Menu

Mode Gelap
Komite IV DPD RI Siapkan Uji Kelayakan dan Kepatutan 23 Calon Anggota BPK Periode 2026–2031 Anggota BULD DPD RI Wilhelmus Pigai Soroti Pemerataan Pendidikan di Papua Wilhelmus Pigai: APBN 2027 Harus Berdampak Nyata bagi Masyarakat Daerah HUT ke-81 MPR-DPR, DPD Dorong Parlemen Perkuat Kolaborasi dan Aspirasi Rakyat IKB PMKJ Jabodetabek Tempa Generasi Muda Jayawijaya Jadi Calon Pemimpin Papua Wilhelmus Pigai Serahkan Hadiah Quiz HUT ke-81 RI untuk Pelajar hingga Mahasiswa

Headline

El Nino Diprediksi Berlangsung hingga Awal 2027, Asap Berpotensi Bertahan

Etty Welerbadge-check


					El Nino Diprediksi Berlangsung hingga Awal 2027, Asap Berpotensi Bertahan Perbesar

TIMIKA — Berdasarkan siaran pers dari BMKG Pusat, fenomena El Niño yang diprediksi masih berlangsung hingga awal 2027 berpotensi menyebabkan kondisi cuaca kering dan minim hujan. Kondisi tersebut dinilai dapat memperpanjang potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta penyebaran asap di sejumlah wilayah.

Forecaster BMKG Mimika, William Titahena, mengatakan kondisi asap yang terjadi saat ini tidak dapat dipastikan kapan akan berakhir. Menurutnya, salah satu faktor yang menjadi acuan adalah perkembangan fenomena El Niño yang saat ini memengaruhi kondisi cuaca secara global.

“Kalau ditanya kapan asap ini bisa selesai, mungkin kita tidak bisa menjawab langsung kapan asap selesai. Tapi kita berpatokan terhadap El Niño tersebut,” kata William.

Ia menjelaskan, kondisi kering akibat minimnya curah hujan dapat membuat kebakaran hutan dan lahan terus berlangsung apabila tidak dilakukan penanganan. Karena itu, upaya pemerintah dalam memadamkan titik-titik kebakaran menjadi faktor penting untuk mengurangi dan menghentikan penyebaran asap.

“Kalau dari pemerintah ada tindak lanjut untuk memadamkan api tersebut, maka asap pun akan berakhir. Karena hujannya minim,” ujarnya.

William menambahkan, apabila El Niño melemah atau berakhir pada akhir 2026 hingga awal 2027, maka kondisi asap juga berpotensi bertahan hingga periode tersebut, terutama jika kebakaran masih terjadi.

IMG 20260826 WA0026

Selain berdampak terhadap lingkungan dan kualitas udara, kondisi berasap juga dapat mengganggu aktivitas penerbangan. Asap yang pekat dapat menurunkan jarak pandang atau visibility sehingga berpengaruh terhadap proses pendaratan pesawat.

“Dengan kondisi cuaca berasap seperti ini otomatis visibility berkurang. Dari visibility berkurang itu mengakibatkan terganggunya take-off, landing, bukan take-off, landing saja. Terganggunya landing daripada maskapai penerbangan,” jelasnya.

Menurut William, jarak pandang normal untuk penerbangan umumnya berada di atas 5 kilometer dan dapat mencapai 6 hingga 10 kilometer. Namun, ketika asap menyebabkan jarak pandang turun hingga sekitar 5, 3, bahkan 1 kilometer, kondisi tersebut dapat memengaruhi proses pendaratan pesawat.

Karena itu, perkembangan kondisi cuaca dan jarak pandang menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam memastikan keselamatan serta kelancaran operasional penerbangan di tengah kondisi berasap. (IT)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ambulans Agimuga Rusak, Dinkes Mimika Siapkan Kendaraan Baru

11 September 2026 - 06:47 WIB

IMG 20260911 WA0000

Prokopim Mimika Sukses Gelar Rakor Protokol 2026, Perkuat Profesionalisme dan Pelayanan Pemerintah

11 September 2026 - 06:42 WIB

20260908

BULD DPD RI Dorong Perda di Daerah Lebih Responsif dan Berpihak pada Masyarakat

10 September 2026 - 13:35 WIB

IMG 20260910 WA0033

Pesan Gubernur Meki Nawipa untuk Masyarakat: “Saya Tidak Kasih Uang, tetapi Saya Kasih Program”

10 September 2026 - 13:33 WIB

WhatsApp Image 2026 09 07 at 15.52.30

Pimpinan II DPRP Papua Tengah Apresiasi Kunker Wagub Deinas Geley ke Paniai

10 September 2026 - 12:56 WIB

IMG 20260910 WA0030
Trending di Headline