JAKARTA – Komisi I DPR RI resmi menuntaskan fit and proper test terhadap 24 calon duta besar Republik Indonesia untuk negara-negara sahabat. Hasilnya, seluruh fraksi di Komisi I sepakat untuk meloloskan seluruh kandidat ke tahap berikutnya: pengesahan di rapat paripurna.
Anggota Komisi I DPR, Dave Laksono, mengungkapkan kepuasannya terhadap kualitas para calon dubes yang dinilainya sangat kompeten. Ia menyebut bahwa seluruh calon telah memahami peran mereka dalam merealisasikan visi misi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Mereka semua mumpuni dan memahami tanggung jawabnya. Mereka tidak membawa visi pribadi, tapi menyusun rencana kerja yang selaras dengan visi-misi pemerintah,” ujar Dave usai uji kelayakan di Kompleks Parlemen, Senayan, Minggu (6/7).
Menurut Dave, para kandidat berasal dari latar belakang yang beragam—mulai dari diplomat karier, pengusaha, militer, hingga politisi. Namun mayoritas, kata dia, berasal dari jalur karier diplomatik.
Budi Djiwandono: “Pilihan Presiden Sudah Melalui Pertimbangan Matang”
Senada, Anggota Komisi I lainnya, Budi Djiwandono, juga menyampaikan kepuasannya terhadap kualitas para calon dubes. Ia meyakini Presiden Prabowo telah menyeleksi nama-nama tersebut dengan pertimbangan matang.
“Saya pribadi puas. Saya yakin pilihan Presiden adalah hasil evaluasi mendalam. Mereka ini benar-benar tokoh-tokoh kelas berat,” ucap Budi, yang juga keponakan Presiden Prabowo.
Budi bahkan menyebut bahwa 48 jam terakhir selama proses seleksi memperlihatkan kualitas “heavyweight” dari para calon, baik dari sisi pengalaman diplomatik, penempatan sebelumnya sebagai dubes, maupun jaringan internasional yang kuat.
Siap Ditetapkan di Paripurna
Dengan tuntasnya proses seleksi, Komisi I DPR sepakat untuk menyerahkan 24 nama tersebut kepada pimpinan DPR. Selanjutnya, nama-nama itu akan dibawa ke rapat paripurna untuk disahkan dan diteruskan ke Presiden Prabowo untuk pelantikan resmi.
Selama dua hari pelaksanaan fit and proper test (Sabtu–Minggu, 5–6 Juli), para calon dubes dibagi dalam empat sesi. Setiap sesi menguji enam kandidat. Topik yang didalami antara lain program kerja, pemahaman terhadap politik luar negeri, dan strategi diplomasi yang sejalan dengan agenda geopolitik pemerintahan Prabowo-Gibran.






