Menu

Mode Gelap
Aksi APDESI di Monas Hari Ini: 2.155 Personel Gabungan Disiagakan, Polisi Imbau Jaga Ketertiban DPD RI Soroti Krisis Kesehatan Mental Perempuan dan Ancaman Digital Jakarta Stop Pengalihan Isu! Senator Kambuaya Desak Presiden Prabowo Segera Audit Total Izin Perusak dan Fokus Bencana Meningkatnya Kriminalitas: Akar Masalah dan Solusi Holistik (Ditinjau dari Sosiologi Hukum) Banjir Bandang Sumatera: Alarm Bencana Ekologis dan Slow Violence di Seluruh Indonesia Gubernur Meki Nawipa Kucurkan Lebih dari Rp 90 Miliar, Wujudkan Pendidikan Gratis di Papua Tengah

Headline

Sinode KINGMI Papua Serukan Hentikan Konflik Kapiraya Usai Meninggalnya Pendeta Neles Peuki

Etty Welerbadge-check


					Sinode KINGMI Papua Serukan Hentikan Konflik Kapiraya Usai Meninggalnya Pendeta Neles Peuki Perbesar

TIMIKA – Departemen Keadilan dan Perdamaian (DKP) Sinode Gereja Kemah Injil (KINGMI) di Tanah Papua menyampaikan duka mendalam atas terbunuhnya seorang gembala sidang, Pdt. Neles Peuki, di Kampung Mogodagi, Distrik Kapiraya Atas, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah pada 24 November 2025. Korban dilaporkan dibunuh dan rumahnya turut dibakar di lokasi pelayanan.

Dalam pernyataan resmi bertajuk Surat Seruan Gembala, DKP Sinode KINGMI menyebut insiden tersebut sebagai peristiwa memilukan dalam sejarah pelayanan gereja dan masyarakat adat Suku Mee di wilayah Kapiraya. Sejak tahun 1938 ketika Injil masuk melalui Kampung Uta—hingga menyebar ke Mogodagi, Yamouwi Tina, Mauka dan Eyagaikigi—baru kali ini seorang pendeta dikabarkan dibunuh dan dibakar.

Selain Pdt. Neles Peuki, sejumlah warga juga menjadi korban dalam insiden tersebut.

DKP Sinode KINGMI mengecam tindakan pembunuhan dan pembakaran rumah warga yang dinilai tidak berperikemanusiaan. Dalam pernyataan tersebut disebutkan bahwa wilayah adat di Mogodagi dan sekitarnya telah sejak lama dihuni oleh masyarakat Suku Mee secara turun-temurun dan memiliki hubungan yang harmonis dengan Suku Kamoro.

Sinode juga menekankan bahwa kedua suku ini sejak dulu hidup berdampingan, saling membantu, dan bersama menjaga hak-hak adat yang diwariskan leluhur.

Isi Seruan Gembala

Dalam Surat Seruan Gembala tersebut, DKP Sinode KINGMI menyampaikan empat poin seruan penting:

1. Menghentikan upaya yang dinilai berpotensi menimbulkan konflik dan adu domba antara Suku Mee dan Kamoro terkait isu sumber daya alam dan pembangunan di wilayah Kapiraya.

2. Mengajak kedua suku membangun kembali solidaritas dan keharmonisan serta menyelesaikan masalah melalui mekanisme adat.

3. Para tokoh adat Mee dan Kamoro segera duduk bersama untuk menetapkan tapal batas adat secara resmi dan permanen tanpa intervensi pihak luar.

4. Meminta aparat keamanan menangkap dan memproses hukum para pelaku pembunuhan, penganiayaan dan pembakaran rumah warga.

Sinode KINGMI menyatakan bahwa pembunuhan terhadap pendeta adalah tindakan keji dan dikecam secara moral dan iman. Karena itu, gereja meminta semua pihak untuk tidak terseret provokasi dan tetap menjaga perdamaian di wilayah adat Kapiraya.

Surat seruan tersebut ditandatangani oleh Ketua DKP Sinode KINGMI di Tanah Papua, Pdt. Deserius Adii, M.Th, pada 26 November 2025 di Timika. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dilantik Jadi Ketua IK3M, Anton Welerubun Bersama Dua Raja Mengajak Warga Kei di Mimika Jaga Persatuan dan Nama Baik Leluhur 

8 Desember 2025 - 15:36 WIB

20251206 135728

Pemkab Mimika Kebut Penyusunan APBD 2026, OPD Diminta Percepat Rampungkan RKA

8 Desember 2025 - 14:20 WIB

20250923 103622

LBH Papua Tengah Desak Aparat Gelar Razia Senjata Tajam di Mimika Jelang Natal dan Tahun Baru

8 Desember 2025 - 14:04 WIB

Img 20251208 wa0126

Garda Terdepan Distribusi Energi, Awak Mobil Tanki Pertamina Patra Niaga Papua dan Maluku Tingkatkan Kehandalan dan Kewaspadaan

8 Desember 2025 - 13:51 WIB

Img 20251208 wa0102

Ketua BMA Papua Tengah Ajak Warga Jaga Kamtibmas Jelang Hari HAM Sedunia

8 Desember 2025 - 13:43 WIB

Img 20251208 wa0118
Trending di Headline