Menu

Mode Gelap
Gubernur Meki Nawipa Kucurkan Lebih dari Rp 90 Miliar, Wujudkan Pendidikan Gratis di Papua Tengah Waket DPR Papua Tengah John Gobai Desak Penyediaan Sekolah, Puskesmas, dan Transportasi Umum di Perbatasan Mimika-Deiyai Kunjungan Kanonik Perdana Uskup Timika di Agimuga Disambut Meriah oleh Seribuan Umat Katolik Suku Amungme 80 Siswa di Raja Ampat Diduga Keracunan Usai Santap Makan Bergizi Gratis Diduga Terjadi Pengeboman Oleh Aparat di Maybrat, LP3BH Manokwari Desak Komnas HAM dan Dewan HAM Internasional Bertindak Ketua DPD RI Optimistis Surpres RUU Daerah Kepulauan Terbit Pekan Ini: Keadilan Fiskal Harus Berlayar!

Headline

IPMKY Merauke Kecam Rasisme dan Tindakan Represif Aparat di Yalimo

Etty Welerbadge-check


					IPMKY Merauke Kecam Rasisme dan Tindakan Represif Aparat di Yalimo Perbesar

MERAUKE – Ikatan Pelajar Mahasiswa Kabupaten Yalimo (IPMKY) Kota Studi Merauke mengecam keras peristiwa rasisme dan bentrokan yang terjadi di Elelim, Kabupaten Yalimo, Provinsi Papua Pegunungan pada 16 September 2025.

Peristiwa bermula dari ujaran bernuansa rasis yang dilontarkan seorang siswa non-Papua kepada siswa asli Papua di SMA Negeri 1 Elelim. Ucapan tersebut memicu kemarahan para pelajar dan berujung pada aksi massa yang meluas hingga pembakaran kios milik warga pendatang. Situasi semakin memanas ketika aparat keamanan turun ke lokasi dan menggunakan senjata api untuk membubarkan massa.

Dalam insiden tersebut, seorang pemuda Papua bernama Zadrak Yohame tewas tertembak, sementara beberapa lainnya mengalami luka serius. IPMKY menilai tragedi ini menambah panjang daftar korban kekerasan aparat di Tanah Papua, sekaligus mencerminkan masih maraknya diskriminasi rasial terhadap orang asli Papua.

“Ucapan rasis ‘monyet’ bukan sekadar hinaan, tetapi simbol rasisme struktural yang sudah lama dipakai untuk merendahkan martabat orang Papua. Aparat yang seharusnya melindungi justru hadir sebagai mesin penindasan,” demikian pernyataan IPMKY dalam keterangan tertulis yang diterima awak media pada kamis, (18/9/2025).

IPMKY juga menyerukan agar kasus ini mendapat perhatian serius dari media, organisasi masyarakat sipil, hingga komunitas internasional. Mereka menilai konflik di Papua bukan sekadar soal kriminalitas, tetapi berakar pada rasisme, kolonialisme, dan pendekatan militeristik yang dipelihara negara.

Tuntutan IPMKY:

  1. Mengutuk segala bentuk tindakan rasisme terhadap pelajar dan rakyat Yalimo.
  2. Mengadili pelaku diskriminasi rasial terhadap pelajar dan rakyat Papua di Yalimo.
  3. Menghentikan pemeliharaan budaya rasis terhadap rakyat Papua di seluruh Tanah Papua.
  4. Mengungkap dan menangkap pelaku penembakan terhadap Zadrak Yohame.
  5. Menarik kembali pasukan militer organik dan non-organik dari wilayah Yalimo dan seluruh Tanah Papua.
  6. Menyatakan hukum negara Republik Indonesia rasis terhadap rakyat Papua.

IPMKY menegaskan, tragedi Elelim menjadi bukti nyata bahwa rakyat Papua terus hidup dalam bayang-bayang rasisme dan kekerasan negara. Mereka meminta Presiden Prabowo Subianto dan pemerintah pusat mengakui penderitaan rakyat Papua dan membuka ruang bagi penyelesaian yang adil. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Musdat LMHA Dinilai Tidak Sesuai Mekanisme dan Prosedur Mekanisme, Lemasko Pimpinan Gerry Minta Dibatalkan

5 Desember 2025 - 10:59 WIB

Img 20251204 wa0021

Yohanes Yance Boyau Terpilih  dan Dikukuhkan Jadi Weyaiku Pertama LMHA Suku Kamoro/Mimikawe

5 Desember 2025 - 10:54 WIB

20251204 174919

LPPD Papua Tengah Gelar Rapat Konsultasi Persiapan Pesta Paduan Suara Gerejawi Nasional 2026

5 Desember 2025 - 09:11 WIB

Img 20251205 wa0213

Menuju Kepastian Hak Ulayat: Papua Tengah Bahas Standar Kompensasi Hasil Hutan

5 Desember 2025 - 09:05 WIB

Img 20251205 wa0206

Pemprov Papua Tengah Gelar Sosialisasi Persiapan Perhitungan IDI 2025, Ukago: Instrumen Strategis Menilai Kualitas Demokrasi Daerah

5 Desember 2025 - 08:11 WIB

Img 20251205 wa0192
Trending di Headline