Menu

Mode Gelap
Komite IV DPD RI Siapkan Uji Kelayakan dan Kepatutan 23 Calon Anggota BPK Periode 2026–2031 Anggota BULD DPD RI Wilhelmus Pigai Soroti Pemerataan Pendidikan di Papua Wilhelmus Pigai: APBN 2027 Harus Berdampak Nyata bagi Masyarakat Daerah HUT ke-81 MPR-DPR, DPD Dorong Parlemen Perkuat Kolaborasi dan Aspirasi Rakyat IKB PMKJ Jabodetabek Tempa Generasi Muda Jayawijaya Jadi Calon Pemimpin Papua Wilhelmus Pigai Serahkan Hadiah Quiz HUT ke-81 RI untuk Pelajar hingga Mahasiswa

News

Kemenag Dorong Percepatan Pembangunan Papua Berbasis Ekoteologi

adminbadge-check


					Kemenag Dorong Percepatan Pembangunan Papua Berbasis Ekoteologi Perbesar

JAKARTA – Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa percepatan pembangunan di Papua harus berjalan seimbang antara aspek fisik dan spiritual. Hal itu disampaikannya saat menerima kunjungan Gubernur Papua Barat Daya, Wakil Gubernur Papua Barat, serta jajaran pemerintah daerah dan perwakilan Kanwil Kemenag Papua Barat di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Senin (25/8/2025).

Menag menegaskan komitmen Kementerian Agama dalam menghadirkan kesetaraan akses pembangunan bagi seluruh masyarakat Papua, termasuk penyediaan fasilitas layanan lintas agama.

“Akselerasi pembangunan di Papua, baik fisik maupun spiritual, harus berjalan paralel. Pencanangan penanaman satu juta pohon matoa sebagai simbol ekoteologi juga merupakan wujud keseriusan Kementerian Agama dalam menyetarakan akses pembangunan di Papua,” ujar Menag.

Menurutnya, pembangunan spiritual tidak kalah penting dari pembangunan infrastruktur. Papua yang kaya keragaman agama dan budaya membutuhkan ruang pembinaan rohani, pendidikan keagamaan, serta forum dialog antarumat beragama agar masyarakat dapat hidup rukun, saling menghargai, dan terhindar dari konflik.

“Pembangunan spiritual hadir melalui peningkatan kualitas pendidikan keagamaan, penguatan moderasi beragama, dan pembinaan generasi muda Papua agar tumbuh menjadi pribadi religius, toleran, dan cinta damai. Dengan begitu, Papua tidak hanya maju infrastrukturnya, tetapi juga kuat jiwanya,” jelasnya.

Lebih lanjut, Menag menjelaskan alasan dipilihnya pohon matoa sebagai simbol ekoteologi. Pohon khas Papua itu dianggap sarat makna, mulai dari akar yang kokoh, batang besar, hingga daun rimbun yang memberi keteduhan.

“Akarnya tertancap kuat sehingga tak mudah tumbang diterpa angin. Batangnya besar dan daunnya lebat, sehingga bisa menjadi tempat anak-anak bermain di bawahnya,” tambahnya.

Selain menyoroti pembangunan fisik dan lingkungan, Menag juga menekankan pentingnya penyelesaian persoalan diskriminasi dan konflik antarumat beragama yang masih terjadi di Papua.

“Banyak konflik dipicu ketidakadilan dan kesalahpahaman. Persoalan ini tidak mungkin selesai jika kita tidak menyentuh akar masalahnya,” tegasnya.

Pertemuan tersebut menjadi momentum memperkuat sinergi antara Kementerian Agama dengan pemerintah daerah Papua Barat dan Papua Barat Daya. Menag berharap kolaborasi ini dapat mempercepat pemerataan pembangunan, baik dari sisi infrastruktur maupun penguatan nilai-nilai spiritual masyarakat Papua.

 

 

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Polisi Selidiki Penyebab Kebakaran Pasar Bapouda, 11 Orang Meninggal Dunia

9 September 2026 - 01:34 WIB

IMG 20260909 WA0002

Polres Mimika Peringati Hari Jadi Polwan ke-78, Kapolres Tekankan Etika dan Dedikasi

9 September 2026 - 01:21 WIB

IMG 20260908 WA0045

Kasat Polairud: Tidak Ada Illegal Fishing, Namun Nelayan Lokal Kerap Dibajak

9 September 2026 - 01:10 WIB

IMG 20260908 WA0031

Polairud Polres Mimika Rutin Patroli Pesisir, Jangkauan Akan Diperluas hingga Amar

8 September 2026 - 07:33 WIB

IMG 20260908 WA0031

Beberapa Hari Tak Ada Kabar, Seorang Karyawan Ditemukan Meninggal di Timika

8 September 2026 - 07:29 WIB

IMG 20260908 WA0030
Trending di Headline