JAKARTA – Pendidikan kebidanan Indonesia memasuki babak baru. Kolegium Kebidanan, bersama Konsil Kesehatan Indonesia (KKI), secara resmi meluncurkan Kerangka Pengembangan Kurikulum Pendidikan Kebidanan Indonesia pada Kamis (19/6/2025) di Jakarta. Kurikulum ini diharapkan menjadi pondasi kuat dalam mencetak bidan profesional yang adaptif, kolaboratif, dan siap menjawab tantangan dunia kesehatan modern.
Peluncuran ini turut didukung oleh mitra internasional seperti UNFPA dan Kedutaan Besar Kanada, menandai pentingnya kolaborasi global dalam memperkuat kualitas layanan kebidanan di Indonesia.
Ketua KKI, drg. Arianti Anaya, MKM, menegaskan bahwa kurikulum baru ini bukan sekadar dokumen formal, melainkan panduan hidup yang terus berkembang. “Kurikulum ini harus relevan, fleksibel, dan terus diperbarui seiring dengan perubahan zaman, kebutuhan pelayanan, serta perkembangan ilmu dan teknologi,” tegasnya.
Ia menambahkan, pendidikan kebidanan yang bermutu tinggi adalah kunci untuk menghadirkan bidan yang tak hanya terampil secara teknis, tetapi juga mumpuni dalam komunikasi dan kolaborasi lintas sektor.
“Bidan harus jadi garda terdepan dalam transformasi layanan primer, terutama dalam upaya menekan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia,” tegas Arianti.
Empat Pilar Perubahan: Fokus Menkes Budi untuk Profesi Bidan
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, yang turut hadir dalam peluncuran kurikulum, menyampaikan dukungan penuhnya terhadap transformasi pendidikan kebidanan. Ia menyoroti empat fokus utama yang harus diusung kurikulum baru ini:
-
Tertib Entri Data
Setiap proses persalinan harus terdokumentasi dengan baik dalam sistem Satu Sehat. Data yang akurat menjadi fondasi untuk analisis kebijakan dan perlindungan profesi bidan dari stigma yang tidak adil. -
Peningkatan Kompetensi Global
Kurikulum harus mengacu pada standar internasional, agar lulusan kebidanan siap menghadapi kondisi nyata yang kompleks. -
Rujukan Cepat dan Tepat
Bidan harus mampu mengidentifikasi risiko tinggi dan segera melakukan rujukan ke fasilitas kesehatan yang sesuai. -
Perluasan Peran Bidan
Peran bidan tidak boleh dibatasi hanya saat persalinan. Mereka harus aktif sejak fase pra-kehamilan, mendampingi bayi, dan memastikan pertumbuhan anak berlangsung optimal.
“Bidan harus menjadi pendamping seumur hidup bagi ibu dan anak. Mulai dari sebelum kehamilan hingga anak tumbuh sehat dan cerdas,” ujar Menkes.
Lebih dari Sekadar Teknis: Etika dan Nilai Profesi Dikuatkan
Kurikulum baru ini juga dirancang untuk menanamkan nilai-nilai etika, komunikasi, dan kemampuan adaptasi dalam menghadapi perubahan sosial dan teknologi. Pendidikan kebidanan kini dituntut mencetak sosok bidan yang tidak hanya andal di lapangan, tetapi juga manusiawi dalam pelayanan.
Dalam kesempatan yang sama, drg. Arianti mengajak semua pihak, mulai dari akademisi, praktisi kesehatan, hingga organisasi profesi, untuk terus memberi masukan demi penyempurnaan kurikulum ini.
“Kami ingin forum ini menjadi ruang terbuka untuk menyerap aspirasi dan menciptakan kurikulum yang benar-benar berdampak di lapangan,” tutupnya.






