Menu ✖

Mode Gelap
Papua Tengah Terang untuk Sugapa, Listrik Gratis 24 Jam Ditargetkan Mulai Desember 2026 Komite IV DPD RI Evaluasi Realisasi TKD dan Dana Otsus di Papua Papua di Ambang Pintu Neraka atau Surga: Refleksi Kemanusiaan atas Konflik dan Perdamaian Isu Reshuffle Kabinet, Natalius Pigai: Saya Tak Pernah Bermimpi Jadi Menteri TNI AD dan DPD RI Turun Tangan Atasi Masalah Infrastruktur Daerah Komite IV DPD RI Rampungkan Uji Kelayakan 23 Calon Anggota BPK RI

Headline

Tangisan Ibu di Kapiraya Viral, Cermin Luka Panjang Konflik Tapal Batas Mimika–Deiyai

Etty Welerbadge-check


					Tangisan Ibu di Kapiraya Viral, Cermin Luka Panjang Konflik Tapal Batas Mimika–Deiyai Perbesar

TIMIKA (Kapiraya) – Peristiwa bentrokan antar dua kelompok warga di Kampung Kapiraya, Distrik Mimika Barat Tengah, Kabupaten Mimika, pada 10 Februari 2026, kembali membuka luka lama konflik tapal batas antara Kabupaten Mimika dan Kabupaten Deiyai yang hingga kini belum tuntas.

Di tengah situasi tersebut, sebuah rekaman suara seorang ibu dalam bahasa daerah Mee viral di berbagai grup WhatsApp dan media sosial, Jumat (13/2/2026). Rekaman itu merekam tangisan dan jeritan hati seorang warga yang menyaksikan langsung dampak konflik di wilayah selatan Kapiraya.

Berikut kutipan asli bahasa Mee :

Bahasa Daerah Mee

“Koya Abata group doba topa imo, Aniki Hegetegao kuko magiyo? Kou iniya selatan makiyo kampung wiya bodiyaka mumai. Meeko yamo padaa ka kikena koukena tetee.”

Dalam terjemahan bahasa Indonesia, ungkapan tersebut menggambarkan kesedihan mendalam seorang ibu yang menangis karena wilayah selatan Kapiraya, dua kampung dilaporkan dibakar habis dan suara tembakan terdengar ke sana kemari.

Tangisan itu tidak berhenti di situ. Dalam rekaman lanjutan, sang ibu juga menyampaikan kekecewaannya terhadap para pemimpin yang dipilih rakyat, dengan kembali menggunakan bahasa daerah Mee.

Bahasa Daerah Mee

“Wakouto DPR kabupaten na DPR provinsi na suara minetege wiya kede amewei , iniwa enaimo bupati ma gubernur epa uwino anito kagagagaoo kowayakeii.”

Jika diterjemahkan, ibu tersebut mengingatkan bahwa masyarakat telah memberikan suara kepada DPR kabupaten Deiyai dan DPR Provinsi Papua Tengah yang kini duduk di kursi legislatif. Ia mengajak para wakil rakyat, bupati Deiyai, dan gubernur Papua Tengah untuk datang langsung ke lokasi kejadian dan bergandengan tangan menyelesaikan persoalan, karena dirinya tidak mampu menjangkau mereka.

Rekaman suara ini dengan cepat menyebar luas, dibagikan dari satu grup WhatsApp ke grup lainnya, hingga menjadi perbincangan hangat di media sosial. Ungkapan pilu tersebut dinilai sebagai suara nurani warga kecil yang terjepit di tengah konflik berkepanjangan, kehilangan rasa aman, serta berharap kehadiran nyata negara dan para pemimpin di tengah penderitaan rakyat. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

HMI Cabang Mimika dan GPII Papua Tengah Bagikan 150 Masker Gratis, Desak Pemkab Antisipasi Dampak Kabut Asap

11 Oktober 2026 - 02:43 WIB

IMG 20261011 114058

Papua Tengah Terang untuk Sugapa, Listrik Gratis 24 Jam Ditargetkan Mulai Desember 2026

11 Oktober 2026 - 02:09 WIB

IMG 20261011 WA0025

Mimika Genap 30 Tahun, Keluarga Perintis Pemekaran Pertanyakan Pengakuan atas Jasa Orang Tua “Jangan Dihapus dari Sejarah”

10 Oktober 2026 - 07:22 WIB

IMG 20261010 WA0011

Polres Mimika Dorong Pelajar SMP Negeri 10 Manfaatkan Peluang Beasiswa SMA Kemala Taruna Bhayangkara

10 Oktober 2026 - 06:37 WIB

IMG 20261010 WA0009

Pria Ditemukan Meninggal Dunia di Sebuah Kamar Hotel, Polisi Lakukan Penyelidikan

10 Oktober 2026 - 06:32 WIB

IMG 20261010 WA0007
Trending di Headline