TIMIKA — Merespons kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan yang terjadi di wilayah Mimika, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Mimika bersama Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Provinsi Papua Tengah membagikan 150 masker gratis sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat, Sabtu (10/10/2026).
Kegiatan tersebut berlangsung di Cafe Racing, bertepatan dengan agenda Rapat Koordinasi dan Silaturahmi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Mimika bersama organisasi pemuda Islam se-Kabupaten Mimika. Sebanyak tiga pak masker, masing-masing berisi 50 masker, disiapkan untuk membantu masyarakat mengurangi paparan partikel asap saat beraktivitas.

Ketua Umum HMI Cabang Mimika, Prayoga Romin Saputra, menyampaikan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk kepedulian pemuda terhadap situasi lingkungan yang berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat. Menurutnya, kabut asap bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan juga persoalan kesehatan publik yang membutuhkan perhatian dan langkah konkret dari pemerintah.
“Pembagian masker ini merupakan bentuk kepedulian kami terhadap masyarakat. Namun, langkah ini tentu tidak cukup jika tidak diikuti dengan upaya serius untuk melindungi masyarakat dari dampak kabut asap. Pemerintah daerah perlu mengambil langkah antisipatif, terutama untuk melindungi anak-anak sekolah dan masyarakat yang setiap hari harus beraktivitas di luar ruangan,” ujar Prayoga.
Ia mendesak Pemerintah Kabupaten Mimika agar segera mengevaluasi kondisi kualitas udara dan mempertimbangkan pembatasan sementara kegiatan belajar mengajar di sekolah apabila kondisi udara berisiko terhadap kesehatan peserta didik. Menurutnya, pembelajaran jarak jauh perlu dipertimbangkan apabila situasi tidak memungkinkan kegiatan belajar mengajar berlangsung secara aman.

Selain itu, Prayoga juga mendorong pemerintah daerah mempertimbangkan pemberlakuan *work from home* (WFH) bagi aparatur dan pekerja yang memungkinkan menjalankan tugas dari rumah, apabila kondisi kabut asap semakin memburuk.
“Jangan sampai kita menunggu dampak yang lebih serius baru mengambil tindakan. Jika berdasarkan pemantauan kualitas udara dan rekomendasi instansi terkait kondisi sudah membahayakan, pemerintah harus berani mengambil langkah perlindungan, termasuk menyesuaikan kegiatan sekolah dan menerapkan WFH bagi pekerjaan yang memungkinkan. Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas,” tegasnya.
Prayoga menambahkan, HMI Cabang Mimika bersama GPII Provinsi Papua Tengah berencana melanjutkan pembagian masker ke sejumlah kampus dan sekolah di Mimika. Rencana tersebut merupakan upaya memperluas jangkauan aksi sosial sekaligus meningkatkan kesadaran pelajar, mahasiswa, dan masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan di tengah kondisi kabut asap.
Dalam kesempatan tersebut, HMI Cabang Mimika turut menyampaikan terima kasih kepada *Rabu Biru Foundation Mimika* atas dukungan dan bantuan yang diberikan sehingga kegiatan pembagian masker dapat terlaksana. HMI menilai kolaborasi antara organisasi kepemudaan dan lembaga sosial sangat penting dalam merespons persoalan kemanusiaan dan kesehatan yang dihadapi masyarakat.
HMI Cabang Mimika dan GPII Provinsi Papua Tengah berharap aksi ini menjadi awal dari gerakan kepedulian yang lebih luas. Selain bantuan langsung kepada masyarakat, diperlukan koordinasi lintas sektor, pemantauan kualitas udara secara berkala, serta langkah pencegahan dan penanganan kebakaran hutan agar dampak kabut asap tidak semakin meluas.

Bagi HMI dan GPII, kepedulian terhadap masyarakat tidak cukup diwujudkan melalui seruan, tetapi harus hadir dalam tindakan nyata sekaligus keberanian menyampaikan aspirasi demi melindungi kesehatan dan keselamatan warga Mimika. (Cr2)








