SAMARINDA – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan pentingnya guru kembali kepada esensi profesi mereka: mengajar dan membimbing siswa. Ia menyoroti fakta di lapangan bahwa banyak guru saat ini justru sibuk dengan urusan administrasi yang menumpuk, sehingga kehilangan waktu berharga untuk berinteraksi dengan murid.
“Proses belajar itu bukan hanya soal materi, tapi soal komunikasi. Kalau guru dan murid tak sempat berinteraksi, bagaimana pengetahuan bisa berpindah dengan baik?” ucap Mu’ti dalam kunjungan kerjanya di Samarinda, Sabtu, 14 Juni 2025.
Mu’ti menyebut kondisi ini sebagai “ketimpangan pembelajaran”—saat guru hadir secara fisik di kelas, tapi pikirannya tersita pada laporan-laporan yang harus disetor. Menjawab tantangan ini, pemerintah pun bergerak cepat.
Penyederhanaan Administrasi: Guru Bisa Kembali Mengajar dengan Fokus
Kebijakan utama yang digulirkan Mendikdasmen adalah penyederhanaan beban administrasi guru. Dengan begitu, para pendidik bisa kembali mencurahkan energi mereka untuk menyiapkan materi, membimbing siswa secara personal, hingga menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
“Laporan tetap penting, tapi jangan sampai membunuh ruh utama pendidikan. Guru itu bukan tukang isi formulir,” tegas Mu’ti.
Pelatihan AI dan Penguatan Karakter: Guru Dipersiapkan Hadapi Era Baru
Tak hanya memotong beban administratif, Mu’ti juga meluncurkan berbagai program pelatihan guna meningkatkan kapasitas guru. Fokus utamanya ada pada guru Bimbingan Konseling (BK) dan penguatan pendidikan karakter.
Menariknya, mulai semester depan, pelatihan khusus kecerdasan buatan (AI) juga akan digelar untuk semua jenjang pendidikan. Ini dilakukan untuk mempersiapkan guru agar tak gagap teknologi dan bisa memanfaatkan AI dalam metode pembelajaran modern.
Tes Kemampuan Akademik (TKA): Ukur Potensi, Bukan Sekadar Nilai
Mu’ti juga memperkenalkan Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai sistem evaluasi baru yang akan diterapkan mulai 2025 di seluruh jenjang pendidikan—dari SD hingga SMA. Namun, ia menegaskan bahwa tes ini tidak akan menjadi penentu kelulusan.
“TKA itu bukan untuk menghukum siswa. Tapi untuk melihat potensi mereka secara objektif, serta menjadi salah satu rujukan dalam jalur prestasi saat penerimaan murid dan mahasiswa,” jelas Mu’ti.
Untuk tingkat SMA, TKA akan mulai diterapkan pada November 2025. Sementara untuk SD dan SMP, pelaksanaannya dijadwalkan pada awal tahun depan.
Fokus pada Hakikat Pendidikan
Mu’ti berharap semua kebijakan ini bisa mengembalikan fokus pendidikan kepada hal yang paling penting: tumbuh kembang siswa.
“Yang kita bangun bukan hanya kurikulum, tapi manusia. Dan itu hanya bisa tercapai kalau gurunya hadir sepenuh hati, bukan separuh waktu karena terjebak laporan,” pungkas Mu’ti.






