Menu ✖

Mode Gelap
Tani Merdeka Indonesia Papua Tengah Siap Dukung Program MBG, Dorong Keterlibatan Petani Lokal Senator Sopater Bawa Kasus Hilangnya Dua Warga Suku Mek Ke DPD RI, Desak Pengusutan Tuntas Dan Penegakan Hukum Yorrys Raweyai Dorong Aspirasi Daerah Menjadi Perhatian Nasional Wilhelmus Pigai Dorong Penguatan Hak Politik Orang Asli Papua melalui Kajian Regulasi Gubernur Meki Nawipa Tinjau Tambang Bawah Tanah Freeport, Pelajari Teknologi dan Operasional Pertambangan Empat Pejabat Tinggi Negara Turun ke Nabire, Tertibkan Tambang Emas Ilegal

News

Empat Orang di Dalam Gereja: Potret Kesunyian dan Pengungsian di Disrik Aweida Paniai

Etty Welerbadge-check


					Empat Orang di Dalam Gereja: Potret Kesunyian dan Pengungsian di Disrik Aweida Paniai Perbesar

PANIAI – Pada hari ini Minggu, 8 November 2026, menjadi hari yang berbeda bagi kehidupan keagamaan masyarakat di Distrik Aweida, Kabupaten Paniai, Provinsi Papua Tengah.

Suasana ibadah Minggu di sejumlah gereja Katolik dan Gereja Kemah Injil (Kingmi) di wilayah tersebut dilaporkan tidak seperti biasanya. Bangku-bangku gereja yang umumnya dipenuhi umat, kali ini terlihat lebih lengang. Suasana yang biasanya hidup dengan lantunan lagu pujian, doa, dan kebersamaan jemaat berubah menjadi kesunyian yang menyisakan keprihatinan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kondisi tersebut terlihat di sejumlah tempat ibadah, yakni Gereja Katolik di Tuguwai, Gereja Kingmi Jemaat Tuguwai, Gereja Kingmi di Bumaida, Gereja Kingmi di Degitaida, Gereja Kingmi di Deta, serta Gereja Katolik di Deta.

Salah satu gambaran paling menyentuh terlihat di Jemaat Sion 1 Deta. Menurut laporan Pdt. Yosias Tenoye, S.Th., yang menyampaikan informasi dari Kampung Deta, Distrik Aweida, pada Minggu (8/11/2026), hanya empat orang yang hadir melaksanakan ibadah Minggu Raya.

Jumlah tersebut jauh berbeda dari keadaan biasanya

Empat orang itu tetap datang untuk beribadah, sementara sebagian besar anggota jemaat lainnya dilaporkan telah meninggalkan kampung dan mengungsi akibat situasi keamanan setelah adanya penempatan pasukan TNI Marinir Nonorganik Yonif 2 di wilayah Distrik Tuguwai.

Pemandangan tersebut bukan sekadar menggambarkan berkurangnya jumlah umat di dalam gereja. Lebih dari itu, keadaan ini memperlihatkan bagaimana situasi keamanan dapat memengaruhi kehidupan sosial, keagamaan, dan kebersamaan masyarakat.

Bukan karena Gereja yang Sepi

Gereja bagi masyarakat di wilayah pedalaman Papua bukan hanya tempat untuk melaksanakan ibadah setiap hari Minggu. Gereja juga menjadi pusat persekutuan, tempat membangun persaudaraan, menguatkan iman, serta merawat kehidupan bersama.

Ketika jemaat harus meninggalkan kampung halaman, kehidupan yang selama ini dibangun bersama ikut terganggu.

Anak-anak kehilangan ruang bermain bersama, keluarga terpisah dari lingkungan tempat tinggalnya, aktivitas masyarakat terganggu, dan kehidupan persekutuan gereja pun tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Kesunyian di dalam gereja menjadi gambaran nyata dari situasi kemanusiaan yang sedang dihadapi masyarakat Aweida.

Di balik empat orang yang mengikuti ibadah Minggu Raya di Jemaat Sion 1 Deta, terdapat kerinduan terhadap anggota keluarga dan sesama jemaat yang belum dapat kembali berkumpul di kampung halaman.

Harapan Masyarakat: Kembalikan Kehidupan Seperti Semula

Melihat kondisi tersebut, masyarakat berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap situasi yang sedang berlangsung di Distrik Aweida.

Harapan disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Paniai, Pemerintah Provinsi Papua Tengah, DPRD Kabupaten Paniai, DPR Papua Tengah, Majelis Rakyat Papua (MRP), serta pemerintah pusat.

Masyarakat juga berharap Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Panglima TNI mengambil langkah serius untuk mengevaluasi serta menarik pasukan militer nonorganik dari wilayah tersebut agar masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan dengan aman dan tenang.

Pemulihan situasi keamanan dan kemanusiaan menjadi harapan utama agar warga yang mengungsi dapat kembali ke kampung halaman, berkumpul bersama keluarga, bekerja, bersekolah, serta menjalankan ibadah tanpa rasa takut.

Sebab, masyarakat Aweida juga memiliki hak yang sama untuk hidup aman, beribadah, dan menikmati kehidupan yang damai di tanah kelahirannya sendiri.

Minggu, 8 November 2026, menjadi potret yang menyentuh: ketika gereja yang biasanya dipenuhi umat hanya dihadiri empat orang. Sebuah keadaan yang mengingatkan semua pihak bahwa di balik situasi keamanan, ada kehidupan masyarakat, keluarga, dan jemaat yang perlu dilindungi. (Cr1)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

PELNI Timika Ajak Masyarakat Manfaatkan Diskon Tiket Kapal Nataru

8 November 2026 - 12:50 WIB

IMG 20261108 214556

Kadis Pertanian Deiyai Ajak Masyarakat Kembangkan Kopi, Harga Tembus Rp100 Ribu per Kilogram

8 November 2026 - 12:44 WIB

IMG 20261108 WA0031

Distrik Youtadi Gelar Musrenbang, Lima Kampung Usulkan Prioritas Pembangunan Tahun 2027

8 November 2026 - 12:33 WIB

IMG 20261108 194529

Hengky Pigai Dukung Deinas Glei Pimpin ASPROV PSSI Papua Tengah, Dorong Kemajuan Sepak Bola Daerah

8 November 2026 - 10:40 WIB

IMG 20261108 WA0008

PELNI Cabang Timika Nonaktifkan Akun Media Sosial, Masyarakat Diimbau Akses Informasi Melalui Kanal Resmi

7 November 2026 - 11:41 WIB

IMG 20261106 WA0000
Trending di News