DEIYAI – Upaya penyelesaian konflik sosial di Distrik Kapiraya, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah, kembali mengalami hambatan. Tim Harmonisasi Kabupaten Deiyai dihadang saat hendak memasuki wilayah tersebut melalui jalur laut dari Timika, Selasa (2/3/2016) sekitar pukul 09.23 WIT.
Rombongan bertolak dari Pelabuhan Pomako, Timika, pada Senin (2/3) pagi menggunakan satu kapal feri dan dua speedboat. Selain membawa tim pemerintah dan tokoh masyarakat, rombongan juga mengangkut bantuan bahan makanan (bama) untuk warga terdampak konflik.
Tim dipimpin Ernes Kotouki, S.IP, serta didampingi Kepala Bagian Tata Pemerintahan (Kabag Tapem), Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasat Pol PP), Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Deiyai, Kepala Suku Papua Tengah, Kepala Suku Mee Kapiraya, serta sejumlah perwakilan masyarakat Kapiraya.
Wakil Ketua I DPRD Deiyai, Linus Koto, menjelaskan rombongan sempat memasuki wilayah muara Kali Yawei sebelum akhirnya dihadang oleh warga Suku Kamoro.
“Kami berangkat dari Timika sejak pagi. Saat tiba di muara Kali Yawei, masyarakat Kamoro melihat kedatangan kami dan melepaskan tembakan peringatan sebagai tanda bahwa kami tidak diperbolehkan masuk,” ujar Linus.
Menurutnya, situasi di sekitar pelabuhan tampak tegang. Sejumlah warga terlihat berjaga dengan membawa tombak dan anak panah. Bahkan, dua speedboat berisi warga dilaporkan sempat mengejar rombongan tim.
Dengan mempertimbangkan faktor keamanan, tim memutuskan tidak melanjutkan perjalanan menuju Kapiraya dan kembali ke Timika. Akibatnya, bantuan bahan makanan seperti beras dan kebutuhan pokok lainnya yang telah disiapkan belum dapat disalurkan kepada masyarakat.
Peristiwa ini membuat agenda dialog serta penyaluran bantuan bagi warga terdampak konflik kembali tertunda. Pemerintah daerah berencana melakukan koordinasi lanjutan dengan pihak-pihak terkait guna memastikan situasi kondusif sebelum upaya mediasi dan distribusi bantuan kembali dilaksanakan. (SK)








