Menu

Mode Gelap
DPD RI Sampaikan Respons atas Situasi Keamanan Papua, Dorong Penyelesaian Menyeluruh Natalius Pigai Soroti Insiden Berdarah di Papua Tengah, Minta Penyelidikan Menyeluruh Menteri HAM Tolak Pelaporan Jusuf Kalla, Dorong Penyelesaian Lewat Dialog Senator Papua Tengah Wilhelmus Pigai Soroti Temuan BPS: Penyaluran Bansos Harus Ketat Sesuai Kriteria Breaking News : Ruang Terpadu RSUD Paniai Terbakar Hangus DPD RI Dorong Percepatan RUU Bahasa Daerah, Ratusan Bahasa Terancam Punah

Headline

YLBH Papua Tengah Tolak Pembukaan Lahan Sawit di Papua, Yosep Temorubun: Hutan Ini Bukan Tanah Kosong 

Etty Welerbadge-check


					YLBH Papua Tengah Tolak Pembukaan Lahan Sawit di Papua, Yosep Temorubun: Hutan Ini Bukan Tanah Kosong  Perbesar

TIMIKA – Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBH) Papua Tengah menyatakan penolakan tegas terhadap rencana pemerintah pusat membuka lahan perkebunan kelapa sawit di wilayah Papua. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi mengancam keberlangsungan hidup masyarakat adat serta merusak kelestarian lingkungan.

YLBH Papua Tengah, Yosep Temorubun menegaskan bahwa hutan Papua bukanlah lahan kosong, melainkan tanah adat yang memiliki nilai sosial, budaya, dan ekologis bagi masyarakat asli Papua. Oleh karena itu, setiap kebijakan yang menyangkut pengelolaan hutan seharusnya melibatkan dan menghormati hak ulayat masyarakat adat.

Dalam pernyataannya, YLBH Papua Tengah menilai pembukaan lahan sawit berpotensi menjadi bentuk kepentingan ekonomi tertentu yang melibatkan korporasi besar. Mereka menilai kebijakan tersebut dapat membawa dampak serius terhadap lingkungan, termasuk deforestasi, kerusakan ekosistem, serta meningkatnya risiko bencana alam.

“Pembukaan lahan sawit di Papua sama artinya dengan mempercepat kerusakan hutan yang selama ini menjadi salah satu penyangga lingkungan dunia. Dampaknya bukan hanya bagi Papua, tetapi juga terhadap perubahan iklim global,” demikian pernyataan Ketua YLBH Papua Tengah.

Yosep juga mengingatkan bahwa pengalaman di sejumlah daerah lain di Indonesia menunjukkan bahwa alih fungsi hutan menjadi perkebunan skala besar kerap berujung pada bencana ekologis, seperti banjir dan longsor, yang pada akhirnya merugikan masyarakat setempat.

Lebih lanjut, YLBH Papua Tengah menilai masyarakat Papua tidak membutuhkan ekspansi perkebunan sawit, melainkan pembangunan yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan, pendidikan, kesehatan, serta infrastruktur dasar yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

“Masyarakat adat adalah pemilik sah tanah Papua. Pembangunan seharusnya dilakukan dengan menghormati hak-hak mereka, bukan justru mengorbankan ruang hidup demi kepentingan ekonomi,” tegas YLBH.

YLBH Papua Tengah juga menyatakan akan mengonsolidasikan masyarakat sipil dan elemen rakyat Papua apabila pemerintah pusat tetap memaksakan kebijakan tersebut. Mereka menegaskan penolakan terhadap segala bentuk kebijakan yang dinilai berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan dan penderitaan bagi rakyat Papua. (ET)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kesiapan Capai 99 Persen, Musorkablub KONI Mimika Siap Digelar 1 Mei 2026 

29 April 2026 - 13:48 WIB

IMG 20260429 WA0185

Turun ke Jalan, Polisi Fokus Pengamanan Lalulintas Bagi Pelajar di Timika 

29 April 2026 - 13:40 WIB

IMG 20260429 WA0120

Kolaborasi Aparat Kepolisian dan Pemerintah Distrik Tembagapura Gerak Cepat Salurkan Bantuan Kepada Korban Longsor 

29 April 2026 - 13:34 WIB

IMG 20260429 WA0118

Gubernur Papua Tengah Tekankan Penguatan Nasionalisme dalam Seminar Wawasan Kebangsaan di Nabire

29 April 2026 - 13:13 WIB

IMG 20260429 WA0112

Perkuat Nasionalisme, BMP RI Papua Tengah Ajak Generasi Muda Pahami Sejarah Kembalinya Papua ke NKRI

29 April 2026 - 11:59 WIB

IMG 20260429 WA0016
Trending di Headline