DOGIYAI – Situasi keamanan di pusat Kota Moanemani, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, masih diliputi ketegangan hingga Rabu (1/4/2026), sehari setelah insiden berdarah yang terjadi pada Selasa, 31 Maret 2026.
Pantauan di lapangan menunjukkan aktivitas masyarakat lumpuh total. Jalan-jalan utama tampak sunyi, sementara sebagian warga memilih mengungsi ke wilayah yang dianggap lebih aman. Kota Moanemani bahkan digambarkan seperti “kota mati” akibat minimnya aktivitas publik.
Aparat keamanan terlihat masih bersiaga dan melakukan patroli di sejumlah titik strategis. Akses masuk menuju Kota Dogiyai diperketat, dengan pengawasan ketat terhadap setiap aktivitas masyarakat.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, jenazah seorang anggota kepolisian, Bripda Juventus Edowai, masih disemayamkan di Markas Polres Dogiyai sambil menunggu kedatangan Kapolres untuk proses selanjutnya.
Aparat juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas mencurigakan di wilayah kota, dengan peringatan akan tindakan tegas jika situasi dianggap mengancam keamanan.
Di sisi lain, sejumlah pemuda melakukan penjagaan di berbagai titik krusial serta memblokade akses jalan utama, termasuk jalur trans Nabire–Ilaga.
Beberapa titik yang dilaporkan diblokade antara lain wilayah perbatasan Dogiyai–Deiyai, kawasan Ugapuga, hingga jalur masuk dari arah timur dan barat. Material seperti batu, kayu, dan puing jalan digunakan untuk menutup akses transportasi.
Langkah ini diduga sebagai respons atas informasi adanya pergerakan aparat gabungan dari wilayah sekitar menuju Dogiyai.
Aparat pemerintah distrik dan kampung juga turun langsung melakukan pemantauan, investigasi awal, serta langkah mitigasi. Mereka bekerja bersama tim kecil, termasuk wartawan lokal, untuk mendata korban dan perkembangan situasi di lapangan.
Sementara itu, aktivitas ekonomi hanya dilakukan secara terbatas oleh mama-mama pasar yang diizinkan berjualan oleh aparat keamanan.
Hingga kini, belum ada data resmi dari pihak berwenang terkait jumlah korban. Namun, berdasarkan informasi yang beredar, korban diperkirakan mencapai sekitar sembilan orang, terdiri dari aparat keamanan dan warga sipil.
Korban dilaporkan mengalami luka tembak, luka berat di bagian kepala, hingga meninggal dunia di lokasi kejadian. Selain itu, terdapat korban luka serius yang masih dalam kondisi kritis.
Kerugian material juga dilaporkan terjadi, termasuk pembakaran kendaraan dan bangunan di sekitar pusat kota.
Pasca kejadian, muncul ketegangan sosial di tengah masyarakat. Sejumlah pihak menuntut pengungkapan pelaku secara transparan, sementara berbagai spekulasi terkait motif dan aktor di balik peristiwa tersebut terus berkembang.
Belum adanya hasil investigasi resmi membuat informasi di lapangan masih simpang siur.
Gelombang pengungsian dilaporkan terjadi di beberapa titik. Warga yang tinggal di sekitar pusat konflik memilih mengungsi ke kampung lain hingga ke wilayah pegunungan untuk menghindari risiko kekerasan lanjutan.
Selain itu, dilaporkan masih terjadi ketegangan antara kelompok pemuda dan aparat keamanan di wilayah perbatasan Dogiyai dan Deiyai.
Sejumlah kalangan mendesak agar dilakukan investigasi menyeluruh, independen, dan transparan terhadap insiden ini. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengungkap fakta sebenarnya serta mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.
Masyarakat juga diimbau untuk tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi. (MB)









