INTAN JAYA – Upaya tim medis RSUD Intan Jaya, Provinsi Papua Tengah untuk menyelamatkan seorang bayi yang masih berada di dalam kandungan setelah ibunya meninggal akibat luka tembak akhirnya tidak membuahkan hasil. Bayi berjenis kelamin laki-laki itu lahir dalam kondisi meninggal dunia meski telah dilakukan operasi sesar sebagai langkah penyelamatan terakhir.
Korban diketahui bernama Melkiana Duwitau (31), warga Kampung Wandoga, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Melkiana tengah mengandung sekitar 32 minggu atau tujuh bulan. Selama kehamilan, ia rutin menjalani pemeriksaan kandungan, termasuk ultrasonografi (USG), di Puskesmas Bilogai, Yokatapa, Sugapa.
Peristiwa penembakan terjadi pada Kamis (2/7/2026) sekitar pukul 20.00 WIT. Saat itu Melkiana sedang beristirahat di dalam honai ketika sebuah peluru menembus dinding rumah dan mengenainya.
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan korban mengalami luka tembak pada bahu kiri serta luka akibat serpihan di bagian rahang dan telinga kiri. Luka yang dideritanya menyebabkan Melkiana meninggal dunia.
Setelah kematian korban dipastikan, tim medis RSUD Intan Jaya segera melakukan operasi pada Jumat (3/7/2026) pagi untuk mengeluarkan sekaligus berupaya menyelamatkan bayi yang masih berada di dalam kandungannya.
Anggota Tim Penanganan Konflik Kabupaten Intan Jaya, Naftali Maisini, mengatakan operasi dimulai sekitar pukul 09.00 WIT dan selesai sekitar pukul 09.30 WIT.
“Bayinya berhasil dikeluarkan melalui operasi, tetapi sudah dalam kondisi meninggal dunia,” ujar Naftali saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (3/7/2026).
Menurut Naftali, bayi tersebut berjenis kelamin laki-laki. Meski tim medis telah melakukan upaya maksimal, nyawanya tidak dapat diselamatkan.
“Operasinya berjalan dengan baik, tetapi bayinya sudah dalam keadaan meninggal dunia,” katanya.
Suasana duka menyelimuti keluarga dan masyarakat Intan Jaya setelah jenazah Melkiana dan bayinya diserahkan untuk dimakamkan.
Ratusan warga kemudian mengarak kedua jenazah mengelilingi Kota Sugapa sebagai bentuk penghormatan terakhir sekaligus ungkapan belasungkawa.
Naftali menyebut prosesi tersebut berlangsung sekitar pukul 11.40 WIT hingga 13.00 WIT. Setelah itu, kedua jenazah dibawa ke rumah duka di Kampung Wabowagapa, Desa Wandoga.
“Ratusan masyarakat mengarak dua jenazah mengelilingi Kota Sugapa. Setelah itu jenazah dibawa ke rumah duka,” tuturnya.
Peristiwa ini kembali menambah daftar warga sipil yang menjadi korban di tengah konflik bersenjata di Kabupaten Intan Jaya.
Berbagai pihak terus menyerukan pentingnya perlindungan terhadap warga sipil agar tidak menjadi korban dalam situasi konflik yang masih berlangsung.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari TPNPB maupun aparat keamanan mengenai kronologi maupun penyebab penembakan yang mengakibatkan meninggalnya Melkiana Duwitau beserta bayi yang dikandungnya.
Di rumah duka di Kampung Wabowagapa, dua jenazah dibaringkan berdampingan di tengah ratusan pelayat yang datang memberikan penghormatan terakhir. Kepergian seorang ibu dan bayi yang sempat diperjuangkan hidupnya di ruang operasi meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat setempat.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan besarnya dampak kemanusiaan dari konflik yang masih berlangsung di Intan Jaya. Di tengah situasi keamanan yang belum sepenuhnya kondusif, warga sipil kerap menjadi pihak yang paling merasakan konsekuensinya. Karena itu, berbagai kalangan kembali mendorong agar perlindungan terhadap masyarakat sipil menjadi prioritas dan setiap insiden yang menimbulkan korban dapat diusut secara transparan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. (MB)






