Jakarta – Ketua DPD RI, Sultan B Najamudin, didampingi Wakil Ketua Yorrys Raweyai, menerima kunjungan resmi Menteri Luar Negeri Belarusia, Maxim Ryzhenkov, di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (5/8). Kunjungan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan bilateral antara Indonesia dan Belarusia, khususnya dalam bidang pertanian dan upaya mendorong perdamaian global.
“Pertemuan ini membahas berbagai potensi besar kerja sama antar kedua negara. Salah satunya yang sangat menjanjikan adalah di bidang pertanian,” ujar Sultan usai pertemuan.
Sultan menjelaskan bahwa Menlu Belarusia sebelumnya juga telah bertemu dengan Menteri Pertanian RI, Amran Sulaiman. Namun, Ryzhenkov menegaskan bahwa kerja sama tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan dari parlemen. Karena itu, dirinya menyambut baik pertemuan lintas lembaga, termasuk dengan DPD RI.
“Kami melihat keseriusan mereka, dan tentu kami dari parlemen mendorong agar kerja sama ini terus ditingkatkan. Kita juga membutuhkan pengalaman mereka, karena potensi pertanian Belarusia sangat besar dan modern,” ucap Sultan.
Menurut Sultan, kerja sama tersebut bisa diperluas hingga ke daerah-daerah di Indonesia. Setiap daerah memiliki potensi unik yang bisa dikembangkan bersama Belarusia. DPD RI pun mendorong dibuatnya desain kerja sama yang lebih konkret agar selaras dengan program prioritas nasional, termasuk mendukung visi besar pembangunan pemerintah.
“Kerja sama ini tidak hanya untuk pusat, tapi juga bisa menjangkau daerah. Kita ingin desain kerja sama yang bisa menopang program Asta Cita pemerintah, terutama dalam ketahanan pangan dan penguatan ekonomi daerah,” tambahnya.
Dalam pertemuan tersebut, Sultan juga menyampaikan keprihatinannya terhadap konflik Rusia-Ukraina yang masih berlangsung. Ia menitipkan pesan kepada Menlu Belarusia agar turut mengambil peran dalam meredakan ketegangan perang tersebut.
“Sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Rusia, kami berharap Belarusia bisa menjadi jembatan damai untuk mereduksi tensi perang. Menurut mereka, perang tidak menguntungkan siapa pun, dan mereka sendiri terdampak secara langsung. Mereka yakin, konflik ini bisa diselesaikan,” pungkas Sultan.








