TIMIKA (Kapiraya) – Peristiwa bentrokan antar dua kelompok warga di Kampung Kapiraya, Distrik Mimika Barat Tengah, Kabupaten Mimika, pada 10 Februari 2026, kembali membuka luka lama konflik tapal batas antara Kabupaten Mimika dan Kabupaten Deiyai yang hingga kini belum tuntas.
Di tengah situasi tersebut, sebuah rekaman suara seorang ibu dalam bahasa daerah Mee viral di berbagai grup WhatsApp dan media sosial, Jumat (13/2/2026). Rekaman itu merekam tangisan dan jeritan hati seorang warga yang menyaksikan langsung dampak konflik di wilayah selatan Kapiraya.
Berikut kutipan asli bahasa Mee :
Bahasa Daerah Mee
“Koya Abata group doba topa imo, Aniki Hegetegao kuko magiyo? Kou iniya selatan makiyo kampung wiya bodiyaka mumai. Meeko yamo padaa ka kikena koukena tetee.”
Dalam terjemahan bahasa Indonesia, ungkapan tersebut menggambarkan kesedihan mendalam seorang ibu yang menangis karena wilayah selatan Kapiraya, dua kampung dilaporkan dibakar habis dan suara tembakan terdengar ke sana kemari.
Tangisan itu tidak berhenti di situ. Dalam rekaman lanjutan, sang ibu juga menyampaikan kekecewaannya terhadap para pemimpin yang dipilih rakyat, dengan kembali menggunakan bahasa daerah Mee.
Bahasa Daerah Mee
“Wakouto DPR kabupaten na DPR provinsi na suara minetege wiya kede amewei , iniwa enaimo bupati ma gubernur epa uwino anito kagagagaoo kowayakeii.”
Jika diterjemahkan, ibu tersebut mengingatkan bahwa masyarakat telah memberikan suara kepada DPR kabupaten Deiyai dan DPR Provinsi Papua Tengah yang kini duduk di kursi legislatif. Ia mengajak para wakil rakyat, bupati Deiyai, dan gubernur Papua Tengah untuk datang langsung ke lokasi kejadian dan bergandengan tangan menyelesaikan persoalan, karena dirinya tidak mampu menjangkau mereka.
Rekaman suara ini dengan cepat menyebar luas, dibagikan dari satu grup WhatsApp ke grup lainnya, hingga menjadi perbincangan hangat di media sosial. Ungkapan pilu tersebut dinilai sebagai suara nurani warga kecil yang terjepit di tengah konflik berkepanjangan, kehilangan rasa aman, serta berharap kehadiran nyata negara dan para pemimpin di tengah penderitaan rakyat. (MB)








