Menu

Mode Gelap
Teladan Kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono IX Anggota DPD RI Wilhelmus Pigai Salurkan Bantuan Hewan Kurban pada Hari Raya Idul Adha 1447 H untuk Masjid Al-Fattah Bupati Deiyai Ajak Semua Pihak Mengikuti Jumat Bersih di Pasar Waghete Wabup Nabire Apresiasi Peran PKBN, Sebut Kontribusi Etnis Batak Sangat Besar PKBN Nabire Kukuhkan Kepengurusan Baru, Tegaskan Komitmen Jaga Kerukunan di Daerah Mayat Pria Ditemukan di Belakang Grapari Timika, Polisi Dalami Kasus dan Kejar Pelaku

Headline

Tragedi ‘Kemburu Berdarah’: Satgas Habema Diduga Bantai Perempuan dan Anak, Koalisi Sipil Mengadu ke PGI

Etty Welerbadge-check


					Tragedi ‘Kemburu Berdarah’: Satgas Habema Diduga Bantai Perempuan dan Anak, Koalisi Sipil Mengadu ke PGI Perbesar

JAKARTA – Tim Investigasi HAM Kabupaten Puncak, perwakilan Mahasiswa Puncak dan Puncak Jaya se-Indonesia, serta Lembaga Bantuan Hukum (LBH) resmi melaporkan tragedi kemanusiaan “Kemburu Berdarah” ke kantor Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Jakarta Pusat, pada Rabu, (10/6/2026)

Laporan krusial ini diserahkan langsung kepada pimpinan gereja guna mengungkap dampak fatal dari operasi militer yang dilancarkan oleh TNI Satuan Tugas (Satgas) Habema di wilayah Kemburu, puncak pada 14 April 2026 lalu.

Berdasarkan investigasi lapangan yang dipaparkan oleh Ketua Tim Investigasi, Mis Murib, operasi militer tersebut diawali oleh mobilisasi rahasia pasukan pada malam hari dari arah Kota Sinak.

Gerakan tersebut terdeteksi oleh warga setempat setelah mereka menemukan jejak-jejak kaki berlumuran lumpur di sepanjang jalan Nigilome hingga Jigunggi.

Pasukan terpantau bergerak melewati Kampung Nigilome menuju Kumikomi, sebelum akhirnya melancarkan serangan brutal di Kampung Tenoti serta 6 kampung di sekitarnya. Wilayah domestik masyarakat sipil yang seharusnya dilindungi dari zona konflik, justru menjadi target utama penyerangan.

Serangan brutal di kawasan pemukiman tersebut memakan korban jiwa yang sangat memilukan. Data lapangan mencatat operasi militer ini telah menewaskan 11 orang meninggal dunia, 1 orang hilang dan 8 orang luka-luka.

Konflik yang meluas ini juga memicu eksodus besar-besaran, di mana sebanyak 14.166 jiwa warga sipil terpaksa angkat kaki meninggalkan kampung halaman mereka demi menyelamatkan diri. Para pengungsi kini tersebar di berbagai wilayah aman, mulai dari Kabupaten Puncak Jaya, Nabire, Mimika, hingga Jayapura.

Direktur YLBH Desk Papua, Emanuel Gobay, menegaskan bahwa operasi militer yang menyasar pemukiman warga sipil di Kemburu berlangsung secara brutal dan tidak berperikemanusiaan.

Ia menyoroti bahwa dalam situasi konflik di Puncak, kelompok perempuan dan anak-anak adalah pihak yang paling rentan, namun ironisnya wilayah domestik mereka justru dihujani serangan.

“Kami mendesak seluruh pihak yang berkompeten untuk segera turun tangan memenuhi hak-hak dasar para pengungsi, terutama kebutuhan mendesak akan sandang, pangan, dan papan” Tegasnya

Ia juga mengingatkan pemerintah daerah mengenai urgensi pemenuhan hak atas pendidikan dan kesehatan, sebab jika pembiaran ini terus berlanjut, angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kabupaten Puncak akan meningkat tajam.

Laporan dan bukti-bukti pelanggaran kemanusiaan ini diterima langsung oleh Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty selaku Ketua Umum PGI. Merespons laporan tersebut, Pdt. Manuputty menyatakan akan segera mempelajari dan menindaklanjutinya sesuai dengan kapasitas gereja.

Ia menegaskan bahwa gereja harus menjadi benteng terakhir bagi Orang Asli Papua (OAP), dan para hamba Tuhan harus fokus mengurus keselamatan manusia Papua tanpa terseret ke dalam arus politik praktis.

Ia juga mengkritik keras realitas di Papua yang selalu diidentikkan dengan eksploitasi tambang emas, sawit, dan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang selalu dibarengi dengan operasi militer. Sikap gereja, menurutnya, sangat jelas bahwa segala bentuk penindasan harus dihapuskan agar umat bisa hidup aman, tenteram, dan damai.

Sebagai langkah advokasi jangka pendek, koalisi sipil bersama PGI sepakat untuk menyurati gereja-gereja di berbagai wilayah agar segera menggalang bantuan logistik berupa pakaian layak pakai, makanan, dan minuman untuk para pengungsi yang kini menderita di kamp-kamp darurat.

Melalui momentum pelaporan ini, Tim Investigasi bersama LBH dan mahasiswa menyampaikan tuntutan keras kepada Pemerintah Pusat agar segera menarik seluruh pasukan militer dari wilayah Kabupaten Puncak.

Mereka juga mendesak pemerintah untuk memecat serta mengadili para pelaku kekerasan secara terbuka di pengadilan, sekaligus bertanggung jawab penuh dalam memulihkan hak-hak dasar warga sipil Papua yang terdampak konflik.

Koalisi sipil berharap PGI dapat menyuarakan tragedi kemanusiaan ini ke dunia internasional agar tabir ketidakadilan di tanah Papua dapat segera dibuka. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

DPM PTSP Mimika Sosialisasikan PP Nomor 28 Tahun 2025 tentang OSS Berbasis Risiko

12 Juni 2026 - 14:45 WIB

IMG 20260612 WA0025

Tragedi Kemburu Berdarah: Kematian Bocah Aliko Walia dan Nestapa Anak Korban Operasi Militer di Puncak Resmi Diadukan ke KPAI Indonesia

12 Juni 2026 - 14:35 WIB

IMG 20260612 WA0023

Polsek Tembagapura Sulap Honai Jadi Kelas Demi Bebaskan Anak-Anak Pedalaman Mimika Dari Buta Aksara

12 Juni 2026 - 14:18 WIB

IMG 20260612 WA0020

Modus Lewat Kargo Udara, Penyelundupan Miras ke Ilaga Digagalkan di Bandara Mozes Kilangin

12 Juni 2026 - 14:11 WIB

IMG 20260612 WA0018

Perkuat Layanan Kesehatan, Dinas Sosial Mimika Salurkan Layanan Kesehatan Dasar di Kwamki

11 Juni 2026 - 10:39 WIB

IMG 20260611 WA0117
Trending di Headline