TIMIKA – Tak tahan dengan perilaku keji dan sadis kelompoknya, 10 anggota aktif Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Operasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Kodap IV Sorong Raya memutuskan kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Mereka berikrar sekaligus mengucapkan sumpah setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Didampingi keluarga, tokoh adat, dan pemuka agama, kesepuluh mantan anggota itu mengikuti seluruh rangkaian upacara sumpah ikrar setia kepada NKRI yang digelar di Lapangan Kodam XVIII Kasuari, Provinsi Papua Barat.
Dengan suara lantang, mereka mengucapkan ikrar dan sumpah setia kepada NKRI, melepaskan seluruh atribut kelompok, serta menyerahkan bendera Bintang Kejora kepada Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III (Pangkogabwilhan III) Letnan Jenderal TNI Lucky Avianto. Peristiwa itu disambut meriah oleh keluarga, tokoh adat, pemuka agama, kepala distrik, serta ratusan warga Manokwari, Papua Barat.

Kepada Satgas TNI, mereka mengungkapkan berbagai kebrutalan yang dilakukan kelompok separatis OPM. Kelompok itu kerap menebar teror, merampas harta benda, hasil bumi, dan ternak rakyat, serta tega memperkosa wanita desa, melukai, bahkan tidak segan membunuh siapa saja yang menolak atau tidak mendukung gerakan mereka.
Di sisi lain, sikap personel Satgas TNI yang rendah hati serta memiliki jiwa sosial tinggi telah menyentuh hati dan menggugah rasa simpati serta empati para simpatisan hingga anggota aktif TPNPB-OPM.

Dalam amanatnya selaku Inspektur Upacara, Pangkogabwilhan III Letjen TNI Lucky Avianto menyatakan pendekatan yang ditempuh Satgas TNI di bawah kendalinya, yang menitikberatkan pada pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat Papua, perlahan mematahkan stigma negatif yang disebarkan TPNPB-OPM terhadap pemerintah dan TNI.

Lebih lanjut ia menjelaskan, personel TNI sering turun langsung ke tengah masyarakat untuk berbagai kegiatan, antara lain memugar atau membangun gereja, sekolah, jembatan, dan fasilitas umum lainnya. Mereka juga bertindak sebagai tenaga pengajar, tenaga kesehatan, bahkan membantu kebutuhan warga di pedalaman.
“Papua dibangun bukan dengan teror, intimidasi, apalagi memaksa masyarakat patuh melalui kekerasan hingga pembunuhan seperti yang dilakukan TPNPB-OPM. Perilaku sadis dan keji mereka jelas bertentangan dengan norma, adat, agama, nilai kemanusiaan, serta ajaran ketuhanan,” tegas Lucky.
Menurutnya, keamanan wilayah yang kondusif dan kualitas sumber daya manusia menjadi dasar utama sekaligus pendorong untuk mempercepat pembangunan di wilayah timur Indonesia.
Program percepatan pembangunan yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto dapat menjangkau seluruh daerah hingga pelosok Papua dengan baik, apabila kondisi keamanan dan ketertiban wilayah tetap terjaga.
Selain itu, Lucky menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia, terutama generasi muda Papua.

Ia mengimbau para orang tua agar melindungi anak-anak dari paham radikalisme dan pengaruh ajaran sesat kelompok separatis TPNPB-OPM, yang selama ini terbukti menjadi penghambat utama pembangunan di Bumi Cendrawasih. (Red)







