TIMIKA – Program pengelolaan sampah melalui bank sampah yang digagas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mimika hingga kini belum berjalan maksimal. Rendahnya partisipasi masyarakat menjadi salah satu kendala utama dalam pelaksanaan program tersebut.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Mimika, Jefry Deda, mengatakan bahwa sejak diluncurkan pada tahun lalu, program bank sampah belum mendapat respons yang signifikan dari warga. Padahal, DLH telah menyiapkan berbagai langkah untuk mendukung pengelolaan sampah berbasis masyarakat tersebut.
Menurutnya, pihak DLH bahkan telah memberikan pelatihan kepada pengelola bank sampah. Namun keberhasilan program ini sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat untuk mulai mengumpulkan dan memilah sampah dari rumah tangga.
“Program ini sebenarnya sudah kami siapkan, termasuk pelatihannya. Sekarang tinggal bagaimana pengelola menyampaikan kepada masyarakat bahwa sampah yang mereka kumpulkan bisa ditampung,” ujar Jefry saat ditemui, Senin (16/3/2026).
Ia menilai, rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah masih menjadi persoalan serius. Padahal, jika dikelola dengan baik melalui bank sampah, volume sampah dapat berkurang sekaligus meminimalkan risiko banjir akibat saluran air yang tersumbat.
Karena itu, DLH Mimika berharap adanya dukungan dari pemerintah di tingkat distrik hingga kampung untuk turut mendorong masyarakat agar lebih aktif memilah dan mengelola sampah. Ke depan, DLH juga berencana meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat guna menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Jefry menambahkan, masih banyak warga yang menganggap membuang sampah ke saluran air lebih mudah dibandingkan mengumpulkannya untuk dibawa ke bank sampah.
“Padahal jika terus dibuang ke kali atau saluran air, dampaknya bisa menimbulkan banjir. Ini yang perlu kita ubah bersama, bahwa mengelola sampah dengan baik justru lebih bermanfaat,” tegasnya. (CR2)








