NABIRE — Peresmian Asrama Kristus Sahabat Kita (KSK) Untuk Putera SMP di Nabire bukan hanya menandai selesainya pembangunan fisik, tetapi juga menjadi tonggak penting dalam upaya mendampingi generasi muda Papua untuk tumbuh sebagai pribadi yang tangguh, beriman, dan mandiri. Demikian disampaikan oleh Pater Yohanes Agus Setiyono, SJ dalam sambutannya mewakili pihak pengelola asrama.
Pater Yohanes mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung pembangunan asrama, termasuk Bupati Nabire, Mesak Magai, yang memberikan bantuan sebesar satu miliar rupiah. Ia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan dari Pemerintah Provinsi Papua Tengah, yang berencana menambah fasilitas seperti perpustakaan digital dan sarana olahraga.
“Kami tidak hanya membangun tempat tinggal, tetapi membentuk sebuah tempat pembinaan yang utuh — lengkap dengan pendampingan, pembekalan keterampilan hidup (life skill), dan penguatan karakter,” ujar Pater Yohanes.
Asrama KSK ini dirancang untuk menampung 30 putra dan 30 putri, dengan keterlibatan para imam, suster, dan tenaga pendamping. Proses pembinaan di asrama juga disinergikan dengan SMA Adiluhur, sehingga anak-anak asrama bisa melanjutkan pendidikan secara berkesinambungan.
Dalam visinya, Pater Yohanes menyampaikan bahwa pembinaan tidak berhenti di Nabire. Para imam Yesuit juga melayani di daerah pedalaman seperti Wanggar dan Wagethe. Ia berharap dari proses yang terpadu ini akan lahir kader-kader unggul dari berbagai suku di Papua.
“Sudah ada anak-anak dari Asmat, dan kami juga membuka kesempatan bagi anak-anak dari suku Mee, Moni, Amungme, dan Kamoro untuk bergabung. Ini adalah upaya membangun keterpaduan antarbudaya sejak dini,” jelasnya.
Menjawab tantangan ekonomi, Pater Yohanes menegaskan bahwa asrama ini terbuka untuk anak-anak dari keluarga prasejahtera yang memiliki semangat untuk maju. Iuran yang dibebankan pun sangat rendah, sekitar Rp300.000 per bulan, bahkan beberapa anak dibebaskan dari biaya.
“Asal mereka punya kemauan untuk maju, kami terima. Dan kami berusaha mencukupi kebutuhan mereka dengan menjalin kerja sama, termasuk dengan pihak YP Marka dan tokoh lintas agama seperti Ketua FKUB,” tambahnya.
Pater Yohanes juga menyampaikan harapannya agar perhatian dari dinas-dinas terkait, khususnya Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan, dapat terus hadir untuk membantu menangani kebutuhan anak-anak di asrama, termasuk layanan kesehatan yang memadai.
Mengakhiri sambutannya, Pater Yohanes menegaskan bahwa Asrama KSK bukan sekadar tempat tinggal, tetapi ruang formasi karakter yang akan melahirkan generasi Papua yang berdaya, peduli, dan cinta pada bangsanya. (MB)






