Menu

Mode Gelap
Perkuat Layanan Kesehatan di Pedalaman, Wilhelmus Pigai Serahkan Bantuan Obat Kemenkes RI ke Puskesmas Wangbe 700 Pelari Meriahkan Bhayangkara Fun Run 5K, Wujud Sinergi Polda Papua Tengah dan DPD BMP RI OPINI : Menggugat ke PTUN Tak Cukup Bermodal Somasi TKT Group Timika Raih 15 Medali di Thyres Taekwondo Championship 2026 Ekspor Perdana Hasil Laut Mimika Jadi Langkah Baru Papua Tengah Menembus Pasar Global Pendidikan Jadi Kunci Masa Depan Papua, Meki Nawipa Apresiasi Beasiswa Puncak Cerdas

News

Berani Tes, Berani Lindungi Diri: Kemenkes Pacu Eliminasi HIV dan IMS di 2030

adminbadge-check


					Ilustrasi Perbesar

Ilustrasi

JAKARTA – Pemerintah Indonesia memasang target ambisius: mengeliminasi HIV dan Infeksi Menular Seksual (IMS) pada tahun 2030. Melalui pendekatan masif edukasi, deteksi dini, dan pengobatan yang tepat sasaran, Kementerian Kesehatan RI terus memperkuat langkah pencegahan dan pengendalian dua penyakit menular yang masih menjadi momok ini.

“Berani tes, berani lindungi diri” menjadi semangat baru dalam kampanye nasional Kemenkes. Data terkini menunjukkan Indonesia berada di peringkat ke-14 dunia dalam jumlah orang dengan HIV (ODHIV) dan peringkat ke-9 untuk kasus infeksi baru. Diperkirakan, akan ada 564.000 ODHIV pada 2025, namun baru 63% yang mengetahui statusnya.

Dari yang mengetahui, 67% menjalani terapi ARV, dan hanya 55% yang mencapai viral load tersupresi—kondisi di mana virus tidak terdeteksi dan risiko penularan sangat rendah.

“Sebanyak 76% kasus HIV terkonsentrasi di 11 provinsi prioritas,” ujar dr. Ina Agustina, Direktur Penyakit Menular Kemenkes, dalam temu media daring pada Jumat (20/6). Wilayah tersebut antara lain: DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Bali, Papua, Papua Tengah, Sulawesi Selatan, Banten, dan Kepulauan Riau.

IMS Meningkat, Anak Muda Jadi Kelompok Rentan

Meski angka positif HIV relatif stagnan dalam tiga tahun terakhir, kasus IMS justru melonjak, terutama di kalangan anak muda. Tahun lalu, tercatat 23.347 kasus sifilis, mayoritas berupa sifilis dini. Lebih mengkhawatirkan, 77 di antaranya adalah sifilis kongenital—menular dari ibu ke bayi. Gonore juga meningkat signifikan, terutama di wilayah DKI Jakarta.

“IMS bukan hanya soal kesehatan individu, tapi juga krisis kesehatan publik,” tegas dr. Ina. “IMS mempermudah penularan HIV, dan paling banyak terjadi pada kelompok usia produktif 25–49 tahun. Bahkan kini mulai meningkat di usia 15–19 tahun.”

Human Papillomavirus (HPV), salah satu IMS penyebab kanker serviks, juga menjadi perhatian khusus, karena sering kali tak menunjukkan gejala awal, terutama pada perempuan.

Bahaya IMS: Dari Infertilitas hingga Kematian Bayi

Menurut dr. dr. Hanny Nilasari dari Departemen Dermatologi dan Venereologi FKUI-RSCM, banyak penderita IMS tidak menyadari infeksinya karena tidak bergejala. Akibatnya, penanganan sering terlambat dan berujung pada komplikasi serius seperti:

  • Radang panggul

  • Kehamilan ektopik

  • Infertilitas

  • Kematian neonatal dan kelahiran prematur

“Tren IMS naik, usia penderita makin muda, bahkan sudah banyak kasus kehamilan tidak diinginkan pada remaja yang berujung pada aborsi,” jelas dr. Hanny. Ia menekankan pentingnya skrining rutin dan edukasi reproduksi sejak dini.

Gejala umum IMS antara lain luka atau lenting di area kelamin, cairan abnormal, nyeri saat buang air kecil, ruam, dan pembengkakan kelenjar.

Langkah Nyata Menuju 2030: Target 95-95-95

Untuk mencapai target eliminasi HIV dan IMS 2030, Kemenkes menerapkan strategi 95-95-95:

  • 95% ODHIV mengetahui statusnya

  • 95% dari yang tahu menjalani terapi

  • 95% dari yang diobati mencapai supresi virus

Di sisi lain, pemerintah juga menargetkan eliminasi sifilis dan gonore hingga 90%, serta eliminasi penularan HIV, sifilis, dan hepatitis B dari ibu ke anak (triple elimination).

Saat ini, layanan tes HIV telah tersedia di 514 kabupaten/kota, layanan IMS di 504 kabupaten/kota, dan tes viral load di 192 kabupaten/kota. Pemerintah juga terus menggencarkan pendekatan ABCDE:

  • Abstinence – tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah

  • Be faithful – setia pada satu pasangan

  • Condom – penggunaan kondom untuk kelompok berisiko

  • Drugs – hindari penggunaan narkoba

  • Education – edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bupati Dogiyai Pastikan Gaji Honorer Tetap Dibayar Hingga Akhir 2026, Siapkan Solusi Jelang Penghapusan Status Non-ASN

14 Juli 2026 - 11:55 WIB

IMG 20260714 WA0162

MPLS SMK Negeri 2 Nabire, Dinas Pendidikan Ingatkan Bahaya Bullying dan Penyalahgunaan Media Sosial

14 Juli 2026 - 11:51 WIB

IMG 20260714 WA0156

MPLS SMK Negeri 2 Teknologi dan Rekayasa Nabire Resmi Dibuka, 480 Siswa Baru Siap Tempuh Pendidikan Vokasi

14 Juli 2026 - 11:47 WIB

IMG 20260714 WA0155

SMKS Kesehatan Anigou Nabire Gelar MPLS 2026, Tanamkan Kemandirian dan Semangat Berprestasi bagi Peserta Didik Baru

14 Juli 2026 - 07:06 WIB

IMG 20260714 WA0141

Resmi Jabat Kapolres Mimika, AKBP Alredo Prioritaskan Keberlanjutan Program dan Peningkatan Pelayanan Kepada Masyarakat

14 Juli 2026 - 07:01 WIB

IMG 20260714 WA0136
Trending di Headline