Menu

Mode Gelap
BULD DPD RI Uji Publik Regulasi Pendidikan Bali, Soroti Kewenangan Pusat dan Daerah Komite IV DPD RI Siapkan Uji Kelayakan dan Kepatutan 23 Calon Anggota BPK Periode 2026–2031 Anggota BULD DPD RI Wilhelmus Pigai Soroti Pemerataan Pendidikan di Papua Wilhelmus Pigai: APBN 2027 Harus Berdampak Nyata bagi Masyarakat Daerah HUT ke-81 MPR-DPR, DPD Dorong Parlemen Perkuat Kolaborasi dan Aspirasi Rakyat IKB PMKJ Jabodetabek Tempa Generasi Muda Jayawijaya Jadi Calon Pemimpin Papua

Headline

Musa Boma Mapiha: Masyarakat Adat SIMAPITOWA Tak Mau Jadi Korban PSN

Etty Welerbadge-check


					Musa Boma Mapiha: Masyarakat Adat SIMAPITOWA Tak Mau Jadi Korban PSN Perbesar

NABIRE — Penanggung jawab aksi Front Peduli Manusia dan Alam Meepago Wilayah SIMAPITOWA, Musa Boma Mapiha, menegaskan masyarakat adat SIMAPITOWA atau Tota Mapiha tidak ingin mengalami nasib seperti masyarakat adat di wilayah yang menurut mereka terdampak pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN).

Pernyataan itu disampaikan Musa Boma Mapiha dalam orasinya saat aksi damai masyarakat adat SIMAPITOWA di kantor DPR Provinsi Papua Tengah Kabupaten Nabire, Senin (10/8/2026).

Musa mengatakan masyarakat adat telah melihat dan mempelajari berbagai pengalaman pembangunan PSN di Papua, termasuk di Merauke dan Tembagapura. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran bagi masyarakat adat SIMAPITOWA dalam menyikapi rencana pembangunan dan investasi yang berpotensi masuk ke wilayah adat mereka.

“Kami sudah belajar dari PSN Merauke maupun Tembagapura, yang mana negara mengabaikan hak adat dan terus memiskinkan yang punya tanah adat dan memperkaya pemerintah dan yang punya perusahaan,” kata Musa dalam orasinya.

Menurut Musa, masyarakat adat SIMAPITOWA tidak ingin pembangunan dan investasi yang masuk ke wilayah mereka justru membuat pemilik hak ulayat kehilangan sumber kehidupan.

Ia menegaskan masyarakat adat tidak menolak pembangunan semata-mata, tetapi ingin memastikan setiap rencana pembangunan yang menyentuh wilayah adat harus memperhatikan hak masyarakat adat sebagai pemilik dan pengelola tanah secara turun-temurun.

Tanah Adalah Mama

Musa mengatakan tanah memiliki arti yang jauh lebih besar bagi masyarakat adat SIMAPITOWA dibandingkan sekadar nilai ekonomi.

Bagi masyarakat adat, kata dia, tanah merupakan bagian dari kehidupan dan sumber penghidupan yang diwariskan leluhur kepada generasi berikutnya.

“Kami masyarakat adat SIMAPITOWA atau Tota Mapiha tidak mau korban seperti mereka, karena yang sesungguhnya tanah adalah mama kami yang memberikan sumber makanan yang berlimpah,” tegasnya.

Menurut Musa, keberadaan hutan, sungai, tanah dan seluruh sumber daya alam di wilayah adat memiliki hubungan erat dengan keberlangsungan kehidupan masyarakat.

Karena itu, masyarakat adat SIMAPITOWA meminta pemerintah tidak hanya melihat tanah dari sisi investasi dan pembangunan, tetapi juga mempertimbangkan nilai sosial, budaya, ekologis dan kehidupan masyarakat adat yang bergantung pada wilayah tersebut.

Tolak Jika Tidak Melibatkan Masyarakat Adat

Pernyataan Musa tersebut sejalan dengan tuntutan yang disampaikan massa dalam aksi damai. Masyarakat adat SIMAPITOWA menolak investasi maupun pembangunan yang masuk ke wilayah adat tanpa adanya pengetahuan, persetujuan dan keterlibatan penuh masyarakat adat.

Mereka juga menekankan pentingnya penerapan prinsip free, prior and informed consent (FPIC) dalam setiap rencana pembangunan atau investasi yang berdampak terhadap tanah dan kehidupan masyarakat adat.

Dalam aksi tersebut, massa membawa berbagai pamflet dengan pesan seperti “SIMAPITOWA Bukan Tanah Kosong”, “Cabut Perusahaan Tambang Ilegal”, dan “Tarik Pasukan Nonorganik”.

Musa menegaskan bahwa masyarakat adat SIMAPITOWA ingin memastikan pengalaman yang dianggap merugikan masyarakat adat di wilayah lain tidak kembali terjadi di wilayah mereka.

Menurutnya, pembangunan seharusnya memberikan manfaat bagi masyarakat adat sebagai pemilik hak ulayat, bukan justru membuat mereka kehilangan tanah dan sumber kehidupan.

“Tanah adalah mama kami,” menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan Musa dalam orasinya, sekaligus menggambarkan sikap masyarakat adat SIMAPITOWA dalam mempertahankan wilayah leluhur dan sumber kehidupan mereka. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Warga Wanggar Sari Apresiasi Dinkes Nabire Selesaikan Masalah Internal Puskesmas

22 September 2026 - 10:11 WIB

IMG 20260922 WA0050

Polda Papua dan Belanda Perkuat Komunikasi, Bahas Keamanan hingga Lingkungan

22 September 2026 - 10:07 WIB

IMG 20260922 WA0045

September, Realisasi Fisik APBD Mimika 52 Persen, Realisasi Keuangan 48 Persen

22 September 2026 - 10:01 WIB

IMG 20260922 WA0042

FKP, Pemkab Mimika Dorong Pelayanan Publik Lebih Inklusif 

22 September 2026 - 09:57 WIB

IMG 20260922 WA0041

Pendulang di Landfill Mile 38 Diminta Pindahkan Camp, Batas Waktu 29 September

22 September 2026 - 09:18 WIB

IMG 20260922 WA0040
Trending di Headline