Menu

Mode Gelap
Komite IV DPD RI Siapkan Uji Kelayakan dan Kepatutan 23 Calon Anggota BPK Periode 2026–2031 Anggota BULD DPD RI Wilhelmus Pigai Soroti Pemerataan Pendidikan di Papua Wilhelmus Pigai: APBN 2027 Harus Berdampak Nyata bagi Masyarakat Daerah HUT ke-81 MPR-DPR, DPD Dorong Parlemen Perkuat Kolaborasi dan Aspirasi Rakyat IKB PMKJ Jabodetabek Tempa Generasi Muda Jayawijaya Jadi Calon Pemimpin Papua Wilhelmus Pigai Serahkan Hadiah Quiz HUT ke-81 RI untuk Pelajar hingga Mahasiswa

Headline

Kemarau Mulai Mencekik Pesisir Mimika, Warga Amar hingga Kaipiraya Mulai Kesulitan Air

Etty Welerbadge-check


					Kemarau Mulai Mencekik Pesisir Mimika, Warga Amar hingga Kaipiraya Mulai Kesulitan Air Perbesar

TIMIKA — Kemarau panjang mulai meninggalkan jejak nyata di wilayah pesisir Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Sumber-sumber air perlahan menyusut, debit kali menipis, sementara kolam penampungan yang selama ini menjadi andalan masyarakat mulai kehilangan air.

Kondisi ini paling terasa di wilayah Amar dan Kaipiraya. Bahkan, dampaknya mulai dirasakan langsung oleh personel TNI-Polri yang bertugas di wilayah tersebut.

Kapolsek Mimika Barat, Ipda Muhamad Yani, mengatakan kekeringan telah berlangsung selama beberapa pekan dan mulai mengganggu ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari.

Ia mencontohkan kondisi di Amar. Saat pelaksanaan rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, sejumlah personel TNI-Polri yang bertugas di wilayah itu terpaksa mengambil air dari Kokonao untuk memenuhi kebutuhan mandi.

“Rekan-rekan saya yang ada di Amar, termasuk anggota saya dan anggota Koramil, kegiatan 17-an itu mengambil air di Kokonao untuk air mandi. Artinya sudah ada dampaknya,” ujar Muhamad Yani.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu tanda bahwa kemarau tidak lagi sebatas perubahan cuaca, tetapi mulai berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat dan aparat yang bertugas di wilayah pesisir.

Untuk mengetahui sejauh mana dampak kekeringan, Muhamad Yani telah mengarahkan personelnya yang berada di Kaipiraya untuk memantau sejumlah mata air yang selama ini menjadi sumber kebutuhan masyarakat.

“Saya arahkan kemarin anggota saya yang ada di Kaipiraya agar lihat mata air-mata air itu masih ada atau tidak. Kalau tidak ada, berarti memang dampak daripada kekeringan sudah ada,” katanya.

Tak hanya mata air, debit sejumlah kali di Kaipiraya juga mulai menurun. Kondisi air disebut mengalami perubahan dibandingkan sebelumnya, termasuk dari sisi suhu.

“Termasuk air kali juga sudah menipis di Kaipiraya. Beda suhu airnya sebelumnya. Ada dampak kemarau,” jelasnya.

Kondisi serupa terlihat pada kolam-kolam yang selama ini dimanfaatkan masyarakat. Kolam ikan yang biasanya terisi air kini mulai menyusut akibat minimnya pasokan air.

“Kolam-kolam yang ada di Kaipiraya itu biasanya kolam ikan ada, ini sudah berkurang. Sudah mulai ada dampak daripada kemarau,” ungkapnya.

Amar Mulai Terasa Krisis Air
Dari sejumlah wilayah yang dipantau, Amar menjadi salah satu kawasan yang dampak kemaraunya paling terasa. Personel yang harus mendatangkan air dari Kokonao untuk kebutuhan sehari-hari menjadi gambaran nyata semakin terbatasnya sumber air di wilayah tersebut.

“Yang lebih utamanya adalah Amar. Wilayah Amar itu sudah dampaknya. Anggota saya datang ambil (air). Itu bukti nyata bahwa kemaraunya sudah jalan di wilayah pesisir,” tuturnya.

Sementara di Kokonao, kebutuhan air masyarakat dalam beberapa pekan terakhir masih sedikit terbantu oleh persediaan air hujan yang sebelumnya ditampung dalam bak penampungan.

Muhamad Yani meminta masyarakat menggunakan persediaan tersebut secara bijak. Ia juga mengingatkan agar air yang tersedia dapat dibagikan secara adil sehingga tidak hanya dinikmati oleh sebagian warga.

“Kebetulan ada air bak yang ditampung dari air hujan. Saya bilang, gunakan. Tapi kalau bisa dibagi, supaya ada pemenuhan kebutuhan masyarakat terbagi semua,” ujarnya.

Menurutnya, keterbatasan air bahkan mulai membuat sebagian masyarakat mencari alternatif sumber air lain, termasuk meminta air dari kolam-kolam yang sebelumnya menampung air hujan.
Kondisi itu menunjukkan bahwa persediaan air di sejumlah kampung pesisir mulai berada dalam tekanan.

Karena itu, masyarakat di wilayah pesisir Mimika diimbau mulai melakukan penghematan air dan tidak menggunakan persediaan yang ada secara berlebihan. Warga juga diminta memantau sumber-sumber mata air yang masih tersedia sebagai langkah antisipasi apabila kemarau terus berlanjut.

Kekeringan menjadi perhatian serius karena air merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Terlebih bagi warga di wilayah pesisir dan kampung-kampung yang memiliki keterbatasan akses terhadap sumber air bersih.

Jika kondisi ini terus berlangsung tanpa adanya tambahan pasokan air, tekanan terhadap kebutuhan sehari-hari masyarakat diperkirakan akan semakin besar. (IT)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Tiga Talenta PFA Kembali Dipanggil TC Timnas U-16, Bawa Harapan Papua ke Level Nasional

10 September 2026 - 08:08 WIB

IMG 20260909 WA0024

Tangis Keluarga Iringi Pemakaman 11 Korban Kebakaran Paniai di Nabire

9 September 2026 - 11:14 WIB

IMG 20260909 WA0013

BRIDA Mimika Dorong Hasil Riset Perguruan Tinggi Jadi Dasar Program OPD

9 September 2026 - 11:10 WIB

IMG 20260909 WA0030

Pertamina Patra Niaga Terus Perkuat Pengawasan Penyaluran Subsidi, 19 SPBU di Papua Maluku Diberikan Sanksi

9 September 2026 - 06:35 WIB

IMG 20260909 WA0032

Polisi Selidiki Penyebab Kebakaran Pasar Bapouda, 11 Orang Meninggal Dunia

9 September 2026 - 01:34 WIB

IMG 20260909 WA0002
Trending di Headline