Oleh Laurens Ikinia
Tenaga Ahli Bapak Wilhelmus Pigai/Dosen Hubungan Internasional UKI Jakarta
Kadang-kadang, masa depan sebuah daerah tampak jelas bukan di ruang rapat, melainkan di meja makan bersama anak-anak yang sedang belajar meraih cita-cita. Kesan itulah yang penulis bawa pulang dari MEPA Boarding School, Nabire, Papua Tengah.
Pada Selasa, 13 Oktober 2026, sekitar pukul 12.00 WIT, saat waktu makan siang, penulis berkunjung ke MEPA Boarding School bersama anggota DPD RI dari Provinsi Papua Tengah, Bapak Wilhelmus Pigai, beserta keluarga. Setibanya di sana, kami disambut hangat oleh anak-anak yang sedang menempuh pendidikan, juga oleh bapak dan ibu guru, para pengasuh, pendamping, dan seluruh keluarga besar sekolah.
Suasana makan siang itu terasa akrab. Kami berbincang dan bertanya kepada anak-anak dari mana mereka berasal. Jawaban mereka membawa kami ke daerah-daerah pedalaman Papua Tengah—tempat yang bagi sebagian anak mungkin harus ditempuh melalui perjalanan panjang sebelum mereka dapat belajar di Nabire.
Mendengar cerita mereka dan menyaksikan ketulusan mereka membuat hati kami tersentuh. Rasa haru itu begitu kuat hingga air mata sulit tertahan.
Bagi penulis, perjumpaan tersebut juga menghidupkan kembali kenangan masa kecil di Lembah Baliem. Di antara gunung-gunung dan lembah-lembah, penulis belajar bahwa perjalanan menuju cita-cita kadang berliku, tetapi tetap dapat ditempuh selangkah demi selangkah.
Di hadapan anak-anak itu, penulis melihat lebih dari sekadar para siswa yang sedang makan siang. Penulis melihat anak-anak yang datang membawa harapan, berusaha menuntut ilmu, dan perlahan mempersiapkan diri untuk masa depan.
Suasana kebersamaan mereka mengingatkan penulis pada honai: ruang tempat orang berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga rasa kebersamaan. Seperti suasana itu, sekolah dapat menjadi rumah kedua ketika anak-anak merasa diterima, didampingi, dan diberi ruang untuk bertumbuh.
Mereka mengingatkan penulis pada pengalaman masa kecil: mimpi dapat tumbuh bahkan dari tempat yang jauh dari pusat kota, selama ada kesempatan, pendampingan, dan keyakinan bahwa masa depan layak diperjuangkan.

Suasana saat Anggota DPD RI, Wilhelmus Pigai berama Staf ahli Laurens Ikinia bertemu dengan Deki Degei saat Kunjungi MEPA Boarding School. Selasa, 13 Oktober 2026, di Nabire, Papua Tengah.
Salah satu siswa MEPA Boarding School yang kisahnya telah dikenal luas ialah Deki Degei. Pada peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2026, Deki memimpin upacara di lapangan MEPA Boarding School dengan tegak dan penuh percaya diri. Ia hanya memiliki satu kaki, tetapi kondisi fisiknya tidak menghalanginya untuk menjalankan tugas dengan berani dan disiplin.
Penampilannya menarik perhatian banyak orang, namun makna kisahnya jauh melampaui sebuah peristiwa yang viral.
Deki memiliki cita-cita besar: ia ingin menjadi kepala dinas pendidikan agar anak-anak Papua semakin pintar dan cerdas. Impian itu menunjukkan bahwa ia tidak hanya memikirkan keberhasilan bagi dirinya sendiri. Ia ingin ikut membuka kesempatan bagi generasi sesudahnya.
Saat berdiri di lapangan dan memberi aba-aba kepada peserta upacara, Deki seperti menyampaikan pesan bahwa setiap anak berhak belajar, memimpin, dan mengarahkan langkahnya menuju masa depan.
Kunjungan kami membuat kisah Deki terasa semakin dekat. Ia bukan sosok yang berdiri sendiri dalam sebuah cerita inspiratif, melainkan bagian dari anak-anak yang sedang belajar dan dibina di MEPA BS. Percakapan bersama mereka memperlihatkan betapa berharganya ruang pendidikan yang memberi kesempatan kepada anak-anak dari pedalaman untuk tinggal, belajar, mengembangkan potensi, serta membangun kepercayaan pada kemampuan diri.
Dalam upaya itu, perhatian patut diberikan kepada Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, dan Wakil Gubernur, Deinas Geley. Dukungan terhadap MEPA BS mencerminkan visi untuk menyiapkan generasi muda melalui pendidikan dan sarana pendukung.
Sekolah berasrama tersebut diresmikan pada 2025 melalui kerja sama Pemerintah Provinsi Papua Tengah dan Yayasan Honai Generasi Unggul Papua, dengan tujuan turut mengembangkan sumber daya manusia Papua Tengah.
Penulis menyampaikan salut dan hormat kepada kedua pemimpin tersebut atas visi yang ditanamkan melalui program pendidikan ini. Mempersiapkan calon pemimpin tidak dapat dilakukan dalam semalam. Dibutuhkan keberanian untuk menanam benih, kesabaran untuk merawatnya, dan komitmen agar setiap anak mendapat kesempatan untuk tumbuh.
Pendidikan memungkinkan benih itu berkembang menjadi pengetahuan, disiplin, karakter, dan tanggung jawab kepada sesama. Proses ini mengingatkan penulis pada noken yang dirajut dengan tekun dari helai demi helai: masa depan anak-anak juga dibangun melalui banyak upaya kecil yang saling menguatkan-dari keluarga, guru, pengasuh, masyarakat, dan pemerintah.
Namun, pendidikan yang bermakna tidak berhenti pada bangunan dan fasilitas. Anak-anak juga membutuhkan guru yang membimbing dengan ketulusan, pengasuh yang mendampingi dengan perhatian, serta lingkungan yang aman dan menghargai setiap pribadi.
Kisah Deki mengingatkan kita bahwa siswa penyandang disabilitas perlu memperoleh ruang dan dukungan agar dapat berpartisipasi penuh. Pendidikan inklusif berarti setiap anak diterima, dilibatkan, dan dibantu sesuai kebutuhannya.
Apresiasi kepada pemerintah perlu disertai komitmen menjaga dan memperluas kesempatan belajar. Anak-anak pedalaman berhak memperoleh pendidikan bermutu, mengembangkan bakat, dan membayangkan masa depan.
Jalan pendidikan kadang seperti menuruni lembah lalu mendaki gunung; mereka membutuhkan akses dan pendampingan berkelanjutan. Pemerintah membuka akses, pendidik membimbing, keluarga dan masyarakat menguatkan, sementara anak-anak berjuang meraih cita-cita. Kerja bersama mengubah visi menjadi pengalaman nyata.

Anggota DPD RI Provinsi Papua Tengah, Wilhelmus Pigai, bersama Staf Ahli, Laurens Ikinia, berfoto bersama para siswa-siswi MEPA Boarding School saat melakukan kunjungan pada Selasa, 13 Oktober 2026, di Nabire, Papua Tengah.
Dari kunjungan itu, penulis pulang membawa wajah-wajah tulus dan kenangan masa kecil di Lembah Baliem. Anak-anak MEPA BS adalah calon pemimpin bangsa. Seperti gunung yang menjadi penanda arah, pengalaman belajar membantu mereka menemukan kekuatan dan tujuan untuk kelak membangun daerah serta melayani masyarakat.
Deki Degei menunjukkan keberanian di tengah tantangan, sementara anak-anak MEPA BS mengingatkan kita bahwa kesempatan belajar menyalakan harapan.
Semoga semakin banyak anak pedalaman memperoleh jalan untuk belajar dan meraih cita-cita. Masa depan Tanah Papua dirajut bersama, seperti noken dari helai demi helai: melalui keberanian anak-anak, ketekunan pendidik, serta dukungan keluarga, masyarakat, dan pemerintah.












