TIMIKA – Musim kemarau mulai terasa dampaknya bagi konsumen. Sejumlah bahan kebutuhan dapur di pasaran mengalami kenaikan harga, terutama komoditas yang membutuhkan pasokan air untuk produksi.
Salah satu komoditas yang harganya naik adalah cabai rawit lokal. Saat ini, harganya mencapai Rp130 ribu per kilogram dan telah bertahan selama hampir sepekan.
Kenaikan harga juga terjadi pada cabai rawit kiriman yang kini dijual Rp120 ribu per kilogram. Menurut pedagang, kenaikan tersebut tidak hanya terjadi di pasar setempat, tetapi juga di daerah asal pengiriman yang turut terdampak musim kemarau.
“Cabai kiriman juga sudah mahal karena di daerah asal juga kemarau. Sebelumnya tidak sampai seratusan per kilo, tetapi sekarang menyesuaikan menjadi Rp120 ribu per kilogram,” kata Yudi salah satu pedagang di pasar, Sabtu (12/9/2026).
Selain cabai, sejumlah komoditas lain juga mengalami kenaikan. Cabai keriting dan cabai besar masing-masing berada di harga Rp80 ribu per kilogram. Bawang putih dijual Rp50 ribu, sedangkan bawang merah mencapai Rp60 ribu per kilogram.
Harga tomat pun ikut naik. Komoditas tersebut kini dipasarkan dengan harga Rp25 ribu per kilogram, dari sebelumnya Rp20 ribu.
Sementara itu, harga labu siam yang sebelumnya sempat mengalami kenaikan masih bertahan di kisaran Rp25 ribu per kilogram. Asam-asaman juga mulai mengalami peningkatan dan kini rata-rata mencapai Rp45 ribu per kilogram. Harga tersebut telah bertahan selama hampir satu bulan.
Meski demikian, tidak semua komoditas mengalami perubahan harga. Sejumlah jenis sayuran masih dijual dengan harga relatif stabil karena ketersediaan air untuk tanaman masih terjaga.
Keberadaan sumber air menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga produksi sayuran selama musim kemarau. Jika pasokan air semakin terbatas, kenaikan harga berpotensi meluas ke lebih banyak komoditas di pasaran.
Yudi mengatakan, kondisi sumur milik petani yang masih dapat digunakan menjadi salah satu alasan harga beberapa jenis sayuran belum ikut naik.
“Kalau sayur masih tetap. Harga-harga yang naik ini karena kondisi alam. Kalau sumur petani kering, tentu berdampak pada tanaman,” terangnya. (Cr2)







