NABIRE — Ketua Departemen Pemuda Nasional Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII), Pdt. Dedi Sutiadi, M.Th., menyampaikan apresiasi mendalam terhadap semangat dan kebersamaan yang ditunjukkan oleh para peserta dalam kegiatan Retreat Akbar Pemuda GKII Wilayah III Papua Tengah, yang berlangsung di Jemaat Karmel Bomoupai, Klasis Kegata, pada 7–10 Oktober 2025.
Dalam refleksi dan pesannya kepada para pemuda, Pdt. Dedi menegaskan bahwa apa yang terjadi di wilayah Papua Tengah merupakan tanda nyata kebangkitan generasi muda gereja.
“Kesan saya yang pertama adalah semangat dan kebersamaan pemuda dalam event ini yang luar biasa. Saya sudah 10 tahun melayani di berbagai kegiatan pemuda, tapi apa yang saya lihat di sini sangat berbeda. Ada sukacita dan kesatuan yang tulus,” ujarnya di hadapan ratusan peserta.
Dalam kesempatan itu, Pdt. Dedi juga menyoroti keterlibatan orang tua, tokoh gereja, dan para pelayan dalam mendukung kegiatan rohani bagi generasi muda. Menurutnya, kehadiran orang tua dan pemimpin gereja di tengah kegiatan pemuda menjadi tanda bahwa gereja sedang membangun sinergi lintas generasi.
“Banyak mama, bapak, dan orang tua yang hadir di sini. Ini luar biasa. Artinya, gereja sedang berjalan bersama. Tidak mungkin pemuda berhasil tanpa dukungan orang tua dan para pemimpin rohani,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan gerakan pemuda gereja tidak dapat dilepaskan dari peran para stakeholder, baik dari tingkat sinode, wilayah, klasis, hingga jemaat lokal. Dukungan inilah yang, menurutnya, menjadi fondasi utama dalam membangkitkan pelayanan generasi muda di GKII.
Dalam arahannya, Pdt. Dedi juga mengingatkan bahwa kegiatan besar seperti retreat penting untuk membangun iman dan kebersamaan, namun lebih dari itu, gereja perlu fokus pada pembinaan karakter dan pelatihan kepemimpinan (leadership training) bagi para pemuda.
“Acara besar seperti ini sangat baik, tapi yang paling penting adalah bagaimana kita membangun momentum pembinaan. Kita perlu memperlengkapi pemuda dengan skill, wawasan, dan paradigma pelayanan yang benar,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa di tengah tantangan zaman yang semakin berat, pemuda gereja harus disiapkan menjadi generasi yang tangguh, bijaksana, dan memiliki dasar iman yang kuat.
Menutup pesannya, Pdt. Dedi mengajak seluruh peserta retreat untuk menjadikan pengalaman rohani ini sebagai momen refleksi pribadi dan komitmen pelayanan di gereja masing-masing.
“Lewat persekutuan ini, kita datang dari tempat yang jauh, kita menikmati hadirat Tuhan. Tapi setelah pulang, mari kita evaluasi diri — sudah sejauh apa kita bertumbuh, dan bagaimana kita bisa menjadi jawaban bagi gereja serta masyarakat,” katanya.
Ia menegaskan bahwa esensi dari setiap kegiatan rohani bukan hanya pada kemeriahan acaranya, tetapi pada perubahan hati dan semangat untuk kembali melayani.
“Yang penting bukan banyaknya kegiatan, tetapi makna dari setiap peristiwa. Setelah pulang, jadikan diri kita berkat bagi gereja dan sesama,” tutupnya.
Kehadiran Pdt. Dedi Sutiadi dalam Retreat Akbar Pemuda GKII Wilayah III Papua Tengah menjadi penegasan bahwa gerakan pemuda GKII di Tanah Papua sedang mengalami kebangkitan rohani. Dukungan dari berbagai pihak mulai dari pemerintah daerah, gereja, hingga orang tua menjadi bukti nyata bahwa generasi muda GKII siap melangkah maju, berakar dalam Kristus, dan melayani dengan semangat baru. (MB)






