Menu

Mode Gelap
DPD RI Sampaikan Respons atas Situasi Keamanan Papua, Dorong Penyelesaian Menyeluruh Natalius Pigai Soroti Insiden Berdarah di Papua Tengah, Minta Penyelidikan Menyeluruh Menteri HAM Tolak Pelaporan Jusuf Kalla, Dorong Penyelesaian Lewat Dialog Senator Papua Tengah Wilhelmus Pigai Soroti Temuan BPS: Penyaluran Bansos Harus Ketat Sesuai Kriteria Breaking News : Ruang Terpadu RSUD Paniai Terbakar Hangus DPD RI Dorong Percepatan RUU Bahasa Daerah, Ratusan Bahasa Terancam Punah

Headline

Tangisan Ibu di Kapiraya Viral, Cermin Luka Panjang Konflik Tapal Batas Mimika–Deiyai

Etty Welerbadge-check


					Tangisan Ibu di Kapiraya Viral, Cermin Luka Panjang Konflik Tapal Batas Mimika–Deiyai Perbesar

TIMIKA (Kapiraya) – Peristiwa bentrokan antar dua kelompok warga di Kampung Kapiraya, Distrik Mimika Barat Tengah, Kabupaten Mimika, pada 10 Februari 2026, kembali membuka luka lama konflik tapal batas antara Kabupaten Mimika dan Kabupaten Deiyai yang hingga kini belum tuntas.

Di tengah situasi tersebut, sebuah rekaman suara seorang ibu dalam bahasa daerah Mee viral di berbagai grup WhatsApp dan media sosial, Jumat (13/2/2026). Rekaman itu merekam tangisan dan jeritan hati seorang warga yang menyaksikan langsung dampak konflik di wilayah selatan Kapiraya.

Berikut kutipan asli bahasa Mee :

Bahasa Daerah Mee

“Koya Abata group doba topa imo, Aniki Hegetegao kuko magiyo? Kou iniya selatan makiyo kampung wiya bodiyaka mumai. Meeko yamo padaa ka kikena koukena tetee.”

Dalam terjemahan bahasa Indonesia, ungkapan tersebut menggambarkan kesedihan mendalam seorang ibu yang menangis karena wilayah selatan Kapiraya, dua kampung dilaporkan dibakar habis dan suara tembakan terdengar ke sana kemari.

Tangisan itu tidak berhenti di situ. Dalam rekaman lanjutan, sang ibu juga menyampaikan kekecewaannya terhadap para pemimpin yang dipilih rakyat, dengan kembali menggunakan bahasa daerah Mee.

Bahasa Daerah Mee

“Wakouto DPR kabupaten na DPR provinsi na suara minetege wiya kede amewei , iniwa enaimo bupati ma gubernur epa uwino anito kagagagaoo kowayakeii.”

Jika diterjemahkan, ibu tersebut mengingatkan bahwa masyarakat telah memberikan suara kepada DPR kabupaten Deiyai dan DPR Provinsi Papua Tengah yang kini duduk di kursi legislatif. Ia mengajak para wakil rakyat, bupati Deiyai, dan gubernur Papua Tengah untuk datang langsung ke lokasi kejadian dan bergandengan tangan menyelesaikan persoalan, karena dirinya tidak mampu menjangkau mereka.

Rekaman suara ini dengan cepat menyebar luas, dibagikan dari satu grup WhatsApp ke grup lainnya, hingga menjadi perbincangan hangat di media sosial. Ungkapan pilu tersebut dinilai sebagai suara nurani warga kecil yang terjepit di tengah konflik berkepanjangan, kehilangan rasa aman, serta berharap kehadiran nyata negara dan para pemimpin di tengah penderitaan rakyat. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Seleksi Administrasi Calon Pimpinan BAZNAS Papua Tuntas Diverifikasi

22 April 2026 - 11:37 WIB

IMG 20260422 WA0010

Kemenag Tegaskan Tidak Ada Kebijakan Uang Kas Masjid Dikelola Pemerintah

22 April 2026 - 11:30 WIB

IMG 20260421 WA0039

Pemkab Mimika Evaluasi Layanan Publik, Wabup Tekankan Kepercayaan Masyarakat

22 April 2026 - 11:26 WIB

IMG 20260422 WA0030

Distribusi Guru di Mimika Akan Ditata Ulang, Dinas Pendidikan Targetkan Pemerataan

22 April 2026 - 11:19 WIB

20260421

Komisi A DPRK Paniai Gelar Hearing Bersama OPD, Tekankan Peningkatan Pelayanan Publik

22 April 2026 - 11:13 WIB

IMG 20260422 WA0035
Trending di Headline