NABIRE — Sekolah Tinggi Teologi (STT) Yusuf Makai Nabire menggelar Rapat Senat Terbuka dalam rangka Wisuda Sarjana Strata Satu (S1) Tahun Akademik 2025/2026 di Aula Kelurahan SP1, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah.
Dalam sambutannya, Ketua Sekolah Tinggi Teologi Simpson, Pdt. Dr. Krido Siswanto, MA., M.Th, menyoroti berbagai tantangan yang masih dihadapi pendidikan teologi di Papua, mulai dari kualitas sumber daya manusia, akreditasi, hingga kesejahteraan dosen.
Pdt. Krido menjelaskan, STT Yusuf Makai merupakan salah satu dari 12 Sekolah Tinggi Teologi milik Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII). Meski menjadi STT ke-12 yang berdiri, STT Yusuf Makai telah menempati peringkat keenam secara nasional dalam hal akreditasi, sebuah capaian yang patut diapresiasi.
“Ini prestasi yang luar biasa dan harus didukung oleh semua pihak, baik gereja, wilayah, maupun stakeholder. Tanpa dukungan mahasiswa, tenaga dosen, dan pembiayaan yang memadai, akreditasi bisa terancam,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga dosen-dosen yang telah memiliki NIDN dan jabatan fungsional akademik agar tetap mengabdi di lembaga pendidikan teologi, dan tidak dimutasi ke pelayanan lain oleh struktur gereja.
Menurutnya, salah satu tantangan besar pendidikan teologi di Papua adalah masih rendahnya jumlah dosen yang memiliki jabatan fungsional akademik, serta minimnya kesejahteraan dosen, yang berpotensi mendorong perpindahan sumber daya manusia ke institusi lain.
Selain persoalan kelembagaan, Pdt. Krido menyoroti tantangan kontekstual yang dihadapi teolog Papua di era digital. Ia menekankan pentingnya teologi digital dan ekoteologi, khususnya dalam menjawab isu pelestarian lingkungan hidup di Papua.
“Pelayanan digital kini menjadi medan pengutusan baru. Gereja dan hamba Tuhan harus mampu memberikan edukasi iman, termasuk tentang pelestarian lingkungan, melalui media digital,” katanya.
Ia mendorong STT Yusuf Makai untuk memperkuat kolaborasi dengan gereja dan pemerintah, mengembangkan budaya menulis jurnal dan buku ilmiah, serta mulai mengembangkan pembelajaran berbasis digital dan perkuliahan daring.
Menutup sambutannya, Pdt. Krido mengajak para lulusan STT Yusuf Makai untuk menjawab panggilan pelayanan dengan integritas dan kesiapan total.
“Tuhan masih bertanya, siapa yang akan Kuutus? Kiranya kita menjawab, ini aku, utuslah aku,” pungkasnya.
Wisuda ini menjadi momentum refleksi dan penguatan komitmen STT Yusuf Makai Nabire dalam menjawab tantangan pendidikan teologi di Papua yang semakin kompleks di tengah perkembangan zaman. (MB)






