Menu

Mode Gelap
Bupati Deiyai Ajak Semua Pihak Mengikuti Jumat Bersih di Pasar Waghete Wabup Nabire Apresiasi Peran PKBN, Sebut Kontribusi Etnis Batak Sangat Besar PKBN Nabire Kukuhkan Kepengurusan Baru, Tegaskan Komitmen Jaga Kerukunan di Daerah Mayat Pria Ditemukan di Belakang Grapari Timika, Polisi Dalami Kasus dan Kejar Pelaku Masyarakat Paniai Berdomisili Mimika Mendukung Daerah Otonom Kabupaten Moni, Mengecam Aksi Protes Piyos News Rayakan HUT ke-2, Perkuat Peran dari Papua Tengah hingga Nasional

Headline

Anggota DPR Papua Tengah Soroti Mahal dan Penyalahgunaan Tiket Pesawat Subsidi di Intan Jaya

Etty Welerbadge-check


					Anggota DPR Papua Tengah Soroti Mahal dan Penyalahgunaan Tiket Pesawat Subsidi di Intan Jaya Perbesar

NABIRE – Anggota DPRD Provinsi Papua Tengah dari Daerah Pemilihan (Dapil) Intan Jaya, Henes Sondegau, menyoroti mahalnya harga tiket pesawat di rute perintis wilayah pegunungan Papua, termasuk Nabire–Intan Jaya, Timika–Intan Jaya, Timika–Puncak, dan Nabire–Puncak.

Menurut Henes, masyarakat tidak bisa lagi membedakan antara tiket pesawat subsidi dari pemerintah pusat dan tiket penerbangan umum.

“Sekarang mereka samakan semua. Akhirnya yang menanggung beban adalah masyarakat kecil,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (15/8/2025).

Ia mengungkapkan, dari jatah 30 tiket subsidi per bulan, seringkali hanya lima tiket yang dijual sesuai ketentuan, sementara sisanya dikuasai oknum agen dan calo untuk dijual kembali dengan harga Rp3 juta hingga Rp3,5 juta. Hasil penjualan kemudian dibagi antara oknum tersebut dan calo.

“Selama ini tiket justru berulang kali dibeli oleh orang yang sama untuk dijadikan bisnis. Karena itu saya minta di setiap bandara ditempatkan petugas dari daerah asal penumpang supaya benar-benar tahu siapa yang berhak,” tegas Henes.

Ia juga menyoroti status kepemilikan bandara perintis di wilayah pegunungan yang sebagian masih menjadi hak ulayat masyarakat, seperti Bandara Bilogai di Intan Jaya yang lahannya diserahkan ke pihak misi gereja Katolik dan belum sepenuhnya menjadi milik pemerintah.

Henes menegaskan, pengelolaan transportasi udara sudah masuk dalam visi-misi Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Tengah, sehingga pemerintah provinsi harus segera mengambil langkah tegas.

“Enam kabupaten di provinsi ini berada di wilayah pegunungan dan sangat bergantung pada jalur udara. Ini masalah mendesak,” katanya.

Ia mengaku telah berkoordinasi dengan DPR RI dan Kementerian Perhubungan, yang menyebutkan bahwa subsidi penerbangan untuk Intan Jaya mencapai Rp23 miliar per tahun. Namun, jumlah ini masih belum mencukupi kebutuhan.

Komisi IV DPR Papua Tengah berencana memanggil kepala bandara dan pihak maskapai untuk membahas persoalan ini. Henes juga mengkritik DPRD Kabupaten Intan Jaya yang dinilai pasif.

“Subsidi ini diperuntukkan bagi masyarakat, bukan untuk pejabat yang menyewa pesawat kontrak. Pesawat subsidi bisa terbang puluhan kali, tapi sebagian besar kursinya tidak sampai ke masyarakat yang berhak,” pungkasnya. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

TMMD Kodim 1710/Mimika Mulai Kerjakan Sumur Bor untuk MCK Umum Gereja Santo Klemenst

14 Mei 2026 - 15:08 WIB

IMG 20260513 WA0041

Apresiasi Rakoor Percepatan Pembangunan Papua, Bupati Intan Jaya Soroti Anggaran dan Daerah Konflik 

14 Mei 2026 - 14:43 WIB

20260512

IPMAPAN Sorong Resmi Bentuk Panitia PAB dan HUT Ke-I, Usung Semangat “Bersatu, Bergerak, Maju Bersama”

14 Mei 2026 - 14:19 WIB

IMG 20260513 WA0034

Kenaikan Yesus Kristus 2026, Menag Ajak Umat Perkuat Harmoni dan Semangat Kebersamaan

14 Mei 2026 - 14:08 WIB

IMG 20260514 WA0014

Kakanwil Kemenag Papua Lantik 44 Pejabat Pengawas, Tegaskan ASN Siap Ditempatkan di Seluruh Wilayah Papua dan DOB

14 Mei 2026 - 14:04 WIB

IMG 20260514 230348
Trending di Headline