NABIRE – Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara perlindungan alam, penghormatan terhadap hak-hak masyarakat adat, dan kebutuhan pembangunan daerah dalam pengelolaan Taman Nasional Mamberamo Foja.
Penegasan tersebut disampaikan dalam sambutan tertulis Gubernur Papua Tengah pada kegiatan Sosialisasi Taman Nasional Mamberamo Foja di Provinsi Papua Tengah Tahun 2026, yang berlangsung di Hotel Carmel, Nabire, Selasa (20/10/2026).

Sambutan Gubernur dibacakan oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Asisten II) Sekretariat Daerah Provinsi Papua Tengah, Dr. H. Tumiran, S.Sos., M.A., yang hadir mewakili Gubernur Papua Tengah.
Dalam sambutannya, Meki Nawipa menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Kehutanan, khususnya Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Papua, atas penyelenggaraan kegiatan sosialisasi tersebut.
Menurutnya, pertemuan ini penting untuk membangun pemahaman bersama mengenai pengelolaan kawasan konservasi, sekaligus memastikan kepentingan masyarakat adat dan kebutuhan pembangunan daerah tetap menjadi perhatian.
Gubernur menjelaskan, Taman Nasional Mamberamo Foja memiliki nilai strategis bagi Papua karena menyimpan kekayaan hutan, sungai, keanekaragaman hayati, serta ruang hidup masyarakat adat yang telah dijaga secara turun-temurun.
Karena itu, pengelolaan kawasan tersebut tidak dapat dilakukan hanya dari satu sudut pandang, melainkan membutuhkan keterlibatan pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat adat, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan.
“Pengelolaannya tidak bisa dilakukan hanya dari satu sudut pandang,” demikian penegasan dalam sambutan Gubernur.
Meki Nawipa juga menekankan bahwa perubahan status dari Suaka Margasatwa Mamberamo Foja menjadi Taman Nasional pada Oktober 2024 membawa perubahan dalam pola pengelolaan kawasan. Oleh sebab itu, seluruh pihak perlu memiliki pemahaman yang sama mengenai arah kebijakan dan pengelolaan kawasan ke depan.
Ia menegaskan, upaya konservasi harus berjalan seiring dengan pembangunan daerah. Kebutuhan masyarakat terhadap akses jalan, pendidikan, kesehatan, komunikasi, pengembangan ekonomi, dan pelayanan dasar lainnya tetap perlu diperhatikan dengan tetap menjaga kelestarian alam.
Masyarakat Adat Harus Dilibatkan
Gubernur Papua Tengah menegaskan bahwa masyarakat adat harus menjadi bagian penting dalam setiap proses pengambilan kebijakan terkait pengelolaan Taman Nasional Mamberamo Foja.
Menurutnya, pemerintah dan pengelola kawasan perlu mendengar aspirasi masyarakat serta memahami kearifan lokal, ruang hidup, tempat-tempat sakral, wilayah berkebun, lokasi berburu, dan sumber penghidupan yang selama ini dijaga oleh masyarakat adat.
Ia mengingatkan agar kebijakan yang disusun tidak justru menimbulkan persoalan bagi masyarakat di lapangan. Karena itu, setiap kebijakan perlu dibangun melalui dialog, penggunaan data yang benar, serta pemahaman terhadap kondisi masyarakat yang sebenarnya.
Melalui kegiatan sosialisasi tersebut, Gubernur berharap terbangun kesepahaman mengenai perubahan status dan arah pengelolaan Taman Nasional Mamberamo Foja, penyelarasan rencana pembangunan daerah dengan fungsi perlindungan kawasan, serta komitmen bersama untuk menjaga keanekaragaman hayati dan ruang kelola tradisional masyarakat.
Aspirasi dan kebutuhan masyarakat adat, lanjutnya, harus menjadi perhatian utama dalam proses tersebut.
Sejalan dengan Papua Tengah Emas
Lebih lanjut, Meki Nawipa menyampaikan bahwa pengelolaan Taman Nasional Mamberamo Foja harus sejalan dengan visi Pemerintah Provinsi Papua Tengah, yakni “Mewujudkan Papua Tengah Emas, Adil, Berdaya Saing, Bermartabat, Harmonis, Maju dan Berkelanjutan.”
Ia menegaskan, pembangunan saat ini harus tetap mempertimbangkan keberlangsungan hidup generasi mendatang.
Pemerintah ingin Papua Tengah berkembang, masyarakat semakin sejahtera, serta pembangunan dan investasi berjalan, tanpa mengabaikan kelestarian hutan, perlindungan sungai dan sumber air, maupun penghormatan terhadap hak masyarakat adat.
Gubernur juga berharap kegiatan sosialisasi tersebut tidak berhenti pada pertemuan semata, tetapi dilanjutkan dengan langkah nyata melalui koordinasi berkelanjutan dan komunikasi terbuka antara pemerintah, pengelola kawasan, masyarakat adat, akademisi, serta seluruh pihak yang berkepentingan.
Pada akhir sambutannya, Meki Nawipa menyampaikan terima kasih kepada Balai Besar KSDA Papua, para tokoh adat, pemerintah kabupaten, perangkat daerah, akademisi, dan seluruh peserta yang telah berkontribusi dalam kegiatan tersebut.
Kegiatan Sosialisasi Taman Nasional Mamberamo Foja di Provinsi Papua Tengah Tahun 2026 kemudian secara resmi dibuka oleh Gubernur Papua Tengah melalui sambutan yang dibacakan oleh Asisten II Setda Papua Tengah, Dr. H. Tumiran, S.Sos., M.A. (MB)








