NABIRE – Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan akan mulai menerapkan Program Sekolah Sepanjang Hari (SSH) di tiga kabupaten sebagai proyek percontohan. Tiga daerah tersebut adalah Kabupaten Mimika, Nabire, dan Paniai.
Program ini dipilih sebagai strategi mempercepat peningkatan mutu pendidikan sekaligus menekan angka putus sekolah, khususnya di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
“Kami ingin memastikan semua pihak memahami konsep SSH dengan jelas, mulai dari durasi belajar, metode pembelajaran, hingga dukungan bagi anak-anak Papua di wilayah 3T,” ujar Kepala Bidang Pengelolaan Data dan Fasilitas Pendidikan, Yulianus Kuayo. Jumat, (01/08/2025) lalu.
Kuayo menjelaskan, SSH merupakan salah satu program prioritas Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, di bidang pendidikan. Melalui sistem belajar yang lebih panjang dan terstruktur, SSH diharapkan mampu menghadirkan pendidikan yang bermutu, adil, dan ramah anak, terutama bagi siswa di daerah yang selama ini kurang terjangkau layanan pendidikan.
“Ini bagian dari misi Papua Tengah Terang—membuka akses pendidikan lebih luas bagi anak-anak Papua, agar mereka punya kesempatan belajar yang setara,” tegas Kuayo.
Untuk tahap awal, setiap kabupaten diminta mengusulkan lebih dari dua sekolah yang memenuhi kriteria. Pemerintah provinsi kemudian akan memilih satu hingga dua sekolah di tiap daerah sebagai lokasi uji coba.
“Di Mimika, lokusnya sudah ditetapkan di Kokonau. Untuk Nabire dan Paniai, kami masih menunggu usulan sekolahnya,” jelasnya.
Kuayo berharap, pelaksanaan SSH bisa menjadi tonggak penting pemerataan pendidikan di Papua Tengah. “Target kami bukan hanya menurunkan angka putus sekolah, tapi juga menciptakan lingkungan belajar yang humanis, memberdayakan, dan mempersiapkan generasi muda Papua untuk masa depan,” pungkasnya.






