TIMIKA – Sebanyak 12 pemain muda asal Kabupaten Mimika membawa nama Papua Tengah dalam ajang Piala Presiden kelompok usia 12 tahun di Yogyakarta. Keikutsertaan tersebut menjadi momentum bersejarah sekaligus langkah awal pembinaan sepak bola usia dini di Papua Tengah.
Kapolda Papua Tengah, Brigjen Pol. Jermias Rontini mengatakan, tim asal Mimika yang dikirim ke ajang tersebut terdiri dari 12 pemain dan tiga ofisial. Menurut dia, keikutsertaan itu menjadi pengalaman penting bagi perkembangan sepak bola usia dini di wilayah Papua Tengah.
“Beberapa waktu lalu saya bersama sejumlah orang yang peduli dengan perkembangan olahraga sepak bola di Mimika mengirim satu tim. Ada 12 pemain dan tiga ofisial yang berangkat ke Yogyakarta dalam event Piala Presiden. Ini pertama kalinya Papua Tengah mengirim anak-anak usia 12 tahun dari Mimika mengikuti Piala Presiden,” kata saat ditemui awak media Minggu (12/7/2026) kemarin.
Ia mengatakan, pengalaman bertanding ditingkat nasional memberikan gambaran bahwa anak-anak Papua memiliki potensi besar, namun membutuhkan pembinaan yang lebih terstruktur dan kompetisi yang rutin.
“Dari pengalaman kemarin saya melihat anak-anak punya fisik bagus, motivasi kuat, tetapi kita kalah pengalaman. Karena di sini event seperti ini tidak digelar setiap tahun,” ujar Brigjen Pol. Jermias.
Kapolda menilai, Papua memiliki banyak talenta sepak bola yang belum berkembang maksimal karena belum mendapatkan pembinaan sejak usia dini.
“Papua punya talenta luar biasa, tetapi tidak disiapkan. Harus disiapkan dari usia dini, mulai usia 10 tahun, 12 tahun, 15 tahun, sampai 17 tahun,” kata Brigjen Pol. Jermias.
Untuk itu, Kapolda Brigjen Pol. Jermias
menyiapkan program pembinaan melalui Sekolah Sepak Bola (SSB) Amungsa agar Mimika memiliki tim yang lebih siap menghadapi kompetisi nasional pada tahun mendatang.
“Tahun depan saya siapkan dari sekarang dengan SSB Amungsa. Kita akan mewakili Mimika untuk ikut Piala Presiden tahun depan. Kita siapkan dari sekarang,” ucapnya.
Kapolda berharap pembinaan tersebut dapat melahirkan pemain-pemain muda berbakat yang mampu menjadi penerus pemain besar asal Papua, termasuk Boaz Solossa.
“Kita ingin mendapatkan Boaz-Boaz pengganti yang akan datang. Tetapi talenta harus dikembangkan melalui kompetisi dan pembinaan, bukan hanya mengandalkan bakat alam,” kata Brigjen Pol. Jermias.
Selain membangun pembinaan melalui SSB, Kapolda juga mendorong pelaksanaan turnamen sepak bola tingkat pelajar di Mimika. Menurut dia, kompetisi usia dini tidak hanya mencari bibit pemain, tetapi juga membentuk karakter dan kedisiplinan anak-anak.
“Anak-anak mempersiapkan diri. Mereka tahu besok mau bermain, sehingga malam harus istirahat, mengurangi bermain HP. Itu sisi positif dari kegiatan seperti ini,” ujarnya.
Kapolda berharap dukungan pemerintah daerah, masyarakat, dan pihak swasta dapat terus diberikan agar pembinaan sepak bola usia dini di Mimika berjalan berkelanjutan dan mampu melahirkan pemain-pemain berkualitas dari Papua Tengah. (IT)






