Nabire — Kasus malaria di Kabupaten Nabire menunjukkan peningkatan signifikan. Hingga akhir tahun 2025 tercatat sebanyak 8.556 kasus positif, meningkat tajam dibandingkan Desember 2024 yang berjumlah 3.274 kasus positif. Lonjakan ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung (DPMK) Kabupaten Nabire bersama Dinas Kesehatan melaksanakan rapat koordinasi singkat dengan para kepala kampung, yang berlangsung di sela-sela pertemuan resmi di Aula DPMK Nabire Jumat, (6/2/2026).
Kepala DPMK Nabire, Pilemon Madai, menegaskan bahwa penanggulangan malaria harus menjadi prioritas utama di tingkat kampung, mengingat dampaknya yang langsung terhadap kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
“Masalah malaria harus diprioritaskan oleh kampung karena berkaitan langsung dengan kesehatan dan keselamatan masyarakat. Kampung perlu melakukan langkah-langkah perlindungan melalui kegiatan pencegahan yang sederhana namun efektif,” ujar Pilemon.
Ia menekankan pentingnya gerakan bersama masyarakat, seperti membersihkan saluran air dan lingkungan sekitar untuk mencegah terbentuknya genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Anopheles. Selain itu, kampung diharapkan dapat mendukung peran kader kesehatan dalam upaya pencegahan.
Pilemon Madai juga mengungkapkan bahwa terdapat 9 Kampung dengan 6 kelurahan dengan angka kasus malaria tertinggi di Kabupaten Nabire, sehingga diperlukan kolaborasi yang erat antara pemerintah kampung, Dinas Kesehatan, dan Puskesmas guna menurunkan angka kasus.
“Melalui kader dan ketua RT, kampung dapat memantau penggunaan kelambu, memastikan penderita malaria mengonsumsi obat sesuai anjuran tenaga kesehatan, serta melakukan edukasi melalui poster dan spanduk pencegahan malaria. Selain itu, masyarakat perlu digerakkan untuk membersihkan lingkungan dari genangan air,” tambahnya.
Lebih lanjut, kampung didorong untuk mengalokasikan pembiayaan kampung dalam mendukung program eliminasi malaria, antara lain melalui:
pemberantasan jentik nyamuk dengan pengelolaan lingkungan,
penyediaan lotion anti-nyamuk di lokasi aktivitas malam hari,
pelibatan PKK, RT, kader kesehatan, dan kader malaria dalam pemeriksaan dini, pemantauan konsumsi obat, serta penggunaan kelambu.
Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire, Alfred Lambey, menyampaikan bahwa kampung memiliki peran strategis sebagai pilar utama dalam upaya eliminasi malaria.
“Pengendalian malaria bukan semata-mata persoalan angka, tetapi menyangkut aspek kemanusiaan—tentang perlindungan keluarga, khususnya ibu hamil dan bayi,” jelas Alfred.
Menurutnya, paparan malaria pada ibu hamil dan bayi berisiko menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan otak serta fisik bayi, yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko stunting dan gizi buruk.
“Oleh karena itu, dibutuhkan tanggung jawab bersama seluruh elemen, khususnya pemerintah kampung, untuk melindungi kelompok rentan dan menekan angka malaria di Kabupaten Nabire,” tutup Alfred Lambey.
9 kampung dengan kasus positif malaria tinggi adalah Wami Jaya, Sanoba Pantai, Sama busa, Air mandidi, Waroki, Nifasi, Bumi, Biha, Argomulyo dan Bumi raya.
6 kelurahan yang kasus positif malaria tinggi adalah Kalibobo, Nabarua, Siriwini, Wonorejo, Karang mulia dan Girimulyo
Selain kepala Kampung, hadir juga Konsultan Malaria UNICEF untuk timika dan Nabire Yulizar Kasma. (MB)







