JAYAPURA – Getaran musik lokal menggema dari eks Terminal Entrop, Kota Jayapura, saat Festival Cenderawasih 2025 digelar selama tiga hari, 13–15 Juni 2025. Lebih dari sekadar acara hiburan, festival ini menjelma menjadi panggung pembuktian bagi musisi muda Papua yang tampil memukau dengan warna dan karakter musik mereka sendiri.
Dari deretan penampil, nama-nama seperti Legi 483, Ace the Joker, Orlando MJ, hingga Rian 814 tampil dominan, membawa semangat hip-hop yang kuat dengan lirik-lirik penuh energi dan makna. Namun lebih dari itu, hampir seluruh pengisi acara merupakan talenta lokal Kota Jayapura—suatu kebanggaan yang mencerminkan potensi besar anak muda Papua dalam industri kreatif.
“Festival seperti ini bukan cuma soal hiburan. Ini adalah ruang ekspresi, panggung untuk menunjukkan bahwa Jayapura punya suara, punya karya, dan harus diberi ruang,” ujar Orlando MJ, salah satu musisi lokal. Senin, (16/06/2025).
Orlando menegaskan, festival seperti ini adalah penegasan identitas dan eksistensi musisi lokal yang kerap terpinggirkan oleh arus musik dari luar. Keberadaan mereka di panggung utama adalah bukti bahwa Papua bukan penonton, tapi pelaku dalam dunia musik tanah air.
Tak hanya menyuguhkan hiburan, dampak ekonomi dari festival ini juga luar biasa. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Papua, Faturachman, melaporkan perputaran uang mencapai Rp752 juta dari penjualan UMKM, serta 4.674 transaksi QRIS dengan nilai Rp594 juta.
Bahkan, ada hasil konkret dari sisi pembiayaan. Business matching antara UMKM dan lembaga keuangan berhasil mencatat Letter of Intent (LoI) senilai Rp880 juta, yang membuka akses permodalan lebih luas bagi pelaku usaha lokal.
Pj Gubernur Papua, Ramses Limbong, dalam sambutan yang diwakili Staf Ahli Triwarno Purnomo, menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, Bank Indonesia, komunitas seni, dan pelaku UMKM dalam membangun ekosistem ekonomi digital yang inklusif.
“Festival ini adalah wajah baru Papua—penuh talenta, kreatif, dan siap tumbuh bersama ekonomi digital,” ujar Ramses.






