Menu ✖

Mode Gelap
Komite IV DPD RI Evaluasi Realisasi TKD dan Dana Otsus di Papua Papua di Ambang Pintu Neraka atau Surga: Refleksi Kemanusiaan atas Konflik dan Perdamaian Isu Reshuffle Kabinet, Natalius Pigai: Saya Tak Pernah Bermimpi Jadi Menteri TNI AD dan DPD RI Turun Tangan Atasi Masalah Infrastruktur Daerah Komite IV DPD RI Rampungkan Uji Kelayakan 23 Calon Anggota BPK RI DPD RI Dorong Diplomasi Parlemen Perkuat Kepentingan Daerah di ASEAN

Headline

Perang Kwamki Narama Harus Diakhiri, Tokoh: Biarkan Semua Aktivitas Kembali Normal

Etty Welerbadge-check


					Perang Kwamki Narama Harus Diakhiri, Tokoh: Biarkan Semua Aktivitas Kembali Normal Perbesar

TIMIKA — Suara perdamaian kembali disuarakan dari Mimika. Konflik antarkelompok yang telah berlangsung lebih dari satu tahun di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, dinilai sudah terlalu panjang dan berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat.

Tokoh perang dari kelompok Newegalen, Nerius Newegalen, yang menjabat sebagai Waimum atau Kepala Perang, meminta kelompok Dang mengambil langkah bersama untuk mengakhiri pertikaian dan membuka jalan menuju perdamaian.

Menurut Nerius, pihaknya telah menerima dua pelajar yang menjadi korban pembunuhan dari kelompok Dang sebagai bagian dari korban di pihak mereka. Pihaknya juga menerima keputusan keluarga untuk memakamkan kedua korban, bukan menjalankan proses kremasi sebagaimana adat yang selama ini dikenal.

“Sebagai Waimum kami sudah terima, dikubur atau dibakar itu sama saja. Kami ikut kemauan keluarga. Tujuannya dikubur karena keluarga mau supaya perang ini aman dan selesai,” ujar Nerius kepada wartawan di kawasan SP3, Mimika, Jumat (4/9/2026).

Ia berharap sikap tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi kelompok Dang untuk mengambil keputusan serupa. Dengan demikian, kedua pihak tidak lagi mempertahankan dendam dan dapat bersama-sama mengubur konflik yang selama ini telah merenggut rasa aman masyarakat.

“Kami mau melalui ini, dari pihak Dang harus terima kedua korban ini. Sesuai tujuan mereka melampiaskan dengan membunuh dua saudara kami itu,” katanya.

Nerius menegaskan, perang yang telah berjalan lebih dari setahun tidak boleh terus diwariskan. Kedua kelompok, kata dia, harus memiliki satu sikap dan komitmen untuk mengakhirinya.

“Sehingga mereka harus terima dan harus samakan, sama-sama. Perang ini kita mau kubur. Kita mau perang ini harus damai, sudah satu tahun lebih,” tegasnya.

Menurut Nerius, perdamaian bukan hanya menyangkut penghentian perang, tetapi juga menyangkut masa depan masyarakat. Ia ingin anak-anak kembali ke sekolah, pelayanan gereja berjalan normal, pemerintahan dapat bekerja tanpa gangguan, serta petani dan masyarakat bisa kembali beraktivitas tanpa dihantui ketakutan.

Ia juga meminta seluruh pemangku kepentingan ikut mengambil bagian dalam proses perdamaian, termasuk TNI-Polri, Pemerintah Provinsi Papua Tengah, Pemerintah Kabupaten Puncak, dan Pemerintah Kabupaten Mimika.

Seruan serupa disampaikan tokoh masyarakat Yan Tinal. Ia meminta seluruh kelompok yang terlibat dalam konflik segera menghentikan pertikaian dan memilih jalan persatuan.

Menurut Yan, masyarakat perlu memberikan dukungan terhadap aparat keamanan agar proses penyelesaian konflik dapat dikawal hingga kondisi Kwamki Narama benar-benar aman dan kondusif.

“Hal ini penting agar seluruh lapisan masyarakat mulai dari anak sekolah, pelayanan gereja, petani, pegawai, hingga pemerintahan dapat kembali menjalankan aktivitasnya dengan aman dan tenang tanpa rasa takut,” ungkapnya.

Sementara itu, tokoh agama Pendeta Anton Uamang mengajak seluruh tokoh gereja di Mimika tidak tinggal diam melihat konflik yang terjadi di tengah masyarakat.

Ia menilai gereja memiliki tanggung jawab moral untuk hadir bersama jemaat yang sedang menghadapi persoalan, termasuk ketika jemaat terlibat dalam konflik.

“Semua tokoh gereja tolong terlibat dalam pengamanan ini. Gereja tidak boleh menghindar dari jemaat, karena jemaat kami yang sedang bertikai di lapangan perang. Sehingga kita harus di tengah-tengah dan mengambil komitmen untuk mendamaikan, supaya gereja jalan damai, aman, dan pelayanan juga aman,” kata Anton.

Seruan yang datang dari tokoh perang, tokoh masyarakat, dan tokoh agama tersebut menjadi pesan kuat agar konflik Kwamki Narama segera menemukan titik akhir.

Bagi masyarakat, perdamaian bukan sekadar berhentinya suara perang. Lebih dari itu, perdamaian berarti anak-anak kembali ke sekolah, gereja kembali melayani, pegawai kembali bekerja, petani kembali ke kebun, dan warga dapat menjalani kehidupan tanpa rasa takut.

Kini, harapan tersebut berada di tangan seluruh pihak yang terlibat untuk memilih berdamai dan mengakhiri konflik yang telah berlangsung terlalu lama. (IT)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Festival Budaya Mimika Hidupkan Kembali Warisan Amungme-Kamoro

5 Oktober 2026 - 13:10 WIB

IMG 20261005 WA0038

Uskup Hilarion Ajak Umat Katolik di Fakfak Jaga Lingkungan dan Hindari Pembakaran Sembarangan

5 Oktober 2026 - 13:05 WIB

IMG 20261005 WA0035

OTK Bersenjata Parang dan Pisau Serang Pasutri di Paniai, Polisi Buru Pelaku

5 Oktober 2026 - 13:00 WIB

IMG 20261005 WA0032

Sopir Kadis Dukcapil Dogiyai Dibacok OTK, Polisi Kejar Pelaku

5 Oktober 2026 - 12:53 WIB

IMG 20261005 WA0030

HUT ke-81 TNI, Dandim Mimika Tekankan Disiplin, Netralitas dan Kepedulian

5 Oktober 2026 - 12:14 WIB

IMG 20261005 WA0029
Trending di Headline