Menu

Mode Gelap
Gubernur Papua Tengah Tetapkan BOSDA Pendidikan Gratis Tahun 2026, Ribuan Siswa Jadi Penerima Manfaat Bupati Yampit Nawipa, Kabupaten Paniai Raih Peringkat I Kinerja Penyaluran Dana Desa Terbaik di Papua Tengah Dinas Pendidikan Kabupaten Deiyai Imbau SMP dan SMA Terapkan Kebijakan Pendidikan Gratis Teladan Kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono IX Anggota DPD RI Wilhelmus Pigai Salurkan Bantuan Hewan Kurban pada Hari Raya Idul Adha 1447 H untuk Masjid Al-Fattah Bupati Deiyai Ajak Semua Pihak Mengikuti Jumat Bersih di Pasar Waghete

Headline

Anggota DPR Papua Tengah Soroti Mahal dan Penyalahgunaan Tiket Pesawat Subsidi di Intan Jaya

Etty Welerbadge-check


					Anggota DPR Papua Tengah Soroti Mahal dan Penyalahgunaan Tiket Pesawat Subsidi di Intan Jaya Perbesar

NABIRE – Anggota DPRD Provinsi Papua Tengah dari Daerah Pemilihan (Dapil) Intan Jaya, Henes Sondegau, menyoroti mahalnya harga tiket pesawat di rute perintis wilayah pegunungan Papua, termasuk Nabire–Intan Jaya, Timika–Intan Jaya, Timika–Puncak, dan Nabire–Puncak.

Menurut Henes, masyarakat tidak bisa lagi membedakan antara tiket pesawat subsidi dari pemerintah pusat dan tiket penerbangan umum.

“Sekarang mereka samakan semua. Akhirnya yang menanggung beban adalah masyarakat kecil,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (15/8/2025).

Ia mengungkapkan, dari jatah 30 tiket subsidi per bulan, seringkali hanya lima tiket yang dijual sesuai ketentuan, sementara sisanya dikuasai oknum agen dan calo untuk dijual kembali dengan harga Rp3 juta hingga Rp3,5 juta. Hasil penjualan kemudian dibagi antara oknum tersebut dan calo.

“Selama ini tiket justru berulang kali dibeli oleh orang yang sama untuk dijadikan bisnis. Karena itu saya minta di setiap bandara ditempatkan petugas dari daerah asal penumpang supaya benar-benar tahu siapa yang berhak,” tegas Henes.

Ia juga menyoroti status kepemilikan bandara perintis di wilayah pegunungan yang sebagian masih menjadi hak ulayat masyarakat, seperti Bandara Bilogai di Intan Jaya yang lahannya diserahkan ke pihak misi gereja Katolik dan belum sepenuhnya menjadi milik pemerintah.

Henes menegaskan, pengelolaan transportasi udara sudah masuk dalam visi-misi Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Tengah, sehingga pemerintah provinsi harus segera mengambil langkah tegas.

“Enam kabupaten di provinsi ini berada di wilayah pegunungan dan sangat bergantung pada jalur udara. Ini masalah mendesak,” katanya.

Ia mengaku telah berkoordinasi dengan DPR RI dan Kementerian Perhubungan, yang menyebutkan bahwa subsidi penerbangan untuk Intan Jaya mencapai Rp23 miliar per tahun. Namun, jumlah ini masih belum mencukupi kebutuhan.

Komisi IV DPR Papua Tengah berencana memanggil kepala bandara dan pihak maskapai untuk membahas persoalan ini. Henes juga mengkritik DPRD Kabupaten Intan Jaya yang dinilai pasif.

“Subsidi ini diperuntukkan bagi masyarakat, bukan untuk pejabat yang menyewa pesawat kontrak. Pesawat subsidi bisa terbang puluhan kali, tapi sebagian besar kursinya tidak sampai ke masyarakat yang berhak,” pungkasnya. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Di Nabire, Panitia Reuni Sahabat 06 Se‑Papua Tengah Resmi Dikukuhkan

19 Juni 2026 - 09:49 WIB

IMG 20260619 WA0072

Pemkab Mimika Perkuat Sistem Perizinan Tenaga Kesehatan Lewat Sinkronisasi Data SIP dan Satu Sehat

19 Juni 2026 - 09:41 WIB

IMG 20260619 WA0071

GPDP Klasis Mimika Gelar Sidang Klasis VI, Tegaskan Gereja Harus Tangguh, Profesional, dan Relevan di Tanah Papua

19 Juni 2026 - 09:37 WIB

IMG 20260619 WA0069

Dinsos Deiyai Gelar Musyawarah Desa, Perkuat Verifikasi dan Validasi Data Kesejahteraan Sosial

19 Juni 2026 - 09:29 WIB

IMG 20260618 WA0023

Dinsos Deiyai Salurkan 1.000 Selimut dan Kelambu untuk Kelompok Rentan Melalui Dana Otsus

19 Juni 2026 - 09:26 WIB

IMG 20260619 WA0025
Trending di Headline