TIMIKA – Pencipta lagu” Tanah Papua” Yance Rumbino berpulang. Almarhum menghembuskan napas terakhirnya pada hari Kamis dini hari pukul 01.24 WIT di RSUD Biak.
Berita duka sang mahestro yang dikenal luas di masyarakat ini, sangat dekat dengan masyarakat Papua lewat musik tradisional yang menjadi identitas budaya Papua.
Lagu Tanah Papua, lahir dari pengalaman almarhum saat hidup, sering dinyanyikan dalam berbagai momen penting baik lokal dan nasional.
Kepergian almarhum meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat dan seluruh masyarakat Papua.
Rangkaian ucapan duka, sejak kepergian almarhum, banyak disampaikan melalui pesan singkat Whatsapp grup dan laman Facebook.
Tidak hanya seorang seniman, beliau telah banyak menginspirasi anak muda Papua untuk mencintai dan melestarikan kebudayaan Papua.
Menjadi guru sekaligus motivor bagi anak-anak muda, menciptakan lagu dan bernyanyi. Karyanya meninggalkan jejak yang dalam dihati seluruh masyarakat Papua.
Yance Rumbino Lahir di Sorong 22 Juni 1953 dari pasangan Robert Rumbino dan Alexandria Morin. Putra asli Biak ini mengawali pendidikan formal di SD YPK Betlehem di Biak.
Di bangku kelas 3, Yero sapaan akrabnya sudah mengenal notasi not dan baginya seni penting, karena mempengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat manusia.
Setelahnya, melanjutkan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) YPK Biak tahun 1975 dan di usia 22 tahun saat itu, mengabdikan dirinya di SDN Inpres Sinak Puncak (dulu Paniai).
Tahun 1978, dipindah tugaskan menjadi kepala SDN Inpres Siriwini di Kabupaten Nabire. Pengalaman bertugas di Paniai, berjalan kaki 21 KM melewati Gunung yang menjulang tinggi, lembah dan sungai itulah awal mula menginspirasinya menciptakan lagu.
Pada November 1985 di bukit Gamei, Distrik Topov terciptalah lagu yang diberi judul ” Irian Jayaku” .
Seiring perubahan nama Irian Jaya menjadi Papua saat bergulirnya UU Otonomi Khusus tahun 2001, maka judul lagupun berubah menjadi” Tanah Papua”.
Lagu yang menyiratkan setiap orang yang hidup diatas tanah Papua untuk menghargai dan mensyukuri karya Tuhan.
Lagu tersebut kemudian ditulis kembali dalam dua bahasa lainnya dengan bahasa Biak” Supo Papua” dan Inggris” The Land of Papua”.
Beberapa penghargaan yang diterima Yero antara lain penghargaan dari Bupati Nabire (2005), Gubernur Papua (2015), dan Dewan Kesenian Tanah Papua (2016). Namun Yero belum pernah menerima royalti walaupun beberapa penyanyi membuat rekaman lagu tersebut.
Almarhum yang tercatat telah menghasilkan ratusan lagu ciptaanya, saat pensiun dengan jabatan terakhirnya sebagai Kepala Bidang Promosi/Penyuluhan pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2010, memilih menghabiskan waktu di pulau Undi Distrik Padaido Kabupaten Biak Numfor hingga menghembuskan napas terakhirnya. (Zen)











