Menu

Mode Gelap
Teladan Kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono IX Anggota DPD RI Wilhelmus Pigai Salurkan Bantuan Hewan Kurban pada Hari Raya Idul Adha 1447 H untuk Masjid Al-Fattah Bupati Deiyai Ajak Semua Pihak Mengikuti Jumat Bersih di Pasar Waghete Wabup Nabire Apresiasi Peran PKBN, Sebut Kontribusi Etnis Batak Sangat Besar PKBN Nabire Kukuhkan Kepengurusan Baru, Tegaskan Komitmen Jaga Kerukunan di Daerah Mayat Pria Ditemukan di Belakang Grapari Timika, Polisi Dalami Kasus dan Kejar Pelaku

News

Jelang 1 Desember, LP3BH Manokwari Desak Presiden Prabowo Kaji Ulang Pengerahan Pasukan di Papua

adminbadge-check


					Jelang 1 Desember, LP3BH Manokwari Desak Presiden Prabowo Kaji Ulang Pengerahan Pasukan di Papua Perbesar

MANOKWARI – Menjelang peringatan 1 Desember, Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari meminta Pemerintah Pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk mengevaluasi strategi keamanan di Papua. Desakan ini muncul menyusul adanya laporan mengenai peningkatan kehadiran pasukan TNI/Polri di berbagai wilayah, sebuah pola yang diklaim LP3BH terjadi hampir setiap tahun.

​Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari, Yan Christian Warinussy, S.H., menyampaikan bahwa pengerahan pasukan jelang 1 Desember telah menjadi rutinitas tahunan. Ia menilai langkah ini berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan psikologis bagi masyarakat setempat.

​”Kami mendesak Presiden agar memberi arahan sejuk kepada jajaran TNI–Polri. Jangan jadikan tanggal 1 Desember sebagai momen jahat untuk menakut-nakuti rakyat Papua,” ujar Warinussy. Sabtu, (29/11/2025).

Warinussy juga menyoroti aspek alokasi sumber daya dalam kebijakan keamanan ini. Menurutnya, penambahan pasukan yang terjadi menjelang 1 Desember memerlukan anggaran yang signifikan.

​Ia berpandangan bahwa anggaran besar tersebut akan lebih bermanfaat jika dialihkan untuk mendukung kesejahteraan dan pembangunan ekonomi masyarakat Papua.

​LP3BH mempertanyakan apakah situasi keamanan menjelang 1 Desember memang memerlukan peningkatan kehadiran militer yang masif.

​”Apakah 1 Desember masyarakat Papua membangkang? Kan tidak,” kata Warinussy, menekankan bahwa penyelesaian masalah di Papua dapat diupayakan melalui pendekatan yang lebih damai dan “yang baik.”

​Ia juga mengingatkan bahwa narasi yang mengaitkan 1 Desember dengan ancaman keamanan berpotensi mendistorsi sejarah. LP3BH menegaskan bahwa peristiwa pengibaran Bendera Bintang Fajar pada 1 Desember 1961 dilakukan atas persetujuan Pemerintah Kerajaan Belanda, dan bukan merupakan deklarasi proklamasi kemerdekaan.

​Warinussy berharap pemerintah menghindari pembentukan framing yang dapat memicu perpecahan dan dapat kembali memprioritaskan rasa aman dan damai bagi warga negara di Papua.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Apresiasi Penindakan Miras dan Narkoba, Ketua Fraksi Golkar Mimika Minta Perketat Pengawasan di Pelabuhan dan Perda Ditegakkan Tegas

16 Juni 2026 - 13:06 WIB

20260615

Ribuan Warga Mimika Ramaikan Pawai Ta’aruf Sambut Tahun Baru Islam 1448 H

16 Juni 2026 - 06:26 WIB

IMG 20260616 WA0021

DAPUR ADALAH KUNCI: Moderasi Beragama Harus Berujung di Meja Makan 

16 Juni 2026 - 03:52 WIB

IMG 20260616 WA0133

BPPKAD Papua Tengah: Dana Otsus Sudah Dialokasikan dan Ditransfer ke Pemerintah Daerah

16 Juni 2026 - 02:56 WIB

IMG 20260616 WA0121

Lepas Jalan Santai 1 Muharram 1448 H, Simon Mote Ajak Masyarakat Perkuat Iman dan Kebersamaan

16 Juni 2026 - 02:52 WIB

IMG 20260616 WA0109
Trending di Headline