Menu

Mode Gelap
DPD RI Dorong Pengesahan RUU Daerah Kepulauan untuk Wujudkan Keadilan Pembangunan Maritim Perkuat Layanan Kesehatan di Pedalaman, Wilhelmus Pigai Serahkan Bantuan Obat Kemenkes RI ke Puskesmas Wangbe 700 Pelari Meriahkan Bhayangkara Fun Run 5K, Wujud Sinergi Polda Papua Tengah dan DPD BMP RI OPINI : Menggugat ke PTUN Tak Cukup Bermodal Somasi TKT Group Timika Raih 15 Medali di Thyres Taekwondo Championship 2026 Ekspor Perdana Hasil Laut Mimika Jadi Langkah Baru Papua Tengah Menembus Pasar Global

Headline

Pemuda Adat Domberai Serukan Aksi Iklim Berbasis Kampung pada Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026

Etty Welerbadge-check


					Pemuda Adat Domberai Serukan Aksi Iklim Berbasis Kampung pada Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 Perbesar

SORONG – Puluhan pemuda adat dari kawasan Domberai, Tanah Papua, menyerukan penguatan aksi iklim berbasis kampung dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang digelar di Kampung Asbaken, Distrik Makbon, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, Jumat (5/6/2026).

Melalui kegiatan bertajuk Aksi Iklim: Dari Kampung untuk Kampung, para peserta yang berasal dari berbagai wilayah di Kepala Burung Papua menyampaikan keprihatinan terhadap meningkatnya krisis iklim, kerusakan lingkungan, serta berbagai aktivitas eksploitasi sumber daya alam yang dinilai mengancam keberlangsungan hidup masyarakat adat.

 

Dalam deklarasinya, para pemuda adat menegaskan bahwa krisis iklim bukan sekadar persoalan kenaikan suhu global atau target pengurangan emisi, melainkan kenyataan yang mereka hadapi setiap hari berupa hilangnya ruang hidup, rusaknya sumber pangan, dan terancamnya identitas budaya masyarakat adat.

“Krisis iklim yang terjadi saat ini berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat adat. Perubahan musim, kerusakan hutan, abrasi pantai, hingga ancaman terhadap keanekaragaman hayati merupakan persoalan nyata yang sedang kami hadapi,” demikian isi pernyataan bersama yang dibacakan dalam kegiatan tersebut.

Para peserta juga menyoroti berbagai praktik yang dianggap mempercepat kerusakan lingkungan, seperti deforestasi, ekspansi industri bahan bakar fosil, pertambangan, pembalakan hutan, serta pengembangan perkebunan skala besar di wilayah adat.

Menurut mereka, Tanah Papua saat ini menghadapi tekanan ekologis yang semakin besar akibat berbagai proyek pembangunan berbasis ekstraksi sumber daya alam. Kondisi tersebut dinilai tidak hanya berdampak pada masyarakat adat Papua, tetapi juga berpengaruh terhadap upaya global dalam menghadapi krisis iklim.

Kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini bertujuan membangun solidaritas lintas wilayah, memperkuat jaringan perjuangan masyarakat adat, serta meningkatkan kesadaran publik terhadap isu lingkungan hidup dan keadilan iklim di Tanah Papua.

IMG 20260605 WA0050

Aksi iklim tersebut melibatkan sejumlah organisasi dan komunitas, antara lain Belantara Papua, Gerakan Tolak Bendungan, Yayasan Pusaka Bentala Rakyat, Ikatan Pelajar dan Pemuda Malaumkarta Kabupaten Sorong (IPPMAS), serta relawan Greenpeace Indonesia Basis Sorong.

Selain diskusi publik, kegiatan juga diisi dengan aksi pembersihan pantai, pemutaran film dan diskusi lingkungan, penampilan musik akustik, serta penanaman pohon sebagai bentuk kampanye pelestarian lingkungan.

IMG 20260605 WA0048

Dalam deklarasi yang diberi nama Deklarasi Kampung Asbaken, para pemuda adat menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat sipil. Tuntutan tersebut mencakup pengakuan dan perlindungan hak-hak masyarakat adat, penguatan partisipasi pemuda dan perempuan adat dalam pengambilan keputusan, penghentian praktik perusakan lingkungan di wilayah adat, serta dukungan terhadap solusi iklim yang dipimpin oleh masyarakat adat.

Mereka juga mendorong pengakuan terhadap pengetahuan tradisional masyarakat adat sebagai bagian penting dalam penyusunan kebijakan iklim dan pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan.

Menutup deklarasinya, para pemuda adat menegaskan komitmen untuk terus menjaga tanah adat, hutan, serta warisan leluhur sebagai bagian dari upaya melindungi masa depan generasi mendatang.

“Hutan hujan Tanah Papua merupakan fondasi kehidupan. Udara yang kita hirup, air yang kita minum, dan iklim yang menopang kehidupan berasal dari ekosistem ini. Untuk menjaga planet ini tetap bertahan, Tanah Papua harus tetap hidup,” demikian seruan yang disampaikan dalam deklarasi tersebut. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Langkah Tegas Demi Masa Depan Papua: 5.000 Batang Ganja Berhasil Diungkap Koops TNI Habema 

19 Juli 2026 - 08:31 WIB

IMG 20260717 WA0001

SMP Negeri 1 Tigi Timur Deiyai: Sukses Gelar MPLS 2026

19 Juli 2026 - 08:19 WIB

IMG 20260719 WA0022

Kapolres Mimika Tekankan Pentingnya Seimbangkan Prestasi Olahraga dan Pendidikan

19 Juli 2026 - 08:16 WIB

IMG 20260719 WA0007

Kokonao Jadi Tujuan Perdana Kapolres Mimika, Komitmen Hadir Hingga Wilayah Terpencil

19 Juli 2026 - 08:08 WIB

IMG 20260719 WA0004

Pertamina Tambah Pasokan Pertalite di Mimika untuk Perlancar Distribusi ke Masyarakat

19 Juli 2026 - 07:53 WIB

IMG 20260719 WA0094
Trending di Headline