NABIRE – Sebanyak 244 siswa kelas XII dari enam kompetensi keahlian di SMK Negeri 2 Teknologi dan Rekayasa Nabire mengikuti pembekalan Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang berlangsung selama dua hari, 29–30 Juni 2026, di lingkungan sekolah yang berlokasi di Jalan Poros Wadio, Kabupaten Nabire, Papua Tengah.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi kebijakan Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan yang mewajibkan peserta didik Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjalani Praktik Kerja Lapangan selama satu semester atau enam bulan sebagai bagian dari Kurikulum Merdeka.

Kepala SMK Negeri 2 Teknologi dan Rekayasa Nabire, Yanuarius Wakei, S.Pd, menjelaskan bahwa pembekalan diberikan sebagai persiapan sebelum para siswa diterjunkan ke dunia usaha dan dunia industri mulai awal Juli 2026.
“Selama dua hari ini kami memberikan pembekalan kepada siswa kelas XII sebelum mereka turun ke lapangan. PKL merupakan program wajib dari Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi yang harus dilaksanakan secara optimal oleh setiap SMK,” ujar Yanuarius saat ditemui awak media, Selasa (30/6/2026).
Ia menjelaskan, sebanyak 244 siswa yang mengikuti PKL berasal dari enam jurusan, yaitu Teknik Konstruksi Perumahan, Teknik Audio Video, Teknik Tenaga Kelistrikan, Teknik Kendaraan Ringan, Bisnis Sepeda Motor, serta Teknik Komputer dan Jaringan.
Menurutnya, mulai Juli hingga enam bulan ke depan para siswa tidak lagi mengikuti kegiatan belajar mengajar di ruang kelas, melainkan melaksanakan praktik langsung di dunia kerja sebagai bagian dari proses pembelajaran.
“Selama satu semester mereka berada di dunia industri untuk memperkuat kompetensi, baik hard skill maupun soft skill yang telah diperoleh di sekolah. Harapannya, setelah lulus mereka lebih siap bekerja, berwirausaha maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,” katanya.
Yanuarius menegaskan bahwa PKL merupakan mata pelajaran wajib dalam Kurikulum Merdeka yang memberikan pengalaman nyata kepada siswa agar mampu memahami budaya kerja, disiplin, serta standar operasional di lingkungan industri.

Ia berharap seluruh peserta PKL dapat menjaga nama baik sekolah selama menjalani praktik di perusahaan maupun tempat usaha yang menjadi mitra sekolah.
“Kami selalu mengingatkan siswa agar disiplin, rajin, mematuhi seluruh SOP di tempat praktik, serta menjaga etika. Jangan sampai melakukan pelanggaran yang dapat merugikan sekolah karena jika satu siswa berbuat kesalahan, perusahaan bisa saja tidak lagi menerima siswa kami pada tahun berikutnya,” tegasnya.
Lebih lanjut, Yanuarius mengakui bahwa tantangan terbesar pelaksanaan PKL di Papua Tengah adalah keterbatasan jumlah dunia usaha dan dunia industri yang dapat menjadi tempat praktik bagi siswa SMK.
Menurutnya, di Kabupaten Nabire terdapat sekitar 18 SMK yang secara bersamaan membutuhkan lokasi PKL, sementara jumlah perusahaan maupun industri yang tersedia masih sangat terbatas.
“Kami berharap dunia usaha dan dunia industri terus membuka kesempatan bagi siswa SMK untuk belajar. Kemitraan ini sangat penting agar lulusan SMK memiliki pengalaman kerja yang memadai dan nantinya dapat diserap sebagai tenaga kerja profesional,” ujarnya.
Melalui program PKL selama enam bulan tersebut, SMK Negeri 2 Teknologi dan Rekayasa Nabire berharap para siswa tidak hanya memperoleh pengalaman kerja secara langsung, tetapi juga mampu meningkatkan kompetensi, karakter, kedisiplinan, serta kesiapan memasuki dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan. (MB)







