenggelamkan sejarah orang tua kami. Tolong telusuri kembali perjuangan mereka. Kami ingin anak cucu kami mengetahui bahwa orang tua mereka pernah mengambil bagian dalam perjuangan membangun kabupaten ini,” ungkapnya.
Anna berharap, peringatan tiga dekade Kabupaten Mimika menjadi titik awal untuk menata sejarah daerah secara lebih terbuka dan menyeluruh.
Sebab, bagi keluarga Bauw dan Waropea, pembangunan tidak hanya meninggalkan gedung, jalan, dan berbagai fasilitas. Pembangunan juga meninggalkan kisah perjuangan manusia yang patut dikenang.
Tiga puluh tahun Mimika berdiri adalah perjalanan sebuah daerah. Namun, bagi Anna Bauw, perjalanan itu belum lengkap jika sejarah para perintisnya belum ditelusuri dan dicatat secara utuh. (Red)







