Menu

Mode Gelap
Komite IV DPD RI Siapkan Uji Kelayakan dan Kepatutan 23 Calon Anggota BPK Periode 2026–2031 Anggota BULD DPD RI Wilhelmus Pigai Soroti Pemerataan Pendidikan di Papua Wilhelmus Pigai: APBN 2027 Harus Berdampak Nyata bagi Masyarakat Daerah HUT ke-81 MPR-DPR, DPD Dorong Parlemen Perkuat Kolaborasi dan Aspirasi Rakyat IKB PMKJ Jabodetabek Tempa Generasi Muda Jayawijaya Jadi Calon Pemimpin Papua Wilhelmus Pigai Serahkan Hadiah Quiz HUT ke-81 RI untuk Pelajar hingga Mahasiswa

News

Berani Tes, Berani Lindungi Diri: Kemenkes Pacu Eliminasi HIV dan IMS di 2030

adminbadge-check


					Ilustrasi Perbesar

Ilustrasi

JAKARTA – Pemerintah Indonesia memasang target ambisius: mengeliminasi HIV dan Infeksi Menular Seksual (IMS) pada tahun 2030. Melalui pendekatan masif edukasi, deteksi dini, dan pengobatan yang tepat sasaran, Kementerian Kesehatan RI terus memperkuat langkah pencegahan dan pengendalian dua penyakit menular yang masih menjadi momok ini.

“Berani tes, berani lindungi diri” menjadi semangat baru dalam kampanye nasional Kemenkes. Data terkini menunjukkan Indonesia berada di peringkat ke-14 dunia dalam jumlah orang dengan HIV (ODHIV) dan peringkat ke-9 untuk kasus infeksi baru. Diperkirakan, akan ada 564.000 ODHIV pada 2025, namun baru 63% yang mengetahui statusnya.

Dari yang mengetahui, 67% menjalani terapi ARV, dan hanya 55% yang mencapai viral load tersupresi—kondisi di mana virus tidak terdeteksi dan risiko penularan sangat rendah.

“Sebanyak 76% kasus HIV terkonsentrasi di 11 provinsi prioritas,” ujar dr. Ina Agustina, Direktur Penyakit Menular Kemenkes, dalam temu media daring pada Jumat (20/6). Wilayah tersebut antara lain: DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Bali, Papua, Papua Tengah, Sulawesi Selatan, Banten, dan Kepulauan Riau.

IMS Meningkat, Anak Muda Jadi Kelompok Rentan

Meski angka positif HIV relatif stagnan dalam tiga tahun terakhir, kasus IMS justru melonjak, terutama di kalangan anak muda. Tahun lalu, tercatat 23.347 kasus sifilis, mayoritas berupa sifilis dini. Lebih mengkhawatirkan, 77 di antaranya adalah sifilis kongenital—menular dari ibu ke bayi. Gonore juga meningkat signifikan, terutama di wilayah DKI Jakarta.

“IMS bukan hanya soal kesehatan individu, tapi juga krisis kesehatan publik,” tegas dr. Ina. “IMS mempermudah penularan HIV, dan paling banyak terjadi pada kelompok usia produktif 25–49 tahun. Bahkan kini mulai meningkat di usia 15–19 tahun.”

Human Papillomavirus (HPV), salah satu IMS penyebab kanker serviks, juga menjadi perhatian khusus, karena sering kali tak menunjukkan gejala awal, terutama pada perempuan.

Bahaya IMS: Dari Infertilitas hingga Kematian Bayi

Menurut dr. dr. Hanny Nilasari dari Departemen Dermatologi dan Venereologi FKUI-RSCM, banyak penderita IMS tidak menyadari infeksinya karena tidak bergejala. Akibatnya, penanganan sering terlambat dan berujung pada komplikasi serius seperti:

  • Radang panggul

  • Kehamilan ektopik

  • Infertilitas

  • Kematian neonatal dan kelahiran prematur

“Tren IMS naik, usia penderita makin muda, bahkan sudah banyak kasus kehamilan tidak diinginkan pada remaja yang berujung pada aborsi,” jelas dr. Hanny. Ia menekankan pentingnya skrining rutin dan edukasi reproduksi sejak dini.

Gejala umum IMS antara lain luka atau lenting di area kelamin, cairan abnormal, nyeri saat buang air kecil, ruam, dan pembengkakan kelenjar.

Langkah Nyata Menuju 2030: Target 95-95-95

Untuk mencapai target eliminasi HIV dan IMS 2030, Kemenkes menerapkan strategi 95-95-95:

  • 95% ODHIV mengetahui statusnya

  • 95% dari yang tahu menjalani terapi

  • 95% dari yang diobati mencapai supresi virus

Di sisi lain, pemerintah juga menargetkan eliminasi sifilis dan gonore hingga 90%, serta eliminasi penularan HIV, sifilis, dan hepatitis B dari ibu ke anak (triple elimination).

Saat ini, layanan tes HIV telah tersedia di 514 kabupaten/kota, layanan IMS di 504 kabupaten/kota, dan tes viral load di 192 kabupaten/kota. Pemerintah juga terus menggencarkan pendekatan ABCDE:

  • Abstinence – tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah

  • Be faithful – setia pada satu pasangan

  • Condom – penggunaan kondom untuk kelompok berisiko

  • Drugs – hindari penggunaan narkoba

  • Education – edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Tindaklanjuti Instruksi Bupati, BPBD Mimika Mulai Siram Jalan Atasi Debu di Timika

15 September 2026 - 13:39 WIB

20260915

Dishub Mimika Perkuat Keselamatan Jalan, dari ZoSS hingga Pengecatan Median

15 September 2026 - 13:21 WIB

IMG 20260915 WA0037

Empat Pelajar Selamat, Polisi Redam Kepanikan Warga Akibat Isu Penculikan

15 September 2026 - 13:17 WIB

IMG 20260915 WA0030

Dukcapil Deiyai Ungkap Perkembangan Data Kependudukan, Pelayanan Masih Hadapi Sejumlah Kendala

15 September 2026 - 13:11 WIB

IMG 20260915 WA0034

BPJS Ketenagakerjaan dan Pemkab Deiyai Validasi Data Pekerja Rentan hingga Aparatur Kampung

15 September 2026 - 13:07 WIB

IMG 20260915 WA0032
Trending di Headline